Catatan Perjalanan, Timpah-Palangkaraya (4/5)

 

Mungkin inilah rute terpanjang yang kami lewati setelah sebelumnya. Jalan terasa hanya milik kami berempat. Saya telah merampungkan tugas di Kota Buntok, kami menuju Palangkaraya yang dibuka dengan jembatan dan aspal mulus yang sempit.

Jika disandingkan, suasana ini mirip sekali jalur Sungai Gampa menuju Marabahan. Itu pada awalnya. Kita tak pernah tahu bagaimana suasana jalan di tengah-tengahnya.

Tidak ada kesempatan saya membuka google maps. Setelah disadari, posisi kami jauh sekali dari pemukiman. Dan ini bukan hutan rimbun. Melainkan hutan kering dan rawa. Sedikit gersang. Di pertengahan jalan banyak sekali saya lihat pepohonan hitam kering yang menjulang tinggi dibandingkan tanaman di sekelilingnya. Pemandangan di sekitar kami selalu berubah-rubah setiap 1 sampai 2 Km jauhnya.

Melaju dengan tenangnya, stay control. Hanya ada beberapa buah sepeda motor dan mobil saja yang melintas berlawanan arah atau mengejar dari belakang. Boleh dibilang, jalan raya ini sepi sekali. Sangat sepi. (Flashback ke catatan pertama, saya banyak sekali berfoto di atas motor ketika ini, karena tidak sempat memostingnya, saya kehilangan file foto tersebut).

Sejauh mata memandang, sejauh itu pula lah jalan yang terlihat di depan. Kadang kami mendapati tugu-tugu perbatasan wilayah kabupaten. Keluarlah kami dari Barito Timur, kini memasuki Kabupaten Barito Selatan.

Dear pembaca budiman, pernahkah kalian mendengar salah satu lirik lagu dari grup music bernamakan Payung Teduh.

Parararara.. Parararara.. Parararara… Pararara…

Parararara.. Parararara.. Huuuu…uuu….

Aku ingin berjalan bersamamu dalam hujan dan malam gelap

Tapi aku tak bisa melihat matamu

Aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur

Aku ingin berdua denganmu tapi aku hanya melihat keresahanmu

Parararara.. Parararara.. Parararara… Pararara…

Parararara.. Parararara.. Huuu.. Huuu…

Aku menunggu dengan sabar di atas sini melayang-layang

Tergoyang angin menantikan tubuh itu.

Di mana relasinya? Tidak ada. Hanya saja, ketika membaca salah satu plang penunjuk arah dari Dinas Perhubungan, saya mendapati Desa Bernama Pararapak. Mirip kan?

Screenshot_2016-07-20-20-48-06_com.google.android.apps.maps (1)

Pararapak adalah sebuah desa yang termasuk dalam Kecamatan Dusun Selatan, Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Dari jalan raya saja, Desa ini nampak sepi sekali. Mungkin penduduknya hanya beberapa puluh ribu saja. Saking penasarannya setelah di kota, saya mencari tahu tentang desa ini.

Hanya numpang lewat. Tidak ada persinggahan yang layak di Desa ini. Kami terus melanjutkan perjalanan. Suasana udara yang nyaman dan matahari yang menyapa lembut di sebelah barat membawa perjalanan begitu menyenangkan. Dengan beberapa tikungan lembayung terasa asik sekali.

lirikkirikananblogspot

by net. lirik iri kanan blogspot.

Ada sebuah tikungan tajam ke sebelah kiri yang mengagetkan kami. Seorang rider muda dengan Jupiter MX berwarna biru menikung seperti pembalap dari arah berlawanan (ngajak bersaing). Lagaknya sudah seperti Komeng dalam iklannya. Untunglah Bungker sebagai rider sigap ketika ini.

Sejenak kita tinggalkan Desa Pararapak dengan lirik lagunya. Perjalanan berlanjut dengan aspal yang tenang namun bergelombang. Aspal yang berbatu-batu dan berpasir putih. Aspal yang masih setengah jadi. Sampai-sampai aspal yang masih dalam pengerjaan. Ya, kami menemui proyek pengaspalan di tengah jalan ini. Pemandangan yang sangat asing dan sangat jauh dari keramaian. Gersang. Dan lagi, saya tak sempat memotonya walau sempat terpikirkan.

Kemudian kami mendapati plang dengan nama yang terasa akrab para penggemar Anime. Adalah Desa Madara, salah satu desa di wilayah kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah. Saya bilang, penggemar Naruto pasi tahu ini. Kami putuskan untuk berhenti dan berfoto di depan plang. Sekaligus isitrahat.

Screenshot_2016-07-19-20-02-28_com.instagram.android

Pepohonan rindang menuju kegelapan seperti tampak di hadapan. Wajah matahari tinggal lagi setengahnya. Sebentar lagi Matahari tenggelam penuh. Kami sama sekali tidak melihat adanya penerangan jalan umum. Tiang dan kabel-kabelnya saja tidak ada.

Saya ingat angka digital pada arloji menunjukkan angka 18.05. Setelah beberapa kali melihat rumah-rumah berjejer lenggang, beserta rumah makan dan bis kota yang lewat, juga deretan kios menjual keperluan dan premium eceran, kami memasuki desa yang bernama Timpah.

“Bagaimana kalau kita mengopi sebentar?”

Tanyaku dengan jawaban yang dikembalikan “Terserah pian aja”. Kami berhenti di salah satu kios yang juga warung kopi. Membuka tangki bensin dan mengisi masing-masing dua liter. Dan saat membayar, baru kuketahui 1 liternya seharga Rp.9.000. Wajar, kan di tengah hutan. Check Point 5.

Screenshot_2016-07-19-20-02-21_com.instagram.android

Kami menunggu matahari tenggelam penuh di sini dengan berbagai obrolan. Sebagai tanda agar para follower mengetahui saya sedang berada di mana, maka saya sempatkan berfoto dan memostingnya walau sudah mengetahui suasana alam mulai gelap. Check Point 5. Ini adalah tempat peristirahatan.

Ada seorang paruh baya yang membeli rokok di kios ini. Dia menyempatkan bertanya saat melihat penampilan kami berempat.

“Dari mana, De?”

“Tamiyang Layang. Ke Palangka. Apa masih jauh , Pak?”

“Ya sekitar 80 Km lebih lah,”

“Mungkin 2 jam perjalanan, ya?”

“Buat saya ya 1 jam saja sudah nyampe.” (Bapak ini menggunakan Kawasaki KLX).

“Di perjalanan lumayan terang, kan, Pak?”

“Ya gelap lah. Mana ada lampu jalan.” Jawabnya sembari menutup pembicaraan. Kami menguncapkan terima kasih dan ia mulai melaju dengan trailnya.

Obol memaparkan, perkiraan kami sampai ke pusat kota Palangkaraya sepaling cepat pukul 21.00. Itu juga paling cepat. Kini suasana alam sudah mengaru biru. Biru dalam artian sebenarnya.

Screenshot_2016-07-18-00-52-59_com.google.android.apps.maps

Usai memantapkan niat. Kami memulai perjalanan. Saya sebagai rider. Dear pembaca, saya rasa kios barusan yang kami singgahi adalah penghujung kampung. Selanjutnya gelap, tak ada lagi rumah berpenghuni. Saya tak sadar, lebih tepatnya tidak melihat apakah ada gubuk atau rumah lagi, karena sudah tidak ada lagi cahaya selain lampu depan dan belakang motor kami. Bahkan garis putih pada jalanan pun tak terlihat.

Perjalanan sudah sangat jauh. Jauh sekali. Terasa sangat dalam, entahlah, seperti ke dalam goa kesannya. Beberapa kali ada mobil dengan cepat melewati kami. Beberapa kali juga jembatan demi jembatan kami libas. Ada juga beberapa pengendara tanpa helm yang membawa kayu kami lewat. Lagi, tanpa penerangan sama sekali.

Berdasarkan efek saya sehari yang lalu, kemungkinan kantuk akan menyerang saya sekitar setengah jam lagi. Sembari tetap berkonsentrasi, saya sadari duduk Bungker tampak menjauh di belakang saya. Saya tepuk, dan berusaha seperti mengangkapnya. Prasangka, mungkin dia yang sempat tertidur. Dan sadar kembali bahwa sedang dalam perjalanan mencekam.

Tiba-tiba di pertengahan jalan, saat kecepatan sedang digeber, sekelibat kami melihat 2 orang pejalan kaki yang satunya mendorong sebuah motor Suzuki Satria F150 di sebelah kiri.

Saya dan bungker tampak sepemikiran. Memperlahankan maju motor. Dan memutuskan untuk kembali mendatangi dua orang tadi. Kasihan sekali dia, saya bergumam. Hanya ada dua kemungkinan, musibah bocor ban, atau kehabisan bensin. Bagaimana jika posisi tersebut menimpa pada kami?

“Kenapa?”.

“Habis minyak,” sahutnya.

