Sejarah Hari Ibu

Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali. Bagi sang surya menyinari dunia. Ketika sobat kampus duduk di bangku taman kanak-kanak seringkali diajak para ibu guru untuk menyanyikan lagu tersebut sebagai wujud cinta kasih kita terhadap seorang ibu yang melahirkan kita ke dunia.

Terkadang sebagai anak, kita sering menyakiti secara tidak sengaja baik secra lisan maupun perbuatan. Di moment yang spesial ini peluklah ibu-ibu kalian. Cium keningnya. Berbahagialah jika anda sobat masih memiliki seorang ibu. Seandainya sudah tiada, maka kunjungilah pusara almarhum dan kirimkanlah untaian doa dari hati ada yang paling tulus.

Di era digital dan modern sekarang ini, seorang ibu tak jarang menjadi tulang punggung keluarga. Banyak para wanita-wanita perkasa diluar sana yang berprofesi sebagai tukang parkir, ojek keliling, tukang becak, bahkan buruh kasar mengangkut barang-barang berat. Mereka adalah perempuan-perempuan perkasa. Pun demikian, tak sedikit pulan wanita-wanita karier yang memiliki anak namun masih sempat untuk memasakan sarapan buat anaknya. Tidak melepaskan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.

Tahukah sobat kampus semua bahwa Peringatan Hari Ibu yang telah diperingati tanggal 22 Desember kemarin merupakan peristiwa penting? Jika kita boleh mengulang sejarah, Hari Ibu merupakan hari dimana kaum perempuan dimanja dan mempunyai kebebasan dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya.

Hal itu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Konggres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung yang kemudian dikenal sebagai Mandalabhakti Wanitatama di Jalan Adisucipto, dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Kongres berikutnya diadakan di Jakarta dan Bandung. Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain.

Peristiwa itu merupakan salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan.

Para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara, perlibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, masalah perdagangan anak-anak dan kaum perempuan, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan lain-lain

Adapun penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Dan Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini. Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama.

Pada tahun 1950-an, peringatan Hari Ibu mengambil bentuk pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung. Satu momen penting bagi para wanita adalah untuk pertama kalinya wanita menjadi menteri adalah Maria Ulfah di tahun 1950. Sebelum kemerdekaan Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Tahun 1973 Kowani menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW). ICW berkedudukan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa-bangsa.

Pada kongres di Bandung tahun 1952 diusulkan untuk dibuatnya sebuah monumen, setahun berikutnya diletakkan batu pertama oleh Ibu Sukanto (ketua kongres pertama) untuk pembangunan Balai Srikandi dan diresmikan oleh menteri Maria Ulfah tahun 1956. Akhirnya pada tahun 1983 Presiden Soeharto meresmikan keseluruhan kompleks monumen menjadi Mandala Bhakti Wanitatama di Jl. Laksda Adisucipto, Yogyakarta.

Sebagai mahasiswa, tentu kita adalah pejuang. Pejuang untuk terus bisa membanggakan bagi ibu, ayah, orang tua, keluarga, dan tentunya semua orang. Selamat Hari Ibu para wanita-wanita perkasa di seluruh pelosok Nusantara. Tak ada tulus kasih sayang setulus kasih sayangmu kepada kami anak-anakmu yang menuntut ilmu. (ananda/kmp)

Bacakan Puisi dari Pengungsi Rohingya

Dengan mengangkat tema Dari Mingguraya Untuk Rohingya: Kemerdekaan, kemanusiaan dan kita, sejumlah penyair dan seniman membacakan puisi-puisi yang berkaitan dengan peristiwa tersebut, Jumat, (31/8) di panging bunda Mingguraya, Banjarbaru, Tadi malam.

Berbagai kalangan dari para penyair, penulis, sampai pejabat pemerintahan juga turut andil dalam momentum ini. Di antaranya, Arsyad Indradi, Radius Ardanias Hadariah, Dewa Pahuluan, Ali Syamsuddin Arsy, HE Benyamine, MS Arif, Martha Ion Krishna, Abdurrahman El Husaini, Yadi Muryadi, Fahmi Wahid, Harie Insani Putra, Randu Alamsyah, Rizqie Muhammad Al fajar, dan lainnya yang tak bias disebutkan satu-persatu.

Yang menarik, malam itu juga dibacakan 3 puisi dari pengunsi rohingya yang diunduh dari internet. Berjudul My Beloved Homeland (Tanah Airku Tercinta) karya Shofique, I am a Refugee (Aku Pengungsi) karya Saiful, dan Tetap Aku Bangkit karya Maya Angelou, penyair terkemuka di Afrika-Amerika. Yang mana tiga puisi tersebut diterjemahkan oleh Radius Ardanias Hadariah.

 

Peringati Haul ke-7 KH Muhammad Yusuf

Sejumlah masyrakat lingkungan Kabupaten Banjar berbondong-bondong menghadiri Haul ke-7 Almarhum KH Muhammad Yusuf Bin H Anang Antung di Desa Pasar Jati, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, Rabu, (22/8) kemarin.

Acara haul dimulai dengan pembacan Maulid Habsyi kemudian disambung dengan tahlil serta Doa. Selain para jamaah haul yang memadati makan KH Muhammad Yusuf, banyak juga di antara para pejabat serta tokoh ulama Martapura yang berhadir.

Aca tersebut juga diisi tausyiah oleh Habib Umar Bahasyim yang juga keturunan orang Banjar lulusan Pesantren Darul Mustofa, Hadramaut, Yaman. Dilanjutkan lagi dengan ceramah oleh cucu ahlu haul Guru Taufiqurrahman yang mengajar di Malaysia.

Wakil Bupati Banjar Dr H Ahmad Fauzan Saleh dalam sambutan mengatakan, peringatan haul telah menjadi adat dan budaya orang banjar sebagai bukti kecintaan anak kepada orang tua yang telah tiada dan kecintaan murid kepada guru yang telah wafat. “Maka dari itu, peringatan haul apalagi haulnya orang soleh, tentu akan mendapat barokah baik yang dihauli maupun yang berhadir,” ujarnya mewakili Bupati Banjar Pangeran Khairul Saleh.

Ahlu bait yang juga ahli waris H Tajuddin bin KH Muhammad Yusuf mengungkapkan, ayahnya, KH Muhammad Yusug merupakan sosok guru dan tokoh ulama yang sangat perhatian akan ilmu agama. “Sebagaimana sewaku beliau mengajar di majelis ta’lim. Di rumah maupun di mushalla-mushalla. Ada yang waktu sore dan ada juga yang malam,” paparnya.

Ia berharap dengan peringatan haul tersebut bisa mendatangkan barokah dari Allah SWT dan sekalian masyarkat mendapatkan ketentraman dan rukun anta jiran tetangga.

Anggota DPRD Kab Banjar Rusmini SE MSi mengharapkan, haulan KH Muhammad Yusuf nantinya bisa menjadi agenda tahunan. “Serta mendapatkan bantuan dari pemerintah setempat. Karena ini salah satu budaya Kabupaten Banjar yaitu memperingati haulan para tokohn ulama dimana saja,” pungkasnya. []

Eksistensi Seniman Dipertaruhkan

Akhirnya kepengurusan Dewan Kesenian Kota Banjarbaru periode 2012-2017 resmi dilantik oleh Walikota Banjarbaru HM Ruzaidin Noor, Jumat, (10/8), di Aula Gawi Sabarataan, kemarin. Ketua Dewan Kesenian Kota Masih dilanjutkan oleh Ogi Fajar Nuzuli yang juga Wakil Walikota Banjarbaru.

Walikota Banjarbaru dalam sambutannya menuturkan, Pelantikan Pengurus Dewan Kesenian Kota Banjarbaru tersebut sebagai bentuk kepedulian pemerintah kota kepada para seniman untuk mengapresiasi segala bentuk dan usaha dalam kekaryaan di Kota Banjarbaru. “Diharapkan lima tahun ke depan DKD Kota Banjarbaru bias eksis penuh tanggung jawab, loyalitas, dan dedikasi tinggi untuk menggapai visi misi yang ditetapkan,” kata walikota.

Menurutnya, perlu adanya semangat dan pembaharuan dalam berkesenian.
“Karena kesenian juga menggambarkan kondisi masyarakat yang sebenarnya. Keberadaan DKD bias menjadi mitra pemerintah dalam memajukan kesenian dan kebudayaan,” ujarnya.

Di sisi lain, Ketua Harian Dewan Kesenian Provinsi M Syarifuddin R menyampaikan, otorisasi dan tujuan Dewan Kesenian Provinsi sendiri mempunyai kesamaan dengan visi dan misi tidak terkecuali para apresiasi kepada par seniman. “Hal ini sebagai upaya pembinaan dan pengembangan dalam pertumbuhan budaya masyarakat. Semooga dapat dirasakan manfaatnya. Tak hanya Banjarbaru tetapi juga Kalsel, Mari berkarya dan bekerja dalam ranah kesenian,” pungkasnya.

Mengenang Van Der Pijl, Seorang Belanda Pendiri Kota-kota di Kalimantan (Bagian 4/habis)

Menjalin Silaturahmi dan Hobi Berdiskusi

Kemampuannya dalam merancang bangunan tak bisa dipungkiri keunggulannya. Hingga tulisan ini diterbitkan, hasil buah karyanya memang tak pernah dilanda Banjir. Berkat keakuratan dan wawasannya yang luas dalam bidang arsitekur. Dulu, Van der Pijl mempunyai 3 rekan yang sering membawanya untuk selalu berdiskusi bersama. Adalah KH Zafry Zamzam, Said Hasyim, dan H Mukhyar Usman. Dan mereka akrab disebut dengan 4 Serangkai. Cerita itu disampaikan Fitri Zamzam putra dari KH Zafry Zamzam. Dikatakannya, Van der Pijl adalah sosok yang penyayang dengan anak-anak. “Masa itu tentu kita masih terlalu kecil. Saya juga sering bermanja-menja dengan beliau. Bersama Ayah, Om Hasyim, dan Bapak Haji Muya, Opa Van der Pijl sering melakukan diskusi. Khususnya untuk pembanguna-pembangunan di Banjarbaru,” katanya.

Keterlibatan pada masing pengetahuan yang dibidangi sering melahirkan perdebatan ilmu pengetahuan masing-masing bidang yang digeluti. Seperti H Mukhyar Usman , seorang mantan ketua MUI Kota Banjarbaru yang juga ahli dalam bidang Perumahan Daerah karena ia direkturnya. Dengan Zafry Zamzam yang saat itu sebagai Kepala Dinas Jawatan Penerangan Kalimantan Selatan dan juga Rektor IAIN Antasari yang pertama.

Dulunya, Van der Pijl begitu menyiapkan lahan-lahan untuk beberapa pembangunan dan pemukiman di Kota Banjaarbaru. “Nantinya, lahan itu digunakan untuk berbagai fasilitas umum. Namun ternyata, setelah beliau tidak ada, kini lahan tersebut sudah dipergunakan untuk bangunan lain,” jelas Dewa Pahuluan, sapaan akrab Fitri Zamzam.

Di antara wilayah lahan yang disiapkan itu adalah tanah di sebelah Polsek Banjarbaru, tanah di sebelah sekolahan SD, Kantor Kelurahan di Banjarbaru 3, dan lahan di depan Proyek Jalan Kalimantan (Projakal). Namun sepeninggalnya Van der Pijl, sebagian tanah-tanah itu dikapling-kapling beberapa pihak yang menginginkan pembangunan lain.

Dewa mengaku, mengingat jasa Van der Pijl, tidak cukup hanya sekadar peringatan. Tetapi, lebih kepada pelajaran yang harus digali semasa pengabdiannya di Kalimantan Selatan khususnya di Banjarbaru. “Sebagai bukti, apabila rumah-rumah itu dibangun pada masa Van der Pijl, maka akan kuat sekali. Luar biasa kokohnya. Karena memang, ia benar-benar ahli. Maka ini suatu ilmu pengetahuan dalam pembangunan agar bisa berdiri dalam jangka panjang. Puluhan bahkan ratusan tahun ke depan,” ungkapnya.

Sependapat dengan Wakil Walikota Banjarbaru, Ogi Fajar Nuzuli. Terlebih pada mas Van der Pijl hidup, diceritakannya, sebagai orang Belanda yang tinggal dan merancang Kota Banjarbaru, sosok Van der Pijl yang low profil terlihat dari setiap harinya setia bekerja mengayuh sepeda. “Sebelum kita mengetahui, ternyata Van der Pijl adalah seorang tokoh yang mempunyai jabatan tinggi di Kalsel. Yaitu sebagai Kepala PU Kalimantan,” ungkapnya.

Dalam analisisnya, rancanngan dan pembangunan hasil buah tangan Van der Pijl hingga sekarang terbukti. Bahkan, tak pernah mengalami banjir. “Kita lihat dan kita pelajari, yang beliau rancang sampai hari ini tidak pernah banjir. Dari Banjarbaru 1, Banjarbaru 2, Banjarbaru 3, Banajarbaru 4, Komplek PLN, Komplek Projakal, Komplek Rindam, Komplek Zipur, Komplek SPN, dan beberapa pemukiman militer hasil rancangan Van der Pijl. Semua sudah di petakannya dengan perhitungan yang matang,” terang Ogi.

Dan yang paling menarik, Van der Pijl dengan rekan-rekannya menjalin silaturahmi tanpa pandan sesuatu pun. Semisal silatrahmi di kala Hari Raya Idul Fitri, Van der Pijl sekeluarga bertamu ke rumah-rumah rekannya seperti KH Zafri Zamzam, Said Hasyim, H Muya Rahman, dan masyarakat muslim lainnya,. Begitu pula sebaliknya. Dikala natal, mereka pun menyantroni kediamam Van der Pijl untuk bersilaturahmi. (habis/ananda perdana anwar)

Mengenang Van Der Pijl, Seorang Belanda Pendiri Kota-kota di Kalimantan (Bagian 3)

Menghabiskan Seluruh Waktunya Demi Pembangunan

Belanda yang sangat menjunjung tinggi Bahasa Indonesia dalam kesehariannya. Itulah Van der Pijl, kepala PU Kalimantan yang telah berhasil menata Kota Palangkarya dan Banjarbaru dengan bangungan dan gedung-gedung tinggi terhindar dari bahaya banjir. Pasca pensiun dari pekerjaannya sebagai PNS yaitu kepala PU Kalimantan, Van der Pijl lebih sering menghabiskan waktunya di Kota Banjarbaru, di rumahnya Jalan Ahmah Yani Barat Nomor 3. Meski tak ada dana pensiunan untuk menyambung kehidupannya beserta keluarga, ia tak patah semangat. Mendirikan bioskop di Banjarbaru menjadi penghasilannya kala itu. Yang mana urusan sewa-menyewa dikelola penuh oleh TNI Angkatan Udara Sjamsudin Noor. “Uang tersebut dikumpulkan beliau guna mencurahkan cita-cita hati dan impiannya sejak lama. Yaitu mendirikan sekolah Teknik pada tahun 1968. Namun tak hanya itu, selain Sekolah Teknik yang kalau sekarang setara SMP, didirkan pula Sekolah Teknik Mesin (STM) yang setara SMA. Kemudian dilanjutkan lagi dengan Akademi tekniknya yaitu Akademi Teknik Nasional (ATN),” papar Djojok, menantu Van der Pijl.

Niatnya untuk membangun Akademi Teknik bukan sekadar kehendak. Kala itu, lulusan-lulusan sarajan teknik masih terbilang sangat langka. Hal itu diselaraskannya dengan semakin berkembangnya pembangunan seperi Waduk Riam Kanan, kurangnya Ketelatenan dalam membuat mesin tekstil, serta orang-orang yang bisa mengatur jaringan lisrtik untuk pemukiman di Komplek TNI, Rindam, dan lainnya.

“Maka dari itu, Papa yakin pengelola bangunan dan para komandan itu nantinya memerlukan tenaga dalam hal teknik. Melihat celah itu berdirilah STM yang sekarang menjadi STM YPK. Sekarang ketua yayasannya adalah Rico, anaknya pak Hasyim rekan Papa masa itu,” ucapnya.

Van der Pijl yang berwibawa dinilai sangat bersahaja dan ramah terhadap seluruh lapisan masyarakat. Tak pelak, diceritakan Marijke, ia sering menghadiri Undangan pernikahan atau pun perkawinan warga di Banjarbaru. “Tak peduli siapa pun. Kenal atau pun tidak kenal, kalau diundang, Papa pasti datang. Dan selalu berusaha agar silaturahmi dengan warga Banjarbaru itu tidak putus,” timpal Marijke.

Menghabiskan masa tuanya, ia tak lagi terlalu bergelut dalam ranah pemerintahan. “Ia dipercaya menjadi bendahara Masjid Banjarbaru atas imbauan dan permintaan panitia masjid waktu itu. Salah satunya bapak Zafry Zamzam. Yang tidak lain adalah orang tuan dari Fitri Zamzam yang akrab disapa Dewa Pahuluan.” Djojok membeberkan. Pembukuan Van der Pijl dinilai sangat bagus dan tertata rapi. Terlebih, Ia mempunyai kepribadian yang jujur dan tegas. “Jadi tidak ada orang berani main-main dengan Papa,” tambahnya.

Keseharian masa pensiun Van der Pijl tak lagi total dalam pembangunan di ruang lingkup pemerintahan. Meski begitu, ia tetap mengawasi pembangunan demi pembangunan terkhusus di Kota Banjarbaru. Dari Komplek pemukiman warga di wilayah PLN, sampai pembangunan gedung-gedung perkuliah Universitas Lambung Mangkurat di Banjarbaru.

Setelah itu, ia mendirikan Akademi Teknik Nasional (ATN) berlokasi di belakang rumahnya. “Sedangkan kantornya, ya di rumah ini. Ruangan beliau persis di kamar pribadinya. Seiring waktu berjalan kian tumbuh berkembang. Mahasiswanya mencapai ribuan. Pada akhirnya Papa Van der Pijl memakai 2 buah gedung di Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru (Unlam). Termasuk pak Rahmat Thohir adalah Mahasiswanya. Sampai pada pertengahan 1973, gedung di ambilalih kembali oleh Unlam,” ungkap Djojok.

Tiba pada pertengahan September 1974, Opah Van der Pijl lebih mengalami kesibukan yang meningkat. Karena waktu itu sedang diadakan Ujian Sekolah Teknik se-Kalimantan Selatan. Dan tak lain, penyelenggaranya adalah SMK Banjarbaru binaan Van der Pijl. “Papa begitu aktif. Sering saya antarakan dari rumah ke sekolah, dan balik lagi ke rumah. Dalam satu hari selama satu minggu. Semua urusan ari jumlah, data murid, arsip, dan soal-soal ujian Ppa sendiri yang mengurusnya. Sampai pada masanya ia kelelahan,” kata Djojok.

Diceritakan, Van der Pijl sempat mengalami sesak napas karena kelelahan yang luar biasa di masa-masa ujian STM. Tak lama kemudian ia memanggil dokter Mursyidi dari AURI Sjamsudin Noor yang tinggal di Landasan Ulin, untuk memeriksakan keadaan Van der Pijl. “Dokter itu mengatakan kalau Papa masih tahan, maka pada malam harinya, disuruh untuk segera dibawa ke rumah sakit,” ujarnya dengan nada lirih. Belum lagi umat muslim berbuka puasa, karena memang berbetulan dengan bulan Ramadhan waktu itu, Van der Pijl menghembuskan napas terkahirnya. Tepat di hari Jumat, 27 September 1974. Ia meninggal di rumahnya sendiri di hadapan keluarga yang begitu menyayanginya. Van der Pijl meninggal dalam usia 73 tahun. (bersambung/ananda perdana anwar)

Mengenang Van Der Pijl, Seorang Belanda Pendiri Kota-kota di Kalimantan (Bagian 2)

Katolik Yang Taat, perokok berat, dan Menjadi Bendahara Mesjid

Kondisi Banjarmasin yang sering banjir kala itu sudah tak dapat ditoleran. Maka dengan tegas Gubernur Murjani memerintahkan Kepala Pekerjaan Umum Kalimantan Selatan, Van der Pijl, mencari wilayah dataran tinggi. Van der Pijl berangkat menuju sebelah timur dari Kota Banjarmasin yang kurang lebih berjarak 35 Km. Lalu bermukimlah ia di wilayah yang memang berdataran tinggi Gunung Apam, Kabupaten Banjar, yang pada akhirnya dinamakan Banjarbaru.

Perjuangan yang tak mudah, nama Banjarbaru juga sempat mendapatkan protes dari berbagai kalangan yang entah dari pihak mana. “Itu juga lantaran ada orang yang alergi terhadap Belanda. Kira-kira sekitar tahun 1970-an. Maka sempat ingin dihapuskan dan diganti. Tapi untunglah, usaha-usaha yang membuat keluarga kami miris itu sudah berakhir. Dan sudah mulai mereda di akhir 1977,” ujar Marijke kepada penulis.

Maka setelah itu, Seiring perkembangan dan pambangunan yang terus digalakkan oleh pemerintahan Provinsi Kalimantan Selatan lewat Gubernur Murjani didukung rekomendasi dari Bung Karno selaku Presiden RI, Van der Pijl mulai gencar merancang serta menghitung titik-titik wilayah yang memang terhindar rawannya banjir di musim hujan. Pembangunan dimulai dengan membangun gedung perkantoran, jalan-jalan, serta perumahan. Banjarbaru pun di bagi menjadi empat wilayah, Banjabraru I, Banjarbaru II, Banjarbaru III, dan Banjarbaru IV.

Merokok dan Minun Kopi kala menggambar

Keseharian Van der Pijl pun tak luput dari kebersahajaannya. “Papa merupakan orang baik, murah senyum, tapi jiwanya sangat berdispilin tinggi dari segala aspek. Sangat loyal dan serius dalam bekerja. Aktivitas di rumah pun harus mengikuti apa kata Papa. Termasuk makan malam bersama yang rutin. Harus diingat, kalau tidak pulang ke rumah jam makan malam, pasti dimarahi. Kalau dalam islam mungkin namanya makan berjamaah, ya!!!” ungkap Marijke sembari tersenyum.

Selain itu pula, Van der Pijl terbiasa menghabiskan waktu sore nya dengan duduk bersantai di beranda rumah dengan segalas teh panas. Dan ia sangat menjunjung tinggi berbahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. “Kami di rumah memang selalu dibiasakan berbahasa Indonesia. Dan itu juga Papa yang minta. Maka dari itu, sampai sekarang saya tidak terlalu paham bahasa Belanda,” sahut Marijke.

Meski begitu, Van der Pijl sesekali menggunakan bahasa Belanda kala berbincang dengan istrinya, Anna Gaspers. Diceritakan sang menantu, Djojok, Van der Pijl terbilang seorang perokok berat. “Papa itu perokok. Merek rokoknya Kansas dan Quil. Rokok yang paling ternama dan berkualitas tinggi kala itu. Ia juga peminum kopi. Terlebih di saat menggambar desain bangunan dan menulis,” tuturnya menceritakan.

Menata Kota Palangkaraya Untuk Menjadi Ibukota RI

Belum lagi rampung sepenuhnya pembangunan di Banjarbaru IV, Van der Pijl diperintahkan kembali oleh Bung Karno untuk membangun Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, guna perencanan pemindahan Ibu Kota RI dari Jakarta ke Palangkaraya pada akhir tahun 1950. “Kita diberikan kapal oleh pemerintah untuk menyeberang ke Palangkaraya. Untuk sampai ke sana kita sekeluarga menyusuri Sungai Barito memerlukan waktu 2 hari. Maka di dalam kapal cukuplah kiranya ada dua kamar tidur dan satu dapur darurat untuk keperluan. Daerah yang kami itu namanya Kampung Pahandut,” papar Marijke.

Sebagaimana di Kalsel, Van der Pijl pun menjabat sebagai Kepala Pekerjaan Umum Sipil Kering. Dan disanalah, Van der Pijl membangun Kota Palangkaraya dari kantor pemerintahan, jalan akses utama perkotaan, sampai perumahan. Namun sayangnya, menjelang akhir 1961, Van der Pijl mendapati masa pensiunnya. Sampai disitulah buah karya Van der Pijl di Palangkaraya. Bangunan-bangunan dari rancangannya pun mempunyai ciri khas tersendiri seperti bebatuan kecil bercampur granit yang dipadu sedemikian rupa sering didapati pada kisi dinding bangunan.

“Maka tak berapa lama usai Papa pensiun, kita balik lagi ke rumah ini. Jalan A Yani Barat No 3. Rumah yang didiami empat generasi, Papa Van der Pijl, saya sebagai anak, kemudian anak saya, dan cucu saya,” ungkapnya.

Meski terbilang pensiun, Van der Pijl tak mendapatkan pensiunan sebagai PNS sebagaimana mestinya, sebagai PNS golongan IVF, jabatan tertinggi masa itu. “Dulu itu mengurus segala administrasi dan surat menyuratnya harus ke Jakarta. Tidak ada sapeserpun dana pensiun itu sampai ke Papa. Entah ada permainan apa dari pejabat di atas kami tidak tahu. Pada akhirnya, Papa bertekad keras untuk mendirikan Sekolah Teknik Mesin (STM), dan Akademi Teknik Nasional (ATN). Telah direncanakan dibangun di belakang rumah ini,” ujar Djojok menunjukan.

Hal tersebut, terangnya, juga sempat diurus usai meninggal Van der Pijl, sebagai dana pensiunan Janda. Namun kala itu pihak keluarga kembali disuruh memilih. Kalau ingin pensiunan Van der Pijl, maka tidak ada pensiunan janda. “Maka kami putuskan untuk mengurus dana pensiunan jandanya. Ya, untunglah bisa dirasa sampai ini,” katanya.

Van der Pijl juga mendirikan bioskop yang berada di tengah lingkungan pasar. Namanya bioskop ‘Sederhana’. Berkenaan dengan itu juga ia juga mendirikan bioskop di Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut. “Ya, sekarang sudah tidak ada lagi. Kalau yang di Pelaihari berlokasi di samping lapangan sepakbola Hasan Basri. Mungkin sekarang sudah hancur jadi pemukiman penduduk, atau fasilitas lainnya,” cerita Djojok.

Ketelatenannya dalam menulis dan kecerdasannya dalam ilmu hitung membuat Van der Pijl dipercaya panitia pengurus masjid satu-satunya di Banjarbaru, yakni sebagai bendahara. Atas pernmintaan Zafry Zam-zam dan kawan-kawannya masa itu. (bersambung/ananda perdana anwar)