Catatan Perjalanan, Timpah-Palangkaraya (4/5)

 

Mungkin inilah rute terpanjang yang kami lewati setelah sebelumnya. Jalan terasa hanya milik kami berempat. Saya telah merampungkan tugas di Kota Buntok, kami menuju Palangkaraya yang dibuka dengan jembatan dan aspal mulus yang sempit.

Jika disandingkan, suasana ini mirip sekali jalur Sungai Gampa menuju Marabahan. Itu pada awalnya. Kita tak pernah tahu bagaimana suasana jalan di tengah-tengahnya.

Tidak ada kesempatan saya membuka google maps. Setelah disadari, posisi kami jauh sekali dari pemukiman. Dan ini bukan hutan rimbun. Melainkan hutan kering dan rawa. Sedikit gersang. Di pertengahan jalan banyak sekali saya lihat pepohonan hitam kering yang menjulang tinggi dibandingkan tanaman di sekelilingnya. Pemandangan di sekitar kami selalu berubah-rubah setiap 1 sampai 2 Km jauhnya.

Melaju dengan tenangnya, stay control. Hanya ada beberapa buah sepeda motor dan mobil saja yang melintas berlawanan arah atau mengejar dari belakang. Boleh dibilang, jalan raya ini sepi sekali. Sangat sepi. (Flashback ke catatan pertama, saya banyak sekali berfoto di atas motor ketika ini, karena tidak sempat memostingnya, saya kehilangan file foto tersebut).

Sejauh mata memandang, sejauh itu pula lah jalan yang terlihat di depan. Kadang kami mendapati tugu-tugu perbatasan wilayah kabupaten. Keluarlah kami dari Barito Timur, kini memasuki Kabupaten Barito Selatan.

Dear pembaca budiman, pernahkah kalian mendengar salah satu lirik lagu dari grup music bernamakan Payung Teduh.

Parararara.. Parararara.. Parararara… Pararara…

Parararara.. Parararara.. Huuuu…uuu….

Aku ingin berjalan bersamamu dalam hujan dan malam gelap

Tapi aku tak bisa melihat matamu

Aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur

Aku ingin berdua denganmu tapi aku hanya melihat keresahanmu

Parararara.. Parararara.. Parararara… Pararara…

Parararara.. Parararara.. Huuu.. Huuu…

Aku menunggu dengan sabar di atas sini melayang-layang

Tergoyang angin menantikan tubuh itu.

Di mana relasinya? Tidak ada. Hanya saja, ketika membaca salah satu plang penunjuk arah dari Dinas Perhubungan, saya mendapati Desa Bernama Pararapak. Mirip kan?

Screenshot_2016-07-20-20-48-06_com.google.android.apps.maps (1)

Pararapak adalah sebuah desa yang termasuk dalam Kecamatan Dusun Selatan, Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Dari jalan raya saja, Desa ini nampak sepi sekali. Mungkin penduduknya hanya beberapa puluh ribu saja. Saking penasarannya setelah di kota, saya mencari tahu tentang desa ini.

Hanya numpang lewat. Tidak ada persinggahan yang layak di Desa ini. Kami terus melanjutkan perjalanan. Suasana udara yang nyaman dan matahari yang menyapa lembut di sebelah barat membawa perjalanan begitu menyenangkan. Dengan beberapa tikungan lembayung terasa asik sekali.

lirikkirikananblogspot

by net. lirik iri kanan blogspot.

Ada sebuah tikungan tajam ke sebelah kiri yang mengagetkan kami. Seorang rider muda dengan Jupiter MX berwarna biru menikung seperti pembalap dari arah berlawanan (ngajak bersaing). Lagaknya sudah seperti Komeng dalam iklannya. Untunglah Bungker sebagai rider sigap ketika ini.

Sejenak kita tinggalkan Desa Pararapak dengan lirik lagunya. Perjalanan berlanjut dengan aspal yang tenang namun bergelombang. Aspal yang berbatu-batu dan berpasir putih. Aspal yang masih setengah jadi. Sampai-sampai aspal yang masih dalam pengerjaan. Ya, kami menemui proyek pengaspalan di tengah jalan ini. Pemandangan yang sangat asing dan sangat jauh dari keramaian. Gersang. Dan lagi, saya tak sempat memotonya walau sempat terpikirkan.

Kemudian kami mendapati plang dengan nama yang terasa akrab para penggemar Anime. Adalah Desa Madara, salah satu desa di wilayah kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah. Saya bilang, penggemar Naruto pasi tahu ini. Kami putuskan untuk berhenti dan berfoto di depan plang. Sekaligus isitrahat.

Screenshot_2016-07-19-20-02-28_com.instagram.android

Pepohonan rindang menuju kegelapan seperti tampak di hadapan. Wajah matahari tinggal lagi setengahnya. Sebentar lagi Matahari tenggelam penuh. Kami sama sekali tidak melihat adanya penerangan jalan umum. Tiang dan kabel-kabelnya saja tidak ada.

Saya ingat angka digital pada arloji menunjukkan angka 18.05. Setelah beberapa kali melihat rumah-rumah berjejer lenggang, beserta rumah makan dan bis kota yang lewat, juga deretan kios menjual keperluan dan premium eceran, kami memasuki desa yang bernama Timpah.

“Bagaimana kalau kita mengopi sebentar?”

Tanyaku dengan jawaban yang dikembalikan “Terserah pian aja”. Kami berhenti di salah satu kios yang juga warung kopi. Membuka tangki bensin dan mengisi masing-masing dua liter. Dan saat membayar, baru kuketahui 1 liternya seharga Rp.9.000. Wajar, kan di tengah hutan. Check Point 5.

Screenshot_2016-07-19-20-02-21_com.instagram.android

Kami menunggu matahari tenggelam penuh di sini dengan berbagai obrolan. Sebagai tanda agar para follower mengetahui saya sedang berada di mana, maka saya sempatkan berfoto dan memostingnya walau sudah mengetahui suasana alam mulai gelap. Check Point 5. Ini adalah tempat peristirahatan.

Ada seorang paruh baya yang membeli rokok di kios ini. Dia menyempatkan bertanya saat melihat penampilan kami berempat.

“Dari mana, De?”

“Tamiyang Layang. Ke Palangka. Apa masih jauh , Pak?”

“Ya sekitar 80 Km lebih lah,”

“Mungkin 2 jam perjalanan, ya?”

“Buat saya ya 1 jam saja sudah nyampe.” (Bapak ini menggunakan Kawasaki KLX).

“Di perjalanan lumayan terang, kan, Pak?”

“Ya gelap lah. Mana ada lampu jalan.” Jawabnya sembari menutup pembicaraan. Kami menguncapkan terima kasih dan ia mulai melaju dengan trailnya.

Obol memaparkan, perkiraan kami sampai ke pusat kota Palangkaraya sepaling cepat pukul 21.00. Itu juga paling cepat. Kini suasana alam sudah mengaru biru. Biru dalam artian sebenarnya.

Screenshot_2016-07-18-00-52-59_com.google.android.apps.maps

Usai memantapkan niat. Kami memulai perjalanan. Saya sebagai rider. Dear pembaca, saya rasa kios barusan yang kami singgahi adalah penghujung kampung. Selanjutnya gelap, tak ada lagi rumah berpenghuni. Saya tak sadar, lebih tepatnya tidak melihat apakah ada gubuk atau rumah lagi, karena sudah tidak ada lagi cahaya selain lampu depan dan belakang motor kami. Bahkan garis putih pada jalanan pun tak terlihat.

Perjalanan sudah sangat jauh. Jauh sekali. Terasa sangat dalam, entahlah, seperti ke dalam goa kesannya. Beberapa kali ada mobil dengan cepat melewati kami. Beberapa kali juga jembatan demi jembatan kami libas. Ada juga beberapa pengendara tanpa helm yang membawa kayu kami lewat. Lagi, tanpa penerangan sama sekali.

Berdasarkan efek saya sehari yang lalu, kemungkinan kantuk akan menyerang saya sekitar setengah jam lagi. Sembari tetap berkonsentrasi, saya sadari duduk Bungker tampak menjauh di belakang saya. Saya tepuk, dan berusaha seperti mengangkapnya. Prasangka, mungkin dia yang sempat tertidur. Dan sadar kembali bahwa sedang dalam perjalanan mencekam.

Tiba-tiba di pertengahan jalan, saat kecepatan sedang digeber, sekelibat kami melihat 2 orang pejalan kaki yang satunya mendorong sebuah motor Suzuki Satria F150 di sebelah kiri.

Saya dan bungker tampak sepemikiran. Memperlahankan maju motor. Dan memutuskan untuk kembali mendatangi dua orang tadi. Kasihan sekali dia, saya bergumam. Hanya ada dua kemungkinan, musibah bocor ban, atau kehabisan bensin. Bagaimana jika posisi tersebut menimpa pada kami?

“Kenapa?”.

“Habis minyak,” sahutnya.

“Ya sudah. Buat, aku dorong,” jawab saya sok kuat.

Ternyata, mendorong motor mogok yang ditunggangi 2 orang itu berat sekali. Mungkin belum 1 Km perjalanan 50km di tengah gelap malam, kaki kiri saya di pedal belakang terasa sangat nyeri. Sudahlah, saya putuskan bertukar joki saja.

Bungker ambil alih kemudi. Sembari saya menyeimbangkan di belakang. Saya menaruh kepercayaan penuh di sosok badan tegap layaknya prajurit ini. Jauh sekali ini. Membayangkannya mendorong motor itu sampai mendapati kios yang berjualan bensin, dan tanpa penerangan jalan sekali pun.

Proses itu memakan waktu kurang lebih 40 menit. Sampai kami mendapati kios berjualan bensin di pinggir sebelah kiri. Semoga ini kampung pembuka dari kampung-kampung berikutnya. Lumayan ada penerang di pinggir-pinggir jalan, kan.

“Mau di isi berapa liter?” Tanya saya.

“2,” jawabnya.

Saya melihat mimik ragu di wajahnya. Sangat tidak meyakinkan. Sedangkan satu kawannya lagi mengobrak-abrik ranselnya. Seperti mencari sesuatu yang memang tidak ada.

Saya berikan selembar uang yang tidak banyak.

“Ini untuk tambahan, semoga cukup,” ucap saya menyerahkan sembari berpesan agar hati-hati di jalan berikutnya. Kami berangkat meninggalkan paman yang menuangkan bensin di tangki mereka. Tak lupa ucapan terima kasih yang terdengar sayup tampak malu.

Ada beberapa obrolan yang terjadi sebelum, seperti pertanyaan perkenalan dan pertanyaan dari mana. Saya dan Bungker membicarakan hal yang sama. Motor termaksud memang bernopol DA. Tentu sama dari daerah kami berasal. Namun penampilan mereka bukan musafir dari luar daerah. Benar saja, keduanya mengaku dari desa yang tak jauh dari Timpah, pergi berangkat bekerja dan pulang dalam sehari saja.

Secara pribadi, tidak mungkin sebagai penduduk setempat tidak memperhitungkan jumlah bahan bakar yang mereka perlukan dalam sekali pulang dan pergi. Dan saya berprasangka kuat mereka memang sedang kehabisan uang. Terlepas prasangka itu mendekati kebenaran, Wallahualam.

“Tinggal berapa jam perjalanan lagi?”

“Ya tak jauh, setengah jam mungkin,”

“Sedikit lagi,”

Kami melaju dengan tenang. Sembari mengobrol beberapa. Kampung demi kampung belampu redup terlewati. Sampai kami mendapati plang besar penunjuk jalan yang bertuliskan Palangkaraya 45km. Kamu melaju berharap mendapati lampu-lampu perkotaan.

Sampai pada persimpangan tanpa penunjuk arah. Saya dan bungker berhenti di depan SPBU yang tututp menunggu Obol dan Haji Udin yang tertinggal jauh. Sembari membenarkan selangkangan, turun dari motor berganti joki lagi untuk merenggangkan otot-otot pinggang yang tegang.

Kami bertemu. “Masih jauh?”. “Parak ja, paling 10 menit lagi,” sahut Obol. Kuanggap itu sebagai penghibur saja. Bukankan kita sudah mengeja angka kilometer pada plang yang tampak terlihat.

Perjalanan terus melaju dengan beberapa tikungan tajam dan jembatan-jembatan lagi. Palangkaraya 29km, Palangkaraya 16km, Palangkaraya 7km, Palangkaraya blablabla. Sepanjagn jalan kami selalu terhibur dengan plang-plang penunjuk tersebut. Saya tak sabar menantikan warna-warni perkotaan, Obol bilang, sebagai pintu masuk, kami akan melewati Jembatan Kahayan yang berwarna-warni. Senang sekali mendengarnya.

Masa penantian itu pun tiba, hiruk pikuk lalu lintas berpolusi mulai terasa. Tampaknya, ini perbatasan Kabupaten, dan lihat di sana, warna-warni Jembatan Kahayan. Tampak muda-mudi berkendara hilir mudik, dan kami melewati Jembatan Kahayan dengan riang gembir.

Sampai di penghujung jembatan, memutar ke kanan dan berhenti di bawahnya. Persis di depan mural dan paman pentor terparki. Kami juga memarkir. Dan saya sempat berfoto sendiri di depan mural.

“Kita sudah sampai?”

“Ya, kita sudah di Palangkaraya,”

Belum ada ide kami akan kemana selanjutnya. Yang jelas sudah di Palangkaraya. Mungkin setelah ini ke tengah kota, melewati Kantor Gubernur dan DPRD, atau singgah di taman kota, atau… entahlah. Saya masih mati pikir dalam kondisi fisik sudah teramat lelah. Mata dan kepala sudah berat. Dan kami belum merencanakan… akan tidur di mana malam ini. Kutatap arloji, 21. 15. Kita tak pernah tahu. (bersambung)

Catatan Perjalanan, Ampah-Timpah (3/5)

 

Dari bundaran Kota Ampah, kami memutar ke wilayah Desa, masuk ke gang sempit di wilayah pasar. Lagi, lupa mengeja nama gangnya. Jalanan bebatuan yang tidak bisa dikatakan mulus, namun tidak juga buruk. Dari pinggir jalan raya sampai persis ke rumah Ali kurang lebih 1 Km. Semoga saya salah kira. Kammi sempat kelewatan. Sedikit saja.

Rumah semi permanen, bercat kuning pucat dengan tumpukan paketan potongan kayu untuk diperjual-belikan terpampang di hadapan. Kami memakirkan motor persis di bawah seng sebagai teduhan. Siang ini, Selasa, (12/7), matahari begitu terik. Panas luas biasa. Check point 3.

Sambutan yang hangat diiring seceret sirup jeruk es batu dan setoples kerupuk unyil. Entah bagaimana menggambarkannya, kerupuk ini terasa nikmat sekali. Mungkin mengenang jaman dulu jadi perantauan, kerupuk unyil jadi lauk wajib ketika lauk lain tidak ada lagi.

Obrolan seputar menanyakan kapan sarjana, kapan kawin, kapan lulus, kapan berumah tangga, dan kapan bla-bla bertebaran di setiap pertikel atom yang tiap sudutnya saling berpantulan memenuhi isi rumah.

Belum jeda 10 menit, satu teko jumbo es kelapa muda datang di meja, barusan dikupas di luar rumah. Hasil petikan pohon di belakang rumah. Sudah kubilang, matahari begitu terik. Panas luar biasa. Sedangkan di hadapan ada es kelapa muda. Gimana?

Bla-bla mengembang ke sana ke mari tanpa batas, tawa canda gelak tawa membawa kami beberapa kali ke toilet. Karena terlalu banyak minum. Kami ditawarin untuk menginap saja. Kulihat jam dinding di rumah Ali hampir pukul 12.00. Di dalam rumah ini minim sekali sinyal telkomsel, apalagi akses data. Tidak banyak yang bisa kami lakukan. Padahal aku sudah berniat membuka laptop dan mulai mengetik.

Makin lama obrolan sampai ke ahlu bait menghamparkan karpet/hambal tebal bermotif bulu macan di tengah rumah. Tuh, kan. Ada 4-5 buah bantal dan guling dihamburkan di sana.

Intinya, setelah bersopan santun tanpa perasaan menolak, kami berempat tertidur di waktu khoilullah. Sampai adzan dzuhur berakhir. Yang paling terakhir bangun adalah Bungker.

Terburu-buru kami bangun dan mencuci muka, terlihat terburu-buru juga kesannya akan meninggalkan rumah. Namun ditahan, ya seperti peringatan Bungker sebelumnya, tidak akan diizinkan beranjak pergi dari rumah ini sebelum santap siang. Sudah minum es kelapa muda, aku sempat membuka bungkus lisong yang baru (saking borosnya), tertidur di hamparan ambal bulu pula, nah ini, bau-bauan ikan bakar mulai tercium oleh perut. Gimana coba? Emang enak bangun tidur langsung disuruh makan. Enak.

Intinya tidak boleh pergi sebelum puas. Duduk lesehan, ada Haruan Baubar yang khas sekali dengan selera masakan Banjar di hadapan. Nasi panas yang harum, ada es sirup dan es teh juga. Sayurnya Pucuk Jawaw yang sudah direbus, juga hasil petikan di kebun sendiri, didampingi terong muda (yang juga dipetik di samping rumah) kecil-mungil juga. Ada sambal terasi dengan taburan Ampalam/mangga di atasnya. Dibagi-bagi menjadi beberapa bagian. Ditemani Udang goreng dan kacang panjang. Kulihat bungker, wajah dan tubuhnya sudah basah karena keringat. Sambil ter hus-hus setelah colak-colek nakal di cobek.

Saya belum sanggup berdiri usai menyantap mengipung/mengilau haruan bakar sisa. Turunakan nasinya dulu. Kami lupa beberapa kali bersopan santun ketika menambah kautan nasi. Kenikmatan makan siang inilah yang tidak pernah saya dapatkan di tengah hiruk pikuk lalu lintas perkotaan. Dan sayangnya, kami tak sempat berfoto ketika ini, sama sekali.

Semua usai, obrolan dan suasana terangnya suasana beranda rumah mengantarkan jarum jam dinding menuju angka 2. Setelah menggabungkan dua kewajiban berjamaah dengan Bungker, mempersiapkan segala. Packing ala touring. Berpamitan dengan segala kebaikan perangai, berterima kasih yang tak terhingga, dan sama-sama saling mengucap, “Jangan jara lah,” dan dijawab “Pian nang jangan jara,” sebagai penutupnya.

Kami melintas menuju jalan raya Kota Ampah di bawah terik mentari yang tiada terdinding. Entah, tampaknya sediki sekali awan menjelang sore ini. Tapi tenang, botol-botol minuman kami sudah terisi kembali. Diisi ulang.

Ya, setelah Kota Ampah, Saya harus mengejar wilayah berjaringan internet perkotaan selanjutnya, yakni Buntok. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari Obol, perjalanan Ampah Buntok memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Jalur yang kami lewati adalah pemukiman di atas rawa, persis seperti jalur Desa Sungai Tabuk dari Martapura menuju Banjarmasin.

Rumah-rumah tinggi di atas rawa dan pepohonan rindang di pinggiran jalan seakan membuat kesejukan perjalanan ini. Tanpa terlena, kami memacu kendaraan, karena saya sudah meminta waktu mereka untuk menunggu ketika saya mengetik berita nantinya.

“Dear all, sampai di kota kita harus mencari wifi id. Atau jika tak ada, kita singgah di warung/café yang ada colokan listriknya. Kurasa portable wifi di smartphone pada jaringan perkotaan bisa diandalkan,” ucapku.

“Pokoknya selesaikan saja urusan pian. Bila semua selesai, dan pian tenang. Kami tenang jua,” ucap Haji Udin diamini yang lainnya.

Saya belum pernah sama sekali menjejakan kaki di Kota Buntok. Dan ini adalah kali pertama, ketika lampu merah membuat kami berhenti, dan saya menurunkan kaki sebelah kiri ke aspal.

Selamat Datang di Kota Batuah, begitu kata plang yang terpampang besar di hadapan. Belok kiri melewati Jalan Pelita melalui Balai Kota. Saya menyempatkan membuka google maps untuk mencari Kantor Telkom. Ternyata kami salah jalur. Lantas kembali memutar ke arah dermaga. Damn, kami menemukannya.

Screenshot_2016-07-19-20-02-03_com.instagram.android

Check point 4. Saya membuka semua peralatan kerja, menyambungkannya ke colokan listrik yang tersedia dan telah terhubung dengan internet. Saya mulai berselancar. Sedangkan Obol dan Haji Udin mencari kios untuk membeli beberapa minuman dingin.

Proses tersebut memakan waktu kurang dari satu jam. Di waktu itu pula, ternyata Bungker sempat-sempatnya tidur dengan pulas di bawah naungan wifi id berwarna merah. Done, tugas rampung, kami berangkat menuju Palangkaraya.

Screenshot_2016-07-19-20-02-08_com.instagram.android

Satu belokan saja. Ya hanya satu belokan dengan plang kecil tanda panah yang bertuliskan Palangkaraya, kami akan tiba di tempat tujuan. Jembatan kecil, yang tidak bisa dikatakan bagus, dengan pemandangan hutan rimbun di hadapan.

Are you sure?” tanyaku menatap yang lain.

“Yakin?”

“Berdasarkan arahan, arah itulah yang mengatarkan kita ke tujuan!”

“Well, memangnya kita punya pilihan, Selain belok kanan surga?”

Screenshot_2016-07-19-20-02-15_com.instagram.android

Kami melaju dengan semangat. Sore itu sekitar pukul empat. Dengan tongsis di pinggang kupasang niat, menghantarkan matahari sampai tenggelam jika sempat. Karena kalau berfoto malam sudah pasti gelap pekat. Tas ransel diikat erat. Dan siapa yang tahu, ini adalah perjalanan terberat setelah ratusan kilometer yang sudah kami lewat. Sampai teruccap, “Jika lagi aku harus melalui jalur ini, cukup sekali seumur hidup melewatinya malam hari,” dan roda kami berputar dengan mantap. (bersambung)

 

Catatan Perjalanan Tamiyang Layang- Ampah (2/5)

Karena ingin sekali eksis dan menandai bahwa saya sedang berada di Kota Amuntai, maka saya niatkan untuk berfoto di icon Itik Alabio, meski sebenarnya sudah terlalu gelap. Alhasil, ketika tiba di lokasi, mood untuk berfoto saya hilang.

Pencahayaannya kurang menarik, dan tentu saja terlihat sangat buruk dalam frame foto. Kami urungkan niat berfoto di Itik dan hanya menyempatkan berfoto di Jembatan Paliwara saja. Saya tak punya lagi gambaran atau bayangan suasana jalanan yang bagaimana lagi setelah kami melewati Amuntai.

Malam semakin larut, hari semakin dingin, (klise banget ya) rasanya ingin sekali cepat tiba di lokasi. Haji Udin mengkonfirmasi sudah menghubungi Galapung (bukan nama sebenarnya, red) untuk bersiap menjemput kami di pinggir jalan raya guna membimbingnya ke rumah kakaknya yang tidak jauh dari wilayah Pasar Panas, Tamiyang Layang.

Damn, Check Point 2. Di sinilah kami harus beristirahat, beruntungnya rumah yang bernomorkan 001 RT 00 1 RW 001 penghuninya sedang tidak di rumah, kami menginap berlima dengan Adiknya Asmat, (setelah diketahui, nama pemilik rumah, yang tak lain adalah kakaknya Galapung).

Sejujurnya saya tak menyangka akan tidur senyaman ini, maksudnya di atas kasur lipat, (setidaknya bukan di matras atau sarung yang sudah dipersiapkan dalam ransel). Karena kami sudah mengantisipasi kalau-kalau kemungkinan terburuk istirahat di tengah perjalanan, semisal ada musibah bocor ban, atau kondisi alam terlalu mencekam.

Galapung, dengan segala kerendahan hatinya memberikan pelayan sebaik mungkin kepada para raja yang berkunjung ke wilayahnya, menjamunya dengan sekuat tenaga, menyediakan hamparan mahligai untuk peristirahatan terbaik, dan… lebay sekali perumpamaannya.

Ya, kami mendapati kamar mandi terbaik untuk membersihkan diri, melaksanakan kewajiban, membuat minuman panas dan beberapa snack penghantar tidur. Menuju perbaringan, Bungker berpesan kepada kami “Jangan ada yang menggaraknya, awas mun wani!,” katanya. Mau bagaimana lagi.

Pukul 05.30 Wita. Saya ingat sekali karena ketika bangun menyalakan pencahyaan pada arloji. Ya, pertama, saya pernah mengungkapkan kepada sebagian kawan bahwa saya lebih mudah mengingat apa-apa yang terlihat daripada apa-apa yang terdengar. Dan kedua, saya adalah tipe manusia yang tidak suka melepas arloji dalam keadaan apa pun, baik itu tidur, atau pun mandi.

Usai kewajiban subuh, langit masih gelap membiru, mungkin mendung. Baru kusadari jika dibandingkan dengan jam dinding di rumah ini, ada perbedaan 30 menit dari waktu Martapura, lebih lambat. Untuk kadar penentuan waktu, tapi tidak untuk pergerakan matahari dan waktu sholat.

Lauk pauk dan hidangan yang tadi malam kembali dipanaskan untuk kami santap. Sebenarnya porsi begini bukan untuk sarapan, melainkan makan siang. Ya, ini adalah salah satu moment foto makan bersama hilang, saya tak sempat memostingnya di instagram. Termasuk berfoto di depan plang nomor cantik, Nomor 001 RT 001 RW 001. Mau bagaimana lagi?

Screenshot_2016-07-19-20-01-12_com.instagram.android

Dari kiri ke kanan: Galapung, Haji Udin, Obol, saya, dan Bungker.

Sekitar pukul 08.00 Wita, setelah memanaskan mesin motor, packing keperluan prbadi, mengisi ulang botol air minum, (penghematan), dan berdoa, kami berangkat dari rumah Asmat dan juga bersama Galapung untuk mengantarkan kami ke rumah betang. Sebagian orang bilang, tugu di tengah jalan itu juga berarti perbatasan antara Kalsel dan Kalteng. Secara geografis, kami memang sudah memasuki wilayah Kalimantan Tengah.

Adalah Desa Pasar Panas, Kecamatan Banua Lima, Taniran, Kabupaten Barito Timor, Kalimantan Tengah. Betang Lewu Hante, demikian situs ini dinamakan. Bangunan yang terbuat dari kayu terkeras di dunia ini sebenarnya hanyalah replika alias tiruan dari keadaan yang sebenarnya sebagai tempat ritual bagi masyarakat Dayak Kalteng di pedalaman, bukan di tengah jalan raya yang kami singgahi dalam perjalanan ini.

Screenshot_2016-07-19-20-01-27_com.instagram.android

Di depan patung icon masyarakat Kalteng berpakaian Adat. Dari kiri ke kanan: Galapung, Obol, Saya, Bungker, dan Haji Udin.

Meski demikian, replika ini lengkap dengan segala aksesoris yang detail. Termasuk ukiran-ukiran di kayu jatinya. Beruntung saya sendiri sempat minta fotokan di sini dan memostingnya. Walau terlanjut diedit menjadi hitam putih dan kehilangan file aslinya.

aku_kalteng

Screenshot_2016-07-19-20-01-34_com.instagram.android

Beberapa bangunan berdiri di atas tanah sekitar 2 hektar. Ada panggung terbuka yang biasa dipakai untuk pertunjukan seni, penginapan, taman, serta tak lupa dua buah bangunan rumah betang yang salah satunya difungsikan sebagai museum.

Museum memang belum buka ketika kami sampai, dan ketika momentum berfoto bersama pula, kami sempat bertegur sapa dengan ibu cantik berpakaian PNS ketat yang bertugas menjaga museum tersebut, “Selamat Pagi ibu, permisi numpat foto!,” begitu.

Screenshot_2016-07-19-20-01-40_com.instagram.android

Telah disebutkan, meski tidak masuk ke dalam, saya memunyai insting museum tersebut memiliki beberapa koleksi peninggalan jaman dahulu seperti pistol peninggalan perang, piring malawen, guci kuno, samurai jepang dan senjata tradisional dayak lainnya seperti mandau dan tombak. (Untuk lebih detailnya kamu bisa searching sendiri di google. Sudah banyak, kok yang menulisnya, red).

Screenshot_2016-07-19-20-01-47_com.instagram.android

Dalam bahasa Dayak maanyan, Lewu Hante yang berarti Rumah Besar atau sering disebut Rumah Betang. Rumah betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di pelbagai penjuru Kalimantan dan dihuni oleh masyarakat Dayak terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman suku Dayak.

Setelah dirasa puas untuk berfoto, kami berangkat menuju kunjungan selanjutnya, finish point kami adalah Palangkaraya, berarti kami masih harus melalui Kota Ampah, Buntok, dan Timpah, sebelum melewati Sungai Kahayan Palangkaraya lewan Jembatannya, kita akan tiba pada bagian ini nanti.

Screenshot_2016-07-19-20-01-55_com.instagram.android

Semilir angin berhembus mendadak berhenti, matahari terik terlindung dedaunan nan rimbun. Aroma semesta berubah dengan bau-bauan yang tak bisa kuungkapkan lewat kata. Kami seperti melewati dinding tak kasat meta setelah tugu burung itu. Pemandangan di sisi kiri dan kanan jalan berubah. Hutan dan rumah-rumah desain bahari yang masih bertahan, kawanan kucing yang menjulurkan lidah dan kambing berkaki pendek bertebaran di sana sini. Sebenarnya ini bahasa Haji Udin yang saya pinjam untuk mendeskripsikan Anjing dan Babi. Jangan tersinggung!.

Sekitar 500 meter perjalanan santai 40Km/jam, kami singgah di rumah saudara sepupu perempuan cantik dan putih-nya Obol. Dan, Suaminya. Sekadar silaturahmi pasca idul fitri, obrolan maaf lahir bathin dan menanyakan keluarga satu dengan yang lainnya menjadi latar belakang kami bertiga untuk mengisap sebatang lisong. Setelah pamitan, kami berangkat menuju kota.

Tamiyang Layang, dengan segala kemajuan dan perkembangan kotanya, saya ingat betul, dulu sekali, mungkin 10 tahun yang lalu berkunjung ke rumah Acil alias adik dari ibu saya di kota ini dan sampai sekarang masih di sini. Saya tak berniatkan singgah karena pagi di hari kerja yang sudah barang tentu tidak akan ada orangnya di rumah. Kami berempat berhenti di kios yang masih tutup di seberang Dinas Pekerjaaan Umum Kota Tamiyang Layang. Saya mencoba menghubungi Mama Tity, (panggilan akrab, red) acil saya yang bermukim di kota ini. Hanya untuk bilang, “Ma, ulun permisi lewat di Tamiyang Layang dan kada singgah,” itu saja.

Well, nada sambung berakhir dan telepon tak diangkat, dengan prasangka posisi handphone sedang berada jauh dari pemiliknya. Mumpung jaringan internet sedang soleh-solehnya, di perkotaan, saya sempatkan memosting beberapa foto. Menjaga perhatian para follower, karena saya sudah meniatkan dari awal agar posisi saya diketahui publik, kita tak pernah tahu apa yang terjadi berikutnya.

Waktu menunjukan 09.10 di arloji. Waktu setempat sudah berbeda sekitar 1 jam alias Waktu Indonesia Barat. (Berikutnya saya hanya menggunakan patokan waktu di arloji saya tanpa penyesuaian lokasi). Perjalanan dilanjutkan setelah singgah di SPBU Tamiyang Layang, menerobos deretan pepohonan besar nan rimbun di sekeliling. Dengan aspal yang tidak bisa dikatakan lebar.

Bong demi Bong selalu rutin ditampilkan di kanan dan kiri jalan. Beberapa plang peringatan “Daerah Rawan Kecelakaan” serta “Awas Tikungan Tajam” tak habis-habisnya menghalangi pandangan. Sedikit saja oleng, kamu bisa bertabrakan. Tidak banyak transportasi yang berlalu-lalang membuat setiap pengemudi menambah kecepatan, suka tak suka kita juga harus ikut-ikutan. Saya sangat suka ketika memiringkan motor saat di tikungan, layaknya pembalap Moto GP yang sering saya tonton di kost-kostan kawan. Dan tetap menjaga timbangan serta irama berakhiran –an. Ya, kan?

Karena jalanan yang cukup lengang, kami menempuh jarak kurang lebih 70km dengan waktu 2 jam kurang sedikit. Buktinya kami sampai di Bundaran Kota Ampah sekitar pukul 11.00.

Kami sempat membatalkan niat tidak mampir di Kota Ampah karena mengejar ketertinggalan waktu. Namun kembali ke perencanaan di malam sebelum berangkat, kami akan mampir ke rumah Ali, sahabat yang juga saudara se-Kampus di Martapura yang sedang berada di rumah mertuanya di Kota Ampah, dia dari Samarinda, istrinya yang dari Kota Ampah. Perlu saya rincikan lagi?

“Masih banyak waktu untuk singgah. Bagaimana?,” ujar Bungker.

“Apakah ada jaminan kita akan sebentar saja?” balasku bertanya.

“Tidak ada. Aku jamin kita pasti ditahan!”

“Maksudmu?”

“Kita akan ditahan. Tak sekadar minuman, cemilan, bahkan mungkin segala suguhan makanan yang akan menahan kita. Bahkan kita mungkin disediakan tempat tidur untuk beristirahat.”

“Sebaik itu kah? Jangan lupa, Aku juga mengejar deadline sebelum pukul empat. Kita harus sudah sampai ke kota yang kuat jaringannya untuk aku membuka email. Aku sudah menyiapkan berita wajib yang kukirim sore ini untuk terbit besok,” tegasku dengan niat agar perjalanan terus berjalan dengan lancar.

Secara pribadi, saya tidak terlalu mengenal Ali. Tapi Bungker, Haji Udin, dan Obol sebagai angkatan setelahku di kampus lebih sering bercengkrama dan berbagi rasa bersama baik itu seputar urusan kampus dan kekeluargaan lainnya. Banyak cerita yang saya tidak bisa nimbrung terlalu banyak nantinya.

Saya tak menyangka jika peringatan Bungker sebelumnya menjadi kenyataan, saya juga menyayangkan karena saking nikmatnya santap siang ala desa, lupa memotonya, saya juga sangat menyayangkan… ah terlalu banyak sayang di Kota Ampah. Sayang… (bersambung)

 

 

 

 

 

Ar-Rumi Rayakan Harlah di 2 Lokasi

Brosur Harlah 13 cx6.jpgMARTAPURA, hirangputihhabang Jika tak ada aral melintang, Sanggar Ar-Rumi STAI Darussalam Martapura akan melaksanakan perayaan hari lahir yang ke- 13 di dua lokasi yakni Q Mall Kota Banjarbaru dan Aula Kampus STAI Darussalam Martapura di Jalan Perwira, Tanjung Rema.

Hal itu disampaikan langsung oleh Ketua Panitia Pelaksana Rajuk Rahman kepada penulis hirangputihahabang.wordpress.com. Dikatakannya, saat ini sedang menyiapkan berbagai macam persiapan tampilan di Q Mall yang dimulai pada sore Sabtu, (23/4), pukul 14.00 Wita hingga malamnya pukul 22.00 Wita.

“Jika pada perayaan harlah seblumnya kami menggelar sejumlah lomba, maka perayaan tahun ini sedikit berbeda. Dalam perayaan tersebut juga melibatkan sejumlah komunitas teater kampus dan pelajar andil dalam pementasan dan penampilan di panggung gratis. Dan juga acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Maka dari itu saya mengharapkan segala kalangan baik itu undangan fisik maupun undangan berantai bisa turut meramaikan perayaan ini,” ucapnya.

Sedangkan pada Rabu malam, (27/4), akan dilaksanakan perayaan puncak yang menampilkan sejumlah kesenian dari Ar-Rumi, Teaterikal Puisi, Hajir Marawis, Madihin Kontemporer, dan Teater Surealis berjudul Huda yang disutradarai oleh H Muhammad Ihsan.

“Kami berusaha semaksimal mungkin untuk menampilkan pertunjukan terbaik. Tak lupa kami turut mengundang semua pelaku dan penikmat seni se-Kalimantan Selatan,” pungkasnya.

Kebisingan Hati Mengajak Pembaca Menikmati Musik

bob_BDLMeski rinai hujan masih membasahi Kota Banjarbaru, gelaran Launching Novel Kebisingan Hati karya Ananda Rumi berlangsung ramai. Dihadiri sejumlah pelajar, mahasiswa, SMA, dan juga beberapa komunitas dari Kota Banjarbaru termasuk Banjarbaru Dalam Lensa, Jumat, (2/5), di Kedai Kopi Kepo Halaman Pustarda Kota Banjarbaru, kemarin.

Yulian Manan_FB5Acara dikemas sederhana itu dimoderatori oleh Manager On|Off Projet Self Publisher sebagai cabang dari On|Off Solutindo Project Harie Insani Putera, dengan suasana kopi gratis kepada para pengunjung. Dalam kegiatan itu, sejumlah pertanyaan diberikan dari masalah pemilihan cover buku, identitas tokoh yang ada dalam novel, juga dari lirik-lirik lagu yang ditulis Ananda Rumi dalam novelnya. Tak hanya masalah dalam novel, penulis juga berbagi tips dan informasi seputar penulisan fiksi dan seluk-beluk self publisher.

Yulian Manan_FB6Salah seorang pelajar SMA 1 Martapura Rina menyanyakan arti dari pemilihan cover yang dominan berbentuk es krim dan juga kiat mengerjakan novel yang bisa selesai hanya dalam jangka wakti sebulan. Sedangkan Oche mahasiswi STKIP menanyakan kontroversial tokoh Andra yang ada di dalam novel yang menilai karakternnya mirip sekali dengan penulis yakni Ananda Rumi.

Yulian Manan_FB4“Pemilihan cover ini didesain langsung oleh Oliel, vokalis band Juice Heart Noise yang namanya juga saya jadikan sebagai tokoh di dalam novel. Dan juga Nuzula Fildzah, teman saya di Jakarta. Pada intinya, symbol tersebut mewakili angka 1. Karena memang Novel Kebisingan Hati adalah episode pertama dari Tetralogi Kebisingan Hati. Kalau es krim mungkin tak jauh dari kesan yang kita tahu, es krim itu bisa jadi disukai semua kalangan, manis, menyegarkan, dan menyenangkan. Saya berharap juga dengan novel ini pembaca bisa terhibur dan menyenangkan,” jawab Ananda.

Yulin Manan_FB3Sedangkan untuk tokoh Andra, katanya, sebagai tokoh utama dalam novel Kebisingan Hati ia menjelaskan kalau itu adalah tokoh fiksi.

Yulin Manan_FB2“Tokoh Andra adalah fiksi. Hanya saja saya memasukkan beberapa pemikiran dan opini yang saya punya ke tokoh utama. Karena novel ini menggunakan sudut pandang ketiga maka penulis pun bisa menceritakan dari segala sudut. Termasuk konflik yang terjadi di beberapa tokoh lain. Tokoh nyata yang saya pinjam namanya ada Oliel, Ezha, Arul, Reza, dan Kevin. Sedangkan tokoh yang betul-betul fiksi dan saya ciptakan sendiri yakni Verda, Alanis, Erland, dan Elysia. Oh iya, juga ada figuran seperti Bibi Kantin Gaul dan Bapak Oveje,” bebernya.

Yulin Manan_FBDiakuinya, untuk persoalan waktu, ia rutin menulus di mana pun kapan pun karena dimudahkan dengan adanya gadget. Ia menjelaskan terbiasa menulis dengan Blackberry lantas mengirim sejumlah tulisannya itu ke surel pribadi kemudia mengeditnya setelah semua naskah rampung.

bob_BDL5Di sisi lain, Oliel yang mengaku rekan dari penulis sewaktu bermain musik bersama Juice Heart Noise merasa bangga karena band yang dulu digawanginya ternyata bisa menjadi cerita menarik dalam sebuah karya fikso yakni novel.

bob_BDL4“Sebelumnya memang, Ananda pernah mengungkapkan akan menulis novel bertemakan musik dan memuat cerita band Juice Heart Noise di dalamnya. Tapi kami tidak terlalu menggubris. Saya kira seperti biography. Dan saya tidak terlalu menarik. Ternyata setelah saya rampung membacanya, ini bukan hanya tentang lingkungan di sekitar kami, tetapi persoalan Kota Banjarbaru dari segala sudut pandangnya. Saya sangat mengapresiasi. Gara-gara membaca novelnya saya jadi terinspirasi ingin menulisn novel juga. Mendadak senang membaca,” ungkapnya. Diakhir acara panitia memberikan t-shirt gratis dan novel gratis kepada pengunjung yang berhasil menjawab sejumlah pertanyaan dari moderator, penulis, dan pengunjung lainnya.

bob_BDL3

 

 

Pengunjung Malam Masih Sepi

???????????????????????????????Gelaran Pesta Buku murah yang diselenggarakan Yusuf Agency bersama Pustarda Banjarbaru masih terlihat ramai saat siang hingga petangnnya. Salah seorang penjaga stand buku Sigit menuturkan, kebanyakan dari para pengunjung adalah kalangan umum. “Kebanyakan sih umum. Ada juga beberapa mahasiswa dan mahasiswi rombongan kesini. Namun untuk pengunjung saat malam masih sedikit sekali,” ujarnya kepada penulis hirangputihhabang.wordpress.com, Senin, (27/5),n di Halaman Pustarda Jl Wijaya Kusuma No 7, kemarin.

Meski demikian, Sigit menilai para pengunjung biasanya akan menumpuk di akhir-akhir penyelenggaraan. “Karena ini waktunya masih lama kan sekitar 3 pekan. Beda dengn Book Fair bulan kemarin yang hanya 1 pekan. Kita sering juga lihat pengunjung yang setiap hari beli satu buku. Sampai ingat mukanya,” ujar Sigit.

Kalau dihitung angka persen laku dari stok yang tersedia, ia mengaku baru sekitar 3 persen saja. Namun stok buku terbatas. Itu juga sudah ratusan buku yang dibeli dalam seminggu ini. “Alhamdulilllah, masyarkat Banjarbaru cukup antusias dalam hal membaca. Kecintaannya dengan berbagai buku juga tinggi. Terlihat dari selera buku yang mereka pilih. Bagus-bagus,” jelasnya

???????????????????????????????Pesta buku yang di gelar selama sebulan itu, yakni dari 23 Mei sampai 23 Juni 2013 buka dari pukul 08.30 Wita sampai 23.00 Wita. Menyediakan berbagai buku dengan harga yang murah. Dari harga Rp 5 ribu sampai dengan Rp 20 ribu. Berbagai macam genre juga tersedia disini. Baik itu Novel, Fiksi, Sastra, Sosial Budaya, Motivasi, Ekonomi Bisnis, Buku Anak-anak, Komik, Masakan, Agama, serta beberapa pengetahuan lainnya.

Seorang mahasiswa, Anjani, mengaku sengaja memboyong kawannya sekampus untuk membeli sejumlah buku yang menarik. “Saya sangat tertarik dengan sastra dan novel. Maka dari itu, mumpung ada pesta buku murah jadi kita datangin. Lumayan dapan 3 judul buku yang dimaksud,” akunya.

Wagub Resmi Buka Book Fair

ananda_suasana book fair di lapangan urjani banjarbaru3Banjarbaru Book Fair (BBF) resmi dibula oleh Wakil Gubernur Kalsel Rudy Resnawan, Sabtu, (30/3), kemarin. Pameran buku terbesar se kalsel ini dilaksanakan dari tanggal 30 Maret 2013 sampai dengan 7 April 2013. Pembukaan tersebut juga dihadiri Walikota Banjarbaru HM Ruzaidin Noor, Sekretaris Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Husni Syawi, dan sejumlah took penulis Banjarbaru.

Sekretaris Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Husni Syawi mengatakan, adanya event buku terbesar yang diselenggarakan di Kalsel ini diharapkan mampu mengembangkan minta baca. Tak hanya itu, ia juga berharap keberadaan BBF bisa menjadi penghargaan tersendiri bagi pemerindah dan masyarkat yang telah mendukung penuh kegiatan tersebut.

ananda_suasana book fair di lapangan urjani banjarbaru“Kegiatan yang meriah selain sebagai ajang untuk menambah wawasan juga sebagai perwujudan untuk mengembangkan minat baca serta wawasan. Saya berharap Banjarbaru mampu menjadi pioneer dan inspirasi bagi daerah lainnnya,” tutur Husni.

Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Banjarbaru Hj Nyuliani Dardie mengaku senang sekali kegiatan tersebut telah dibuka dengan meriah dan lancar. “Ini sebagai lanjutan darui kegiatan Banjarbaru Membaca yang menghadirkan Duta Baca Nasional Andy F Noya (Presenter Kick Andy!) tahun lalu. Di BBF 2013 ini juga digelar kegiatan hiburan seperti seni budaya dan lomba band,” ungkap Nunung, sapaan akrabnya.

ananda_suasana book fair di lapangan urjani banjarbaru6Selain itu juga, BBF diselingi dengan kegiatan seperti seminar dan workshop tentang penulis dan buku. Jika tak ada aral melintang, sejumlah artis dan penulis ibukota juga akan dating di akhir-akhir kegiatan. Termasuk artis dan bintang sinetron Asmirandah.