“Ya sudah. Buat, aku dorong,” jawab saya sok kuat.

Ternyata, mendorong motor mogok yang ditunggangi 2 orang itu berat sekali. Mungkin belum 1 Km perjalanan 50km di tengah gelap malam, kaki kiri saya di pedal belakang terasa sangat nyeri. Sudahlah, saya putuskan bertukar joki saja.

Bungker ambil alih kemudi. Sembari saya menyeimbangkan di belakang. Saya menaruh kepercayaan penuh di sosok badan tegap layaknya prajurit ini. Jauh sekali ini. Membayangkannya mendorong motor itu sampai mendapati kios yang berjualan bensin, dan tanpa penerangan jalan sekali pun.

Proses itu memakan waktu kurang lebih 40 menit. Sampai kami mendapati kios berjualan bensin di pinggir sebelah kiri. Semoga ini kampung pembuka dari kampung-kampung berikutnya. Lumayan ada penerang di pinggir-pinggir jalan, kan.

“Mau di isi berapa liter?” Tanya saya.

“2,” jawabnya.

Saya melihat mimik ragu di wajahnya. Sangat tidak meyakinkan. Sedangkan satu kawannya lagi mengobrak-abrik ranselnya. Seperti mencari sesuatu yang memang tidak ada.

Saya berikan selembar uang yang tidak banyak.

“Ini untuk tambahan, semoga cukup,” ucap saya menyerahkan sembari berpesan agar hati-hati di jalan berikutnya. Kami berangkat meninggalkan paman yang menuangkan bensin di tangki mereka. Tak lupa ucapan terima kasih yang terdengar sayup tampak malu.

Ada beberapa obrolan yang terjadi sebelum, seperti pertanyaan perkenalan dan pertanyaan dari mana. Saya dan Bungker membicarakan hal yang sama. Motor termaksud memang bernopol DA. Tentu sama dari daerah kami berasal. Namun penampilan mereka bukan musafir dari luar daerah. Benar saja, keduanya mengaku dari desa yang tak jauh dari Timpah, pergi berangkat bekerja dan pulang dalam sehari saja.

Secara pribadi, tidak mungkin sebagai penduduk setempat tidak memperhitungkan jumlah bahan bakar yang mereka perlukan dalam sekali pulang dan pergi. Dan saya berprasangka kuat mereka memang sedang kehabisan uang. Terlepas prasangka itu mendekati kebenaran, Wallahualam.

“Tinggal berapa jam perjalanan lagi?”

“Ya tak jauh, setengah jam mungkin,”

“Sedikit lagi,”

Kami melaju dengan tenang. Sembari mengobrol beberapa. Kampung demi kampung belampu redup terlewati. Sampai kami mendapati plang besar penunjuk jalan yang bertuliskan Palangkaraya 45km. Kamu melaju berharap mendapati lampu-lampu perkotaan.

Sampai pada persimpangan tanpa penunjuk arah. Saya dan bungker berhenti di depan SPBU yang tututp menunggu Obol dan Haji Udin yang tertinggal jauh. Sembari membenarkan selangkangan, turun dari motor berganti joki lagi untuk merenggangkan otot-otot pinggang yang tegang.

Kami bertemu. “Masih jauh?”. “Parak ja, paling 10 menit lagi,” sahut Obol. Kuanggap itu sebagai penghibur saja. Bukankan kita sudah mengeja angka kilometer pada plang yang tampak terlihat.

Perjalanan terus melaju dengan beberapa tikungan tajam dan jembatan-jembatan lagi. Palangkaraya 29km, Palangkaraya 16km, Palangkaraya 7km, Palangkaraya blablabla. Sepanjagn jalan kami selalu terhibur dengan plang-plang penunjuk tersebut. Saya tak sabar menantikan warna-warni perkotaan, Obol bilang, sebagai pintu masuk, kami akan melewati Jembatan Kahayan yang berwarna-warni. Senang sekali mendengarnya.

Masa penantian itu pun tiba, hiruk pikuk lalu lintas berpolusi mulai terasa. Tampaknya, ini perbatasan Kabupaten, dan lihat di sana, warna-warni Jembatan Kahayan. Tampak muda-mudi berkendara hilir mudik, dan kami melewati Jembatan Kahayan dengan riang gembir.

Sampai di penghujung jembatan, memutar ke kanan dan berhenti di bawahnya. Persis di depan mural dan paman pentor terparki. Kami juga memarkir. Dan saya sempat berfoto sendiri di depan mural.

“Kita sudah sampai?”

“Ya, kita sudah di Palangkaraya,”

Belum ada ide kami akan kemana selanjutnya. Yang jelas sudah di Palangkaraya. Mungkin setelah ini ke tengah kota, melewati Kantor Gubernur dan DPRD, atau singgah di taman kota, atau… entahlah. Saya masih mati pikir dalam kondisi fisik sudah teramat lelah. Mata dan kepala sudah berat. Dan kami belum merencanakan… akan tidur di mana malam ini. Kutatap arloji, 21. 15. Kita tak pernah tahu. (bersambung)

Catatan Perjalanan Tamiyang Layang- Ampah (2/5)

Karena ingin sekali eksis dan menandai bahwa saya sedang berada di Kota Amuntai, maka saya niatkan untuk berfoto di icon Itik Alabio, meski sebenarnya sudah terlalu gelap. Alhasil, ketika tiba di lokasi, mood untuk berfoto saya hilang.

Pencahayaannya kurang menarik, dan tentu saja terlihat sangat buruk dalam frame foto. Kami urungkan niat berfoto di Itik dan hanya menyempatkan berfoto di Jembatan Paliwara saja. Saya tak punya lagi gambaran atau bayangan suasana jalanan yang bagaimana lagi setelah kami melewati Amuntai.

Malam semakin larut, hari semakin dingin, (klise banget ya) rasanya ingin sekali cepat tiba di lokasi. Haji Udin mengkonfirmasi sudah menghubungi Galapung (bukan nama sebenarnya, red) untuk bersiap menjemput kami di pinggir jalan raya guna membimbingnya ke rumah kakaknya yang tidak jauh dari wilayah Pasar Panas, Tamiyang Layang.

Damn, Check Point 2. Di sinilah kami harus beristirahat, beruntungnya rumah yang bernomorkan 001 RT 00 1 RW 001 penghuninya sedang tidak di rumah, kami menginap berlima dengan Adiknya Asmat, (setelah diketahui, nama pemilik rumah, yang tak lain adalah kakaknya Galapung).

Sejujurnya saya tak menyangka akan tidur senyaman ini, maksudnya di atas kasur lipat, (setidaknya bukan di matras atau sarung yang sudah dipersiapkan dalam ransel). Karena kami sudah mengantisipasi kalau-kalau kemungkinan terburuk istirahat di tengah perjalanan, semisal ada musibah bocor ban, atau kondisi alam terlalu mencekam.

Galapung, dengan segala kerendahan hatinya memberikan pelayan sebaik mungkin kepada para raja yang berkunjung ke wilayahnya, menjamunya dengan sekuat tenaga, menyediakan hamparan mahligai untuk peristirahatan terbaik, dan… lebay sekali perumpamaannya.

Ya, kami mendapati kamar mandi terbaik untuk membersihkan diri, melaksanakan kewajiban, membuat minuman panas dan beberapa snack penghantar tidur. Menuju perbaringan, Bungker berpesan kepada kami “Jangan ada yang menggaraknya, awas mun wani!,” katanya. Mau bagaimana lagi.

Pukul 05.30 Wita. Saya ingat sekali karena ketika bangun menyalakan pencahyaan pada arloji. Ya, pertama, saya pernah mengungkapkan kepada sebagian kawan bahwa saya lebih mudah mengingat apa-apa yang terlihat daripada apa-apa yang terdengar. Dan kedua, saya adalah tipe manusia yang tidak suka melepas arloji dalam keadaan apa pun, baik itu tidur, atau pun mandi.

Usai kewajiban subuh, langit masih gelap membiru, mungkin mendung. Baru kusadari jika dibandingkan dengan jam dinding di rumah ini, ada perbedaan 30 menit dari waktu Martapura, lebih lambat. Untuk kadar penentuan waktu, tapi tidak untuk pergerakan matahari dan waktu sholat.

Lauk pauk dan hidangan yang tadi malam kembali dipanaskan untuk kami santap. Sebenarnya porsi begini bukan untuk sarapan, melainkan makan siang. Ya, ini adalah salah satu moment foto makan bersama hilang, saya tak sempat memostingnya di instagram. Termasuk berfoto di depan plang nomor cantik, Nomor 001 RT 001 RW 001. Mau bagaimana lagi?

Screenshot_2016-07-19-20-01-12_com.instagram.android

Dari kiri ke kanan: Galapung, Haji Udin, Obol, saya, dan Bungker.

Sekitar pukul 08.00 Wita, setelah memanaskan mesin motor, packing keperluan prbadi, mengisi ulang botol air minum, (penghematan), dan berdoa, kami berangkat dari rumah Asmat dan juga bersama Galapung untuk mengantarkan kami ke rumah betang. Sebagian orang bilang, tugu di tengah jalan itu juga berarti perbatasan antara Kalsel dan Kalteng. Secara geografis, kami memang sudah memasuki wilayah Kalimantan Tengah.

Adalah Desa Pasar Panas, Kecamatan Banua Lima, Taniran, Kabupaten Barito Timor, Kalimantan Tengah. Betang Lewu Hante, demikian situs ini dinamakan. Bangunan yang terbuat dari kayu terkeras di dunia ini sebenarnya hanyalah replika alias tiruan dari keadaan yang sebenarnya sebagai tempat ritual bagi masyarakat Dayak Kalteng di pedalaman, bukan di tengah jalan raya yang kami singgahi dalam perjalanan ini.

Screenshot_2016-07-19-20-01-27_com.instagram.android

Di depan patung icon masyarakat Kalteng berpakaian Adat. Dari kiri ke kanan: Galapung, Obol, Saya, Bungker, dan Haji Udin.

Meski demikian, replika ini lengkap dengan segala aksesoris yang detail. Termasuk ukiran-ukiran di kayu jatinya. Beruntung saya sendiri sempat minta fotokan di sini dan memostingnya. Walau terlanjut diedit menjadi hitam putih dan kehilangan file aslinya.

aku_kalteng

Screenshot_2016-07-19-20-01-34_com.instagram.android

Beberapa bangunan berdiri di atas tanah sekitar 2 hektar. Ada panggung terbuka yang biasa dipakai untuk pertunjukan seni, penginapan, taman, serta tak lupa dua buah bangunan rumah betang yang salah satunya difungsikan sebagai museum.

Museum memang belum buka ketika kami sampai, dan ketika momentum berfoto bersama pula, kami sempat bertegur sapa dengan ibu cantik berpakaian PNS ketat yang bertugas menjaga museum tersebut, “Selamat Pagi ibu, permisi numpat foto!,” begitu.

Screenshot_2016-07-19-20-01-40_com.instagram.android

Telah disebutkan, meski tidak masuk ke dalam, saya memunyai insting museum tersebut memiliki beberapa koleksi peninggalan jaman dahulu seperti pistol peninggalan perang, piring malawen, guci kuno, samurai jepang dan senjata tradisional dayak lainnya seperti mandau dan tombak. (Untuk lebih detailnya kamu bisa searching sendiri di google. Sudah banyak, kok yang menulisnya, red).

Screenshot_2016-07-19-20-01-47_com.instagram.android

Dalam bahasa Dayak maanyan, Lewu Hante yang berarti Rumah Besar atau sering disebut Rumah Betang. Rumah betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di pelbagai penjuru Kalimantan dan dihuni oleh masyarakat Dayak terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman suku Dayak.

Setelah dirasa puas untuk berfoto, kami berangkat menuju kunjungan selanjutnya, finish point kami adalah Palangkaraya, berarti kami masih harus melalui Kota Ampah, Buntok, dan Timpah, sebelum melewati Sungai Kahayan Palangkaraya lewan Jembatannya, kita akan tiba pada bagian ini nanti.

Screenshot_2016-07-19-20-01-55_com.instagram.android

Semilir angin berhembus mendadak berhenti, matahari terik terlindung dedaunan nan rimbun. Aroma semesta berubah dengan bau-bauan yang tak bisa kuungkapkan lewat kata. Kami seperti melewati dinding tak kasat meta setelah tugu burung itu. Pemandangan di sisi kiri dan kanan jalan berubah. Hutan dan rumah-rumah desain bahari yang masih bertahan, kawanan kucing yang menjulurkan lidah dan kambing berkaki pendek bertebaran di sana sini. Sebenarnya ini bahasa Haji Udin yang saya pinjam untuk mendeskripsikan Anjing dan Babi. Jangan tersinggung!.

Sekitar 500 meter perjalanan santai 40Km/jam, kami singgah di rumah saudara sepupu perempuan cantik dan putih-nya Obol. Dan, Suaminya. Sekadar silaturahmi pasca idul fitri, obrolan maaf lahir bathin dan menanyakan keluarga satu dengan yang lainnya menjadi latar belakang kami bertiga untuk mengisap sebatang lisong. Setelah pamitan, kami berangkat menuju kota.

Tamiyang Layang, dengan segala kemajuan dan perkembangan kotanya, saya ingat betul, dulu sekali, mungkin 10 tahun yang lalu berkunjung ke rumah Acil alias adik dari ibu saya di kota ini dan sampai sekarang masih di sini. Saya tak berniatkan singgah karena pagi di hari kerja yang sudah barang tentu tidak akan ada orangnya di rumah. Kami berempat berhenti di kios yang masih tutup di seberang Dinas Pekerjaaan Umum Kota Tamiyang Layang. Saya mencoba menghubungi Mama Tity, (panggilan akrab, red) acil saya yang bermukim di kota ini. Hanya untuk bilang, “Ma, ulun permisi lewat di Tamiyang Layang dan kada singgah,” itu saja.

Well, nada sambung berakhir dan telepon tak diangkat, dengan prasangka posisi handphone sedang berada jauh dari pemiliknya. Mumpung jaringan internet sedang soleh-solehnya, di perkotaan, saya sempatkan memosting beberapa foto. Menjaga perhatian para follower, karena saya sudah meniatkan dari awal agar posisi saya diketahui publik, kita tak pernah tahu apa yang terjadi berikutnya.

Waktu menunjukan 09.10 di arloji. Waktu setempat sudah berbeda sekitar 1 jam alias Waktu Indonesia Barat. (Berikutnya saya hanya menggunakan patokan waktu di arloji saya tanpa penyesuaian lokasi). Perjalanan dilanjutkan setelah singgah di SPBU Tamiyang Layang, menerobos deretan pepohonan besar nan rimbun di sekeliling. Dengan aspal yang tidak bisa dikatakan lebar.

Bong demi Bong selalu rutin ditampilkan di kanan dan kiri jalan. Beberapa plang peringatan “Daerah Rawan Kecelakaan” serta “Awas Tikungan Tajam” tak habis-habisnya menghalangi pandangan. Sedikit saja oleng, kamu bisa bertabrakan. Tidak banyak transportasi yang berlalu-lalang membuat setiap pengemudi menambah kecepatan, suka tak suka kita juga harus ikut-ikutan. Saya sangat suka ketika memiringkan motor saat di tikungan, layaknya pembalap Moto GP yang sering saya tonton di kost-kostan kawan. Dan tetap menjaga timbangan serta irama berakhiran –an. Ya, kan?

Karena jalanan yang cukup lengang, kami menempuh jarak kurang lebih 70km dengan waktu 2 jam kurang sedikit. Buktinya kami sampai di Bundaran Kota Ampah sekitar pukul 11.00.

Kami sempat membatalkan niat tidak mampir di Kota Ampah karena mengejar ketertinggalan waktu. Namun kembali ke perencanaan di malam sebelum berangkat, kami akan mampir ke rumah Ali, sahabat yang juga saudara se-Kampus di Martapura yang sedang berada di rumah mertuanya di Kota Ampah, dia dari Samarinda, istrinya yang dari Kota Ampah. Perlu saya rincikan lagi?

“Masih banyak waktu untuk singgah. Bagaimana?,” ujar Bungker.

“Apakah ada jaminan kita akan sebentar saja?” balasku bertanya.

“Tidak ada. Aku jamin kita pasti ditahan!”

“Maksudmu?”

“Kita akan ditahan. Tak sekadar minuman, cemilan, bahkan mungkin segala suguhan makanan yang akan menahan kita. Bahkan kita mungkin disediakan tempat tidur untuk beristirahat.”

“Sebaik itu kah? Jangan lupa, Aku juga mengejar deadline sebelum pukul empat. Kita harus sudah sampai ke kota yang kuat jaringannya untuk aku membuka email. Aku sudah menyiapkan berita wajib yang kukirim sore ini untuk terbit besok,” tegasku dengan niat agar perjalanan terus berjalan dengan lancar.

Secara pribadi, saya tidak terlalu mengenal Ali. Tapi Bungker, Haji Udin, dan Obol sebagai angkatan setelahku di kampus lebih sering bercengkrama dan berbagi rasa bersama baik itu seputar urusan kampus dan kekeluargaan lainnya. Banyak cerita yang saya tidak bisa nimbrung terlalu banyak nantinya.

Saya tak menyangka jika peringatan Bungker sebelumnya menjadi kenyataan, saya juga menyayangkan karena saking nikmatnya santap siang ala desa, lupa memotonya, saya juga sangat menyayangkan… ah terlalu banyak sayang di Kota Ampah. Sayang… (bersambung)

 

 

 

 

 

Catatan Perjalanan, Martapura-Tamiyang Layang (1/5)

 

Setelah melalui upaya yang cukup panjang dalam rangka penyelamatan SD Card saya yang sudah tidak terdeteksi baik di hape maupun pc, maka sah sudahlah, file 16 GB yang biasa saya pasang di Xiaomi Redmi 2 good bye, meninggalkan kenangan fisik berupa lempengan kecil yang kini tak berharga lagi. Padahal, semua memuat kumpulan foto yang telah saya ambil dari awal berangkat sampai ke Palangkaraya, (nanti kita akan tiba ke bagian ini). Bahkan kenangan sebelumnya, baik itu foto kegiatan, pemberitaan, serta video rekaman suara dan gambar saat bekerja. Selamat Tinggal.

Setidaknya, saya sudah sempat memosting beberapa dokumentasi perjalanan realtime di Instagram. Hanya itulah yang sempat terselamatkan. Dan sejumlah foto yang mendampingi tulisan saya berikut ini merupakan screenshoot dari instagram pribadi saya @anandarumi2. By the way, perjalanan itu berawal pada hari Senin, (11/7) kemarin.

Rencana yang matang usai rapat dan packing malam harinya, kami berangkat 4 orang dengan 2 unit sepeda motor matic dari Kota Martapura, meeting point di Kampus STAI Darussalam. Adalah Bungker, berperawakan tegap dan kekar layaknya prajurit, Haji Udin, berperawakan tidak tinggi yang tenggelam dengan ranselnya sendiri, dan Obol, bocah bola berambut pendek berwajah bulat sebagai rider Beat Birunya. Saya sendiri menggunakan Vario Techno berboncengan dengan Bungker. (bukan nama sebenarnya).

Janji di pukul 13.30 Wita untuk berangkat bersama menjadi 15.35 Wita. Dengan cuaca Kota Martapura yang cukup cerah, perjalanan cukup lancar. Saya sempatkan berhenti di Astambul untuk mengisi angin ban dalam agar kencang, dan mem-full-kan tangki minyak di SPBU Desa Mataraman.

Screenshot_2016-07-19-15-41-01_com.instagram.android

Kami tiba di Desa Tatakan, Kabupaten Tapin, di kediaman seorang sahabat yang juga saudara. Check point 1. Sekadar merenggangkan otot yang kaku sembari bercengkrama. Pembicaraan yang alot karena terlalu asik menjadi pembicaraan melebar dan berakhir pukul 18.35. Di sinilah perjalanan sebenarnya dimulai.

Matahari kembali peraduan barat. Senja menjelma. Sedikit cahaya merah masih menaungi perjalanan. Perlu diketahui, saya bersama bungker memang tidak tidur di malam sebelumnya, selain obrolan Tasawwuf yang terlalu larut malam, diselingi dengan tontonan Final Piala Eropa, dan pagi-pagi sekali saya harus berurusan dengan petugas Samsat Corner bersama antrian yang cukup panjang hingga siang hari. Faktor kelelahan dan tidak ada istrihat inilah yang mungkin membuat kepala dan mata begitu berat, dari pukul 20.00 Wita.

Screenshot_2016-07-19-15-41-07_com.instagram.android

Setelah beberapa kali berganti joki, dan sebelum terhuyung sampai ke pinggiran aspal, kami sepakat untuk berhenti di warung makan sebelum Bundaran Ketupat, di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Ada nasi kuning dan nasi putih masak habang yang kami santap untuk makan malam di hari pertama ini. Setelahnya, aku sempatkan terlelap di meja makan beberapa menit. Mungkin sekitar 10 menit.

Perjalanan dilanjutkan menembus cakrawala malam menuju Kota Amuntai, tentu saja kami tak melewati Kota Barabai, karena beda jalur. Ada satu masjid yang kami jadikan tempat persinggahan. Sayangnya, saya lupa mengeja nama. Setelah cuci muka. Aku rebahan bersama yang lainnya.

Ketika bangun, Obol bilang saya tidur mendengkur, Saya rasa hanya beberapa menit saja. Nyatanya, lebih dari 30 menit. Mungkin reaksi normal dari tubuh yang ingin memenuhi haknya. Bahkan katanya, sementara saya tidur, ada mobil polisi yang menghampiri, ia mengira ada pemeriksaan rutin, ternyata hanya numpang memalingkan mobilnya saja di halaman masjid.

Screenshot_2016-07-19-15-41-29_com.instagram.android

Screenshot_2016-07-19-15-41-40_com.instagram.android

Perjalanan kurang lebih 160 Km yang seharusnya kami tempuh dalam jangka waktu 3 Jam dari Kota Martapura membengkak menjadi 5 jam lebih hingga tiba di Jembatan Paliwara, Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Berhenti menyempatkan berselfie.

Screenshot_2016-07-19-15-41-50_com.instagram.android

By the way, ini adalah kali pertama saya melalui Kota Amuntai menggunakan motor. Saya bersama yang lain berkesempatan melihat-lihat situasi pinggiran jalannya di waktu malam dengan membuka helm. Merasakan angin malam di perjalanan santai pedesaan itu beda dengan perkotaan. Ternyata, banyak sekali produsen perabotan rumah tangga berbahan alumanium di kota ini. Baik itu dari jemuran, lemari dapur, sampai alat keperluan rumah tangga lainnya.

Saya kira, beberapa toko penjual perabotan rumah lainnya banyak yang mengambil suplai barang dari kota ini. Hawa dingin dari lingkungan rawa-rawa di sekililing mengantarkan memasuki deretan warung remang-remang. Seperti yang telah lumrah kalian ketahui, perempuan berpakaian ketat, wanita paruh baya berambut jagung, kedipan mata bak perangkap siap menghasut Rem pada laju kendaraanmu. Aku tak lagi merasakan kantuk. Sama sekali.

Deretan warung yang cukup panjang, mungkin sekitar 1-2 Km, ketika waktu menunjukkan 22. 45, kami berniat untuk singgah sekedar meneguk kopi hitam panas walau secangkir saja. Tapi bukan di warung gadis bak selebritisnya, khawatir argo jalan dan biaya perjalanan terpangkas di luar dugaan.

Screenshot_2016-07-19-15-41-57_com.instagram.android

Kami mendapati satu warung kopi dengan Acil dan Paman Berkopiah haji di sana, Memesan kopi dan teh, menyempatkan berfoto. Dan bercengkrama soal rooling door yang tak lagi rooling door. Bungker paling rinci soal ini, aku tak terlalu memerhatikan. Sementara duduk di warung kopi, kami masih mengupayakan agar sampai ke Tamiyang Layang sebelum lewat tengah malam, menginap di rumah sahabat yang juga saudara untuk mengamankan diri dari ganasnya tengah malam di padang hutan. Entahlah, apa yang bakal terjadi, kita lihat saja nanti. (bersambung)

 

Lombok Eksotic (Bagian Kedua/Habis)

 

 

 

 

Banyak tutorial atau penjelasan tentang bagaimana caranya agar bisa sampai ke Gili Trawangan. Tentunya anda bisa cari dengan kata kunci yang tepat. Yang jelas jika dimulai dari Senggigi, para pelancong akan dihadapkan dengan pemandangan pegunungan dan pepohonan berlandscape luas dari dalam bus. Maka dari itu pula, sayang rasanya jika saya melewatkan pemandangan tersebut. Saya sempatkan memotret walaupun bus sedang melaju kencang.

ananda_untuk penyelamatan penyu

 

 

Ada penangkaran penyu di Gili Trawangan. Bagi pengujung yang senang party tentu di sini bakatnya akan tersalurkan. Kata Herman, guide kami yang banyak bicara itu, para bule di Gili Trawangan biasa menghabiskan waktu pesta mereka di waktu mala, Siang mereka keluar kamar-kamar hanya sekadar berjemur atau makan siang. Menjelang sore mereka masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat lantas keluar lagi menjelang sunset.

ananda_wisata2

 

ananda_wisata

 

ananda_backpacker2

 

ananda_gil

 

ananda_gil15

 

ananda_gil8

ananda_gil7

Ada penyewaan sepeda dengan tarif 25 ribu per jam. Saya menyewanya dengan seorang sahabat dengan niat mengelilingi pulau kecil ini. Hasilnya, banyak spot-spot sepi dan menenangkan. Tidak terlalu banyak pengunjung. Bahkan di balik dermaga adalah sunset point. Adalah wilayah-wilayah yang terkadang privat karena para bule-bule tak ingin diganggu.

 

ananda_gil6

ananda_gil5

 

ananda_gil4

 

ananda_gil3

 

ananda_gil2

 

ananda_gil

Anda tertarik?

 

 

Lombok Exotic (Bagian Pertama)

Kurasa ini adalah tulisan biasa. Terlebih mereka yang senang berwisata. Apalagi sudah berkali-kali pergi dan menikmati indahnya Lombok dengan pantai dan pulau-pulau di sekitarnya. Ya, boleh dikatakan, pantai-pantai di Indonesia adalah surge bagi para turis. Dan ini adalah kali pertama saya mendapatinya. Pergi ke Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Saya kira, tulisan ini bisa menjadi manfaat untuk sebagian orang, menjadi inspirasi beberapa orang. Atau bisa saja memuakkan, whatever-lah. Sing penting bisa berbagi cerita. Sing penting nulis. Itu aja.

Rinjani dan Gili Trawangan dari Balik Jendela Pesawat

Rinjani dan Gili Trawangan dari Balik Jendela Pesawat

Kesan pertama saat aku menengok tanahnya dari balik jendela pesawat, NTB memiliki tipe tanah yang tandus, gersang, cukup panas untuk ukuran pulau di luar Kalimantan. Well, saya berangkat dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dan harus transit terlebih dulu di Bandara Juanda Surayabaya.

Aku berangkat beserta rombongan. Tentu akan berbeda dengan perjalanan traveler kebanyakan yang hanya beberapa orang atau sepasang kekasih saja. Atau backpacker yang senang berpetualang. Ada 30 orang se-pesawat. Belasan di antaranya adalah kawan-kawan wartawan dari media cetak dan elektronik. Sisanya pegawai. Sudah, pokoknya begitu saja.

Bandara International Lombok

Bandara International Lombok

Dari Bandara International Lombok, kami diarahkan seorang Guide yang banyak bicara (namanya juga guide) dan bercerita tentang sisi negatif dan positifnya tanah jajahan Bali. Mulai dari tipe masyarakatnya, kelakuan dalam berlalu lintas, sampai sejarah kerajaannya. But, saya tidak akan memaparkan itu dalam catatan perjalanan ini. Puaaanjaaang banget, bro! Buka Wikipedia saja.

Keinginan saya pribadi tak lebih untuk menambah koleksi foto perjalanan saya bersama sejumlah jam tangan di aku instagram. Maklumlah, secara saya wartawan yang juga penjual jam tangan. Hobinya pamerin jam tangan dengan latar belakang tempat yang berbeda-beda. Itu misi saya turut serta dalam agenda perjalanan ini. Jadi kalau banyak foto jam tangannya, tolong dimaklumkan saja. Oh iya, jangan lupa follow instagram saya, ya! @anandarumi2. Beberapa foto yang saya posting di tulisan ini menggunakan Canon EOS 700D, Lensa Tamron 10-24mm, Samsung Galaxy Camera, dan Canon Ixus 105.

ini taman yang saya maksudkan

ini taman yang saya maksudkan

Pukul Sekitar pukul 11.30, perjalanan paling wajib adalah menuju Kantor Pemerintahan Kota Mataram. Di sana, para pegawai harus menunaikan hajatnya terlebih dahulu sebagai kunjungan kerja dan secara formal. Biasa, ngobrol, tukeran cinderamata, berfoto bersama, selesai. Dan resmilah rombongan kami menjadi tamunya Pak Walikota Mataram.

Sementara itu sedang berlangsung di dalam gedung kantor, saya berkesempata untuk sekadar keluar dari Bus Wisata dan smoking sesaat. Tepatnya di taman samping Kantor Walikota Mataram. Setelah saya ketahui, taman itu namanya adalah Taman Sangkareang. Ada air mancur di tengahnya. Beberapa titik di sekitarnya juga terdapat beberapa fasilitas publik dan olahraga. Taman ini tepatnya bertetangga dengan pendopo Walikota Mataram. Acara formal selesai, ngobrol ngalur ngidul dan beberapa batang rokok sudah dimatikan, wisata pun dilanjutkan. Cabuuuuuutt!! Oh, iya, satu orang di antara kami tidak ikut, seorang gondrong jurnalis Duta Tv sudah meagendakan perjalanannya sendiri menuju Kampung Banjar di Mataram. Setelah pada akhirnya mengapa saya tidak mengikuti dia saja. Ah, sudahlah, nanti saya ceritakan.

Kolam renang di tengah Taman Narmada

Kolam renang di tengah Taman Narmada

Satu jam setelahnya, perjalanan dilanjutkan menuju taman Narmada. Di sinilah semua rombongan mulai berhamburan. Beberapa baju batik juga diganti dengan T-Shirt. Yang tadi tampak rapi mulai berhamburan. Eh, ada yang lepas jilbab juga. Ya, maklum sajalah, keluar kandang. Aku sih asik aja, nambahin koleksi foto seperti niat awal.

Taman Narmada terletak di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat atau sekitar 10 kilometer sebelah timur Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Taman yang luasnya sekitar 2 ha(hektar are) ini dibangun pada tahun 1727 oleh Raja Mataram Lombok, Anak Agung Ngurah Karang Asem, sebagai tempat upacara Pakelem yang diselenggarakan setiap purnama kelima tahun Caka(Oktober-November). Selain tempat upacara, Taman Narmada juga digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja pada saat musim kemarau.

Pendopo Walikota Mataram

Pendopo Walikota Mataram

Nama Narmada diambil dari Narmadanadi, anak Sungai Gangga yang sangat suci di India. Bagi umat Hindu, air merupakan suatu unsur suci yang memberi kehidupan kepada semua makhluk di dunia ini. Air yang memancar dari dalam tanah(mata air) diasosiasikan dengan tirta amerta(air keabadian) yang memancar dari Kensi Sweta Kamandalu. Dahulu kemungkinan nama Narmada digunakan untuk menamai nama mata air yang membentuk beberapa kolam dan sebuah sungai di tempat tersebut. Lama-kelamaan digunakan untuk menyebut pura dan keseluruhan kompleks Taman Narmada.

Bale Petirtan Taman Narmada

Bale Petirtan Taman Narmada

(Terima Kasih Wikipedia… ^_^). Begitulah singkatnya. Katanya, ada kolam air awet muda di sana. Pengunjung yang masuk ke dalam pun wajib memakaio kain kuning yang dililitkan di tubuh. Ada yang memakainya untuk membasuh muka. Ada yang membasahi seluruh kepala. Beberapa kawan sempat memoto kawan yang lain ketika ia sedang memandang handphone, eh disangka serius banget sedang berdoa. Fotonya jadi barang bukti buat bahan bullying. Ada-ada saja. But, saya tak bisa menceritakan secara detail karena gak ikut masuk ke dalam. Ya, malas aja sih. Di luar sedang asik foto-foto. Ada pura. Ada kolam, eh… ada anjingnya juga nunggu di atas nangga. Mau balik badan turun tangga takut mencolok. Ntar dikira si anjing saya takut sama dia. Padahal  sih takut beneran. Untunglah, si anjing nyeloning saja turun tangga melewati saya. Sampai lah saya di depan pura pada undakan tanah yang paling tertinggi. Kata orang penduduk sini, Taman Narmada adalah perumpamaan atau miniature dari Gunung Rinjani. Makanya dibuat mendaki kayak gunung gitu. Ya gitu, deh pokoknya.

Kolam Pemandian di Tengah Taman Narmada

Kolam Pemandian di Tengah Taman Narmada

Kira-kira saya beserta rombongan menghabiskan satu jam hanya sekadar berfoto-foto dan mendengarkan ocehan guide. Maaf, ya, untuk perjalanan di hari pertama ini belum ada cerita pantai. Nanti di bagian kedua. Keep Follow me, oke!

Di Balik Patung ini adalah kolam yang katanya sumber air awet muda

Di Balik Patung ini adalah kolam yang katanya sumber air awet muda

Banyak yang menawarkan sejumlah kerajinan tangan dari kerang dan T-Shirt Lombok di sekitar Taman Narmada. Termasuk Mutiara, sebagai salah satu batu mulia produk andalan Lombok. Yang dipuja-puja kaum jet set dan artis Hollywood. Tapi sudah diwanti-wanti oleh Guide kalau jualan di luar bukan mutiara asli, melainkan imitasi. Tapi, katanya, kalau sekadar untuk hiburan ya tidak apa-apa lah. Siapa juga yang tahu. But, sejak awak berangkat saya juga sudah diwanti-wanti dan bertekad kuat untuk tidak membeli apa pun. Kembali ke misi awal, hanya menambah koleksi foto saja. Titik.

Nih dia, Jurnalis Radio Abdi Persada FM, Sempatkan Berfoto dengan background Taman Narmada

Nih dia, Jurnalis Radio Abdi Persada FM, Sempatkan Berfoto dengan background Taman Narmada

“Yang belum masuk, angkat tangan!” ini joke paling standart dan rutin dilemparkan Guide kepada para rombongan setelah duduk dalam bus. Ya tentu saja tidak ada yang angkat tangan. Kalimat inilah yang selalu terlontar saat melanjutkan perjalanan hingga dua hari ke depan oleh, setelah saya ketahui, namanya Herman. Gak pake “Syah”.

Cie Amang Befoto Banar

Cie Amang Befoto Banar

Bus berangkat, dan inilah yang saya sayangkan. Seharusnya, kunjungan ke pura-pura-an itu cukup satu pura. Ya setidaknya di Narmada tadi sudah cukup. Beberapa kawan juga sudah terlihat lelah. Tapi lantaran paket wisatanya memang harus begitu, ya ngikut saja. Saya melupakan saja nama tempat kedua ini. Waktu sudah agak sore sekitar pukul 14.30 Wita. Selain pura yang entah saya tidak terlalu tahu namanya dan malas men-searching-nya di google, saya duduk di warung kopi terdekat bersama tiga orang sahabat. Satu fotografer, satu journalis Banjar Tv, satu Lurah, dan seorang lagi staf dari bagian Humas Protokoler. Jadilah kopi hitam. Apa sehh??>?>??>

Saya yang pake Kemeja Hitam Merah. Itu tangan kok lebih putih dari muka ya? Bahaya nih, efek matahari siang nih.

Saya yang pake Kemeja Hitam Merah. Itu tangan kok lebih putih dari muka ya? Bahaya nih, efek matahari siang nih.

Setidaknya cukup menyegarkan mata. Ya, sugestinya, kan gitu. Untunglah di belakang warung terdapat mushola yang jaraknya tidak terlalu jauh. Setelah kewajiban ditunaikan perjalanan dilanjutkan menuju Lombok Exotic. Kalimat ini sebenarnya sudah saya temukan di plafon Bus. Ternyata, Lombok Exotic juga menjadi salah satu prdoduk T-Shirt, Aksesoris, dan Souvernir resmi bikinan Lombok. Kalau Jogja, mungkin Joger kali ya?!?!?!?!

Tuh kan, dari dalam Bus juga sudah ada tulisan Lombok Exotic

Tuh kan, dari dalam Bus juga sudah ada tulisan Lombok Exotic

Sekali lagi, saya menahan diri untuk tidak membeli apa pun. Sebenarnya sih bukan akal-akalan, tapi emang benar buat menghemat. Gak nyangka, kalau nafsu belanja udah memuncak, kadang lupa berapa budget yang kita bawa. Meski khawatir, ternyata kekhawatiran saya sangat berguna dan tidak membuah penyesalan saat pulang ke kampong halaman. Nanti deh saya ceritakan.

para penjual aksesori

para penjual aksesori

Kembali ke dalam Bus setelah “Shoping Time” berakhir. “Buset, aku udah gak nyadar. Habis 500 ribu Cuma buat beli kaos doang,” ucap seorang sahabat saat masuk ke dalam Bus. Tuh, kan, apa kubilang. Kalau beli oleh-oleh untuk satu orang keluarga gak adil rasanya kalau yang lain gak dibelikan. Ujung-ujungnya nafsu belanja memuncak. Mending gak beli buat siapa-siapa sama sekali. Awalnya melihat-lihat ke dalam… sebutlah distro… saya kepingin juga beli celanda pendek ya siapa tahu buat mandi di pantai nantinya. Dan sandal jepit buat jalan-jalan santai. Siapa tahu! Eh, ternyata kita tak pernah tahu.

Bus berangkat. Beberapa orang juga sudah tertidur di dalam perjalanan. Ada juga yang mengeluh pengen buru-buru check in hotel. Ada yang ingin pup lah, kencinglah, mandilah, makanlah, macam-macam, pokoknya segala bentuk alasan dari jaman jabot dikelurin demi beristirahat.

ananda_jualan mutiaraTahu-tahunya, peket wisata kembali menjadi kambing hitam. Herman mengaku sdah terlanjut memberitahu pihak hotel bahwa rombongan akan check-in habis setelah magrib. Dan perjalanan selanjutnya adalah ke toko mutiara yang asli. Asli bro, original. Ya, sebagai kaum Adam sih dengarnya biasa aja. Yang kaum hawa juga. Awalnya biasa-biasa saja. Sumpah. Malah gak kepingin sama sekali. Maunya ke hotel. Kekeuh banget.

ananda_Distro“Ya sudah kalau gak ada yang beli gak apa. Yang penting kita berhenti dulu. Sekadar melihat-lihat. Karena rutenya memang sudah harus begitu. Lihat-lihat aja dan sekadar menambah wawasanlah, yang ini mutiara asli. Yang ini imitasi, jadi bisa tahu cirinya bagaimana. Dan yang di toko ini sudah bersertifikat.” Promo Herman.

Suasana Dalam Bus

Suasana Dalam Bus

Bus berhenti, Herman bersua. “Baik bapak ibu. Ini toko mutiara yang asli. Yang kepengen lihat silakan. Yang mau tetap di Bus juga tidak apa-apa. Sebentar saja. Kurang lebih setengah jam ya. Karena perjalanan menuju hotel juga masih jauh,” katanya.

mutiara dalam etalase

mutiara dalam etalase

Satu orang turun. Dua orang turun. Tiga orang, empat orang, dan akhirnya semuanya turun. Ya, daripada ketinggalan saya juga ikut turun. Kembali ke misi awal saja, nambahin koleksi foto. Padahal semua gadget sudah pada low bat. Biarlah, yang penting bisa smoking sejenak.

mutiara dalam etalase

mutiara dalam etalase

Semuanya menyebar. Dari segala penjuru mata angin. Dari yang banyak tanya sampai yang mulai menawar. Dari yang tanya harga sampai yang jaim. Singkatnya, saat balik ke dalam Bus, beberapa di antara mereka menenteng bug kecil tempat mutiara bersembunyi. Yah, akhirnya kebeli juga. Tuh, kan, gara-gara lihat, kan. Mata memang senang menjerumuskan.

coba tebak yang lagi ulang tahun yang mana hayo?

coba tebak yang lagi ulang tahun yang mana hayo?

Perjalanan selanjutnya. Hanya kegelapan yang saya temui. Karena saya tidur. Dan bangun sudah di sebuah restoran. Di pusat keramaian. Hari sudah petang. Tempatnya cukup bagus diiringi musik tradisional yang nyaman. Sengaja lebih dulu diajak ke tempat makan dengan asumsi kalau sudah sampai ke hotel para tamu pasti sudah malas keluar-keluar karena sudah kelelahan.

Formasinya prasmanan. Semua makannya lahap. Dan ada kejutan perayaan ulang tahun juga kepada seorang Bapak. Ternyata ada kejutannya juga ya. Ternyata mereka juga menyiapkan kue ulang tahun kepada si bapak ini. Hehehe. Keren juga, ngerjain orangtua itu mengasyikkan. Mimik muka kagetnya itu lho… oh iya, saking tertawa-tawa saya pun hampir kelupaan harus mengabadikan moment tersebut. Akhirnya saya kebagian dokumentasi tiup lilin, salam-salaman, dan tepuk tangan.

cie bersih-bersih kolam pak

cie bersih-bersih kolam pak

Acara makannya sudah berakhir bro. Seperti biasa, keluar hotel kita mendapati lagi masyarakat yang jualan mutiara dan T-Shirt. Jarak restoran tak terlalu jauh dengan hotel yang kami tinggali. Hotel Bintang Senggigi namanya. Lumayanlah, ada kolam renangnya. Di sinilah penyesalan saya bermula, ternyata pihak hotel tidak menyediakan sandal. Sialan, hal ini membuat saya harus ke kios terdekat untuk membeli sandal jepit. Dan terbelilah sandal bermerek sky way di kios depan hotel. Dan satu lagi yang saya harus sesalkan, tidak etis rasanya kalau berenang dengan celana panjang. Shit! Kenapa saua tidak jadi membeli kolor tadi ya. Itulah kawan, tidak ada penyesalan yang datangnya di depan. Akhirnya saya berpikir, akan keluar malam ini dengan niat membeli celana pendek alias kolor untuk sekadar nyebur. Hiks!

ini hotel di belakang kolam renang segerrrrr...

ini hotel di belakang kolam renang segerrrrr…

Uniknya daerah Senggigi adalah, hampir semua bangunan hotel dibangun di bibir pantai. Jadi otomatis, buka pintu, bibir pantai di depan matamu. Deburan ombak dan pemandangan pasir putih pun menantimu setiap pagi. Tapi ini kan sudah malam ya. Brrrr… udaranya sangat dingin.

Aku mendapatkan kamar nomor 209 dan terpaksa harus bertiga. Itu juga setelah negosiasi dan bertukar teman kamar yang sejiwa dan “Rasuk Pamandiran” saya berkumpul dengan teman-teman dewasa muda dan para fotografer. Gak seru kalau harus satu kamar dengan orangtua. Gimana gitu.

pagi-pagi udah belanja lagi ini pemandangan di belakang hotel Bintang Senggigi

pagi-pagi udah belanja lagi ini pemandangan di belakang hotel Bintang Senggigi

Mandi ari hangat sudah. Beli sandal sudah, packing, nonton tv sebentar, dan  kamu berencana pergi keluar untuk sekadar mencari hiburan. Menggunakan taxi, pada permulaannya kami berangkat berdelapan. Namun karena seleksi alam, tinggal lagi berlima. Satu orang beralasan pulang karena mengantuk, dua orang lagi karena mau istirahat. ??? beda, ya?

ini pemandangan di belakang hotel waktu pagi

ini pemandangan di belakang hotel waktu pagi

Ada sebuah café di tengah keramaian Senggigi. Akkkhh… aku lupa namanya. Tapi yang malam kedua aku ingat kok. Nanti kuceritakan. Hampis semua tempat hiburan, Bar, Café, Pub, Bilyard, dan segalga tetek bengeknya dihuni oleh Turis. Kesannya, kita seperti orang asing. Kesannya kok ini kayak kampongnya mereka gitu. Kita yang singgah memang benar-benar kayak orang asing. Itu sih perasaan saya saja. Apalagi menunya, Inggris semua. Aku pesan yang standar saja. Paling cappuccino dan cola. Dua teman saya, Sebut Umbu dan Yoyo berbadan besar dan doyan nge-Gym pesan tequila dan bir bintang. Dua orang cewek yang satu berbadan besar itu menghabiskan satu mangkok kentang goreng dan banana split. Dan teman cantik, berhidung mancung, berambut pirang, dan yang namanya mirip dengan anak saya ini minum Lemon Squash. Saya jadi ingat, memanggil namanya serasa memanggil anak saya sendiri. Aaaaahh, sudahlah, persoalan pribadi.

Pada intinya sih, kita makan gorengnya bareng aja sih. Tapi entah mengapa yang berperut besar selalu lebih banyak jatahnya. Sekitar pukul 01.30 dini hari. Café memang sudah tutup, tapi beberapa pengunjung memang dibiarkan saja selaur-larutnya berdiam menghabiskan minumnya. Mau tidur sekalian juga boleh. Bahkan, ada tersedia kamar-kamarnya juga. Ya, mungkin ada harga sewa. But, semua tamu di sini bule.

Gili Trawangan, Tulisan berikut. Bocoran fotonya dulu ya... eeeaaa!!!

Gili Trawangan, Tulisan berikut. Bocoran fotonya dulu ya… eeeaaa!!!

Malam yang cukup melelahkan, kami kembali ke hotel sekitar pukul 02.00. Singkatnya, aku bersiap tidur. Charge beberapa gadget persiapan besok paginya menuju pantai. Horrreee…. Gili Trawangan nama pulaunya. Beberapa kawan masih ada yang ngobrol di beranda kolam renang. Hari pertama, biasa saja. Selanjutnya, terserah saya. Bersambung…

 

Mencari Kunci Yang Hilang (Bagian 3/Habis)

Kami keluar dari rentetan pepohonan hutan dan tebing-tebing tinggi di sekeliling. Melewati pintu gerbang yang menyisakan ruang untuk satu orang melewatinya. Sebagaimana yang telah kami lewati saat permulaan.

Di depan sini, kami menemui beberapa penduduk setempat yang menarik lembu/kerbau menggunakan tambang yang dililitkan di kedua tanduknya. Mata kerbau itu ditutupi dengan maksud agar di kerbau tidak liar. Aku memang tak bertanya terlalu banyak saat itu. Yang jelas, tampaknya kerbau itu didatangkan dari pulau pinus seberang.

Perjalanan pulang kami berlanjut dengan tujuan mencari Kak Harie. Sampai di antara pemukiman penduduk belum juga batang hidung Kak Harie terlihat. Sebelum perjalanan dilanjutkan. Aku sempat berhenti lebih dulu karena harus mengamankan beberapa perkakas perempuan dalam tas tangannya. Tersebab –Sisy sedang masuk tolilet-.

Tarif Armada Riam Kanan

Tarif Armada Riam Kanan

Di Jalan kerbau yang dibawa para penduduk itu juga kami temui plang tarif harga untuk naik ke kapal. Tulisan di atas plang kayu tersebut seperti ini “Roda II = Rp 2.000 Roda 4 = Rp 10.000”. Bingung juga, kesannya itu kenapa yang roda 11 lebih murah dari roda 4. Coba.

Dillah dan Syaukani telah mengambil motornya lebih dulu. Sebab Dillah memakirkan motornya di tempat parkir dekat dermaga. Berbeda dengan kami yang memakirkannnya di samping jembatan. Perajalanan dilanjutkan menuruni beberapa anak tangga ke wilayah yang lebih rendah. Menuju perjalanan pulang. Jikalau Kak Harie memang tak ditemukan. Kami mungkin akan menunggunya beberapa waktu menjelang malam. Jembatan terakhir sudah terlewati. Yang lain cemas karena tak menemukan Kak Harie. Di sudut sana. Kulihat seorang pemuda berpakaian lusuh berwarna putih di atas atap perahu. Seorang pemuda dengan kail yang tak berat. Itu dia. Dengan muka masam.

Kerbau yang ditutup matanya

Kerbau yang ditutup matanya

“Sudah ketemu Kak Harie?” Tanyaku kepada yang lainnya.

“Belum. Mana? Tidak ada.” Sahut mereka.

“Itu di ujung sana!,”

“Mana?”

Semua tampak meletakan tangan mereka menaungi alis kedua mata. Aku segera berjalan cepat menuju Kak Harie yang duduk bersila sambil menunggu kailnya dipatuk ikan. Entah apapun jenis ikannya nanti. Lantas, aku langsung mengarahkan lensa kamera kepadanya. Sontak dia berbalik dan memberikan jempol kanannya saatku membidik.

“Dapat ikannya, Kak,” tegurku.

“Kadada nah. Ujar habar iwak disini kada memakan ke cacing atau gabin berandam. Tapi udang halus.” Jawabnya.

“Berarti ikannya elite dong.”

Pemandangan di atas jembatan

Pemandangan di atas jembatan

Aku mengambil beberapa frame reflekis langit di air. Kemudian menyalakan sebatang rokok sembari duduk di warung kopi yang sedang tutup. Menunggu yang lain berdatangan dan tentunya. Minta foto lagi… minta foto lagi!

Tak berapa lama datang Syaukani dan Dillah yang mengambil motornya di atas. Menuju tempat kami berkumpul. Semuanya berhamburan asik dengan spotnya masing-masing. Ada yang berfoto di atas jukung, ada yang sekadar mengobrol, ada juga yang bermain air.

“Kena gin dulu bulik. Justru sore kaini yang suasananya nyaman.”

Sahut Kak Harie setelah diakak pulang. Namun tak berapa lama. Kami akhirnya setuju. Apalagi dengan aku, yang sudah khawatir dengan waktu deadline. Pukul 17.30 Wita. Sudah lewat. Belum lagi ke kota dan ke warnet. Berapa waktu lagi yang aku butuhkan. Padahal aku sudah memperhitungkannya agar sampai tepat waktu dan mengirim berita usai matahari tenggelam. Kami bergegas menuju motor masing-masing.

Zian dan Pacaranya sudah menyalakan mesin dan siap tancap. Aku dan Sisu juga begitu. Disusul Sari dan Lutfie satu motor. Kemudian Ocha dan Diah. Sedangkan Dillah serta Syaukani menunggu di naikkan gunung yang berbatuan.

Gendhis dan Mamanya menunggu di naikkan gunung bebatuan tersebut. Aku bersama Sisy di atas kendaraan masih menunggu Kak Harie yang tampak merogoh-rogoh kantongnya. Membuka semua tas pancing, tas pinggang, jaket, saku, celana, pokoknya semua kantongnya. Namun raut muka cemas tampak mengurat. Sangat tampak.

“Kuncinya gak ada di kantong!” ujarnya setelah kutanya.

“Ah, biasa itu. Pasti lupa meletakkan. Jangan-jangan tercecer di tengah jalan,”

“Tidak mungkin. Seharusnya aku merasa kunci itu jatuh dari saku celana. Aku ingat betul dimana meletakkannya!”

Dia mulai kembali dengan aksi rogoh koceknya. Padahal sudah yakin kunci motor tersebut tidak ada.
“Coba tanyakan ke seberang,”

???????????????????????????????Kak Hari dan aku bertanya ke seberang. Namun informasinya nihil. Tak ada yang tahu. Dia juga khawatir kalau-kalau kunci tersebut tertinggal di lobang kunci jok saat pergi. Dan siapa yang tahu seseorang melihat kunci tersebut kemudian mengambilnya dan menyimpan. Bisa saja saat kami tiada seseorang yang mengambil kunci itu kembali datang dan mencoba membawa Vega R Putih Kak Harie pergi entah kemana.

“Jadi Bagaimana?” tanyaku.

“Aku berharap ada dalam jaket yang dipegang Mama Gendhis,”

Kemudian Mama Gendhis datang kepada kami bertiga setelah dipanggil. Namun karena cukup lama. Yang lainnya pun berduyun-duyun mendatangi kami yang masih stand by di parkiran dan kami bertigabelas kembali berkumpul.”

Kak Harie yang tampak serius memancing di atas perahu

Kak Harie yang tampak serius memancing di atas perahu

“Gak ada. Udah dicheck satu-persatu,” tegas Mama Gendhis cemas.

Semua prediksi dari otak masing-masing dikeluarkan. Maka dari itu juga banyak yang berkesimpulan alangkah baiknya tebeng motor Kak Harie dibongkar saja. Syaukani yang lakukan itu. Tapi sayangnya karena stang motor terkunci jadi agak susah membukanya. Semua jalan sudah ditempuh, termasuk meminjam berbagai jenis kunci di rumah Pambakal. Aku juga sempat bertanya-tanya ke orang yang sedang membakar sampah di samping rumah itu. Ada-ada saja.

“Bagaimana keputusannya. Apakah kita panggil Mas Saprie suruh membawakan kunci serap ke sini. Tapi agak jauh. Tapi hapalkan jalannya,” salah satu usul itu tercetuskan.

“Jangan. Nanti malah menganggu. Mas Saprie kan sibuk juga. Siapa tahu dia sedang ada pekerjaan,” katanya.

Kecurigaan kunci itu terjatuh dalam jok juga sempat dilemparkan. Tapi setelah beberapa orang merogoh ke bawah jok dengan menahan beban tindihnya dan dapat jaket. Hasilnya pun nihil.

“Daripada motornya dirusak. Lebih baik mengambil kunci serap saja,” lantas aku meyakinkan.

“Jangan-jangan memang tercecer,”

“Bagaimana kalau dicari saja,”

“Agar tidak penyesalan kita akan mencarinya,”

Dengan semangat membara dan menggenggam tangan, Kak Harie meluruskan tekad untuk kembali ke Wadul PLTA, mencari beberapa titik dimana kunci itu jatuh atau tercecer.

???????????????????????????????Akhirnya dengan bermodalkan kaca pembesar kami mulai menelaah tapak kaki yang kami jalani. Kutitipkan beberap perkakas tas pingganggku, kamera, flashdisk, dan beberapa barang elektronik kutitipkan kepada Sisy kemudian mengencangkan tali sepatu. Aku berharap akan menjadi pahlawan kesorean hari itu. Mendapatkan kunci motor yang hilang entah dimana. Terjatuh dimana. Atau hanya lupa meletakaannya.

Aku, Kak Harie, Zian, dan Syaukani melangkah menuju tempat pertama-tama yang kami susuri. Dari jembatan, beberapa pasang bola mata kami mengamati ke setiap sudut langkah. Kak Harie mengingat. Menerawang layaknya dukun-dukun dengan mantranya.

“Mungkin di tempat kita pertama turun untuk memancing tadi, Zian,” ujarnya mengira-ngira. Kami bergegas. Lebih tepatnya berbalik ke tempat di awal-awal yang kami singgahi. Menaiki anak tangga. Melewati perkampungan. Menaiki kandang yang terhalang dengan lorong yang hanya muat seorang.

???????????????????????????????Kak Harie turun ke bawah dengan perlahan. Melewati kawat-kawat pagar waduk yang telah bolong entah karena apa.

“Ini tempat pertama yang kami singgahi berdua Zian,” katanya.

Ia turun. Merangkak. Berdiri. Bertiti di antara dahan pohon dan tanah yang agak licin. Nihil. Tetap saja tak ada tanda-tanda disana. Aku melepas jaket levisku. Menggantungkannya di ujung kawat yang terpisah. Aku juga ikut mencari-cari. Berharap menjadi pahlawan di sore hari. Tepatnya agak petang.

“Ciri-ciri pakai gantungan kunci warna kuning,” ucap Kak Harie harap-harap cemas. Namun tetap saja kami tak menemukannya.

???????????????????????????????Tahap kedua pencarian di mulai. Kami naik kembali ke jalan setapak. Kemudian masuk ke lorong kawat yang berlobang yang jarakanya kurang lebih 300 meter dari lobang pertama. Menuju tepian air.

“Sudah. Tak ada. Teruskan ke rerumputan dekat bendungan,” sahutnya lagi.

Kami berempat berjalan menuju lokasi dimana pertama-tama kami stand by. Singkatnya, kita sampai ke lokasi yang dimaksud dan mulai mencari-cari di rerumputan, di selokan yang berair, di sela-sela ranting layaknya pemulung sampah.

“Bagaimana?”

Kami berempat mulai menganalisis dan meneliti sesuatu yang tak masuk akal.

“Aku berharap kaum perempuan di sana bercanda.” Kak Harie berucap.

“Maksudnya?” sahutku.

“Ya siapa tahu mereka sudah menemukannya di sela-sela kantong tas. Atau di saku entah milik siapa. Lalu saat kita datang mereka tampak kegiarangan melihat kita terhuyung-huyung datang. Semoga saja demikian. Aku mengharapkan,”

“Amiiiinnn…!!!!” kami serentak menyahut.

???????????????????????????????Beberapa nyamuk tampak hinggang dan menggigit lengaku. Baru aku sadar kalau aku memakai T-Shirt saja. Bukankah sebelumnya aku memakai jaket levis.

“Asatagaaa!!!!” kataku.

“Ada Apa?”

“Jaketku dimana?”

“Memangnya kamu ke sini pakai jaket?” timpal Syaukani.

“Ya iyalah. Kamu gak lihat apa?”

“Jangan-jangan ketinggalan dip agar kawat di depan sana,”

???????????????????????????????Aku hanya berharap tidak ada yang masuk ke tempat ini setelah kami. Agar jaket yang sebelumnya kugantung di kawat pagar masih setia berada di tempatnya.

“Coba kita cek di sini lagi,” Kak Harie memerintah.

Kami turun ke lobang kawat itu. Kak Harie tampak gesit. Melemparkan jaket, tas pinggangnya, handphone, dompet, dan segala perkakas yang ada di badan. Kemudia ia turun. Meniti beberapa ranting. Bertengger di atas batang pohon yang agak besar, air yang bermeter-meter panjangnya tepat berada di bawah batang pohon itu.

“Tolong ambilkan batang kayu yang agak besar dan panjang!”

Kak Harie berniat menusuk-nusukkannya ke air. Entah mengukur dalamnya atau melihat sesuatu. Kemudia, perlahan ia mulai melepaskan celana. Di lemparnya ke atas. Melepaskan baju. Dan melemparkannya lagi. Akhirnya, Kak Harie hanya tinggal memakai CD, alias Underwear, atau lebih tepatnya celana dalam.

???????????????????????????????Aku langsung berpikir, kenapa tidak difoto saja. Ya Tuhan. Ternyata tidak diperbolehkan. Baru saja aku sadar bahwa saat sekarang ini aku tidak membawa kamera. Aku baru ingat kalau kamera sengaja kutinggal dan kutitipkan kepada Sisy.

“Beruntung pian Kak Harie. Gak sempat ada barang bukti untuk dipermalukan dan ditertawakan,” kataku.

“Memangnya kenapa?”

“Saya lupa bawa kamera. Huh, kenapa jadi ditinggal tadilah”

Aku kecewa. Respon Kak Harie biasa-biasa saja. Ia sudah menceburkan setengah badannya ke air. Saat naik ke daratan, beberapa air menampung di celana dalamnya. Air itu menetes. Layaknya anak kecil yang sedang buang air kecil saat memakai celana dalam saja.

???????????????????????????????“Ya sudah. Tak ada penyesalan. Aku sudah basah-basahan,” sahutnya.

Kami berjalan dengan langkah gontai. Kecewa. Namun tetap berharap bahwa kunci motor begantungan warna kuning itu sudah ada. Kembali menyusuri anak tangga dan jembatan. Hingga sampai ke lokasi parkiran.

**

“Hari ada tiga lelaki yang beruntung karena telah melihat kulitnya yang putih. Tinggal lagi aku becawatan aja”

“Huaaaaaa… itu musibah… bukan anugrah Ka,” teriak kami serempak.

???????????????????????????????Yang jelas. Harapan-harapan tipuan itu hilang sudah. Sudah tak ada lagi usaha mencari-cari. Semua duduk di pelataran rumah pembakal. Adzan margin berkumandang. Hari mulai gelap.

“Begini saja. Motorku biar ditinggal di sini. Besok kembali lagi diambl,” kata salah seorang dari kami.

“Ya. Begitu lebih baik. Daripada harus merusak lobang kuncinya,” kataku.

“Tapi gak apa-apa kan motornya ditinggal disini?”

“Dijamin aman. Biasanya kaitu jua mun urang meninggalakan sepeda motor disini. Mun ada maling kemana jua inya mehiri, pada ke batang banyu lagi,” jawab Pembakal.

Dillah dan yang lainnya saat berusaha membuka jok demi mencari kunci motor Vega R Yang Hilang

Dillah dan yang lainnya saat berusaha membuka jok demi mencari kunci motor Vega R Yang Hilang

Akhirnya kami sepakat. Semua bersiap. Malam itu, kami pulang dengan saling bertunggang 3 satu motor. Aku, Sisy, dan Sari. Dillah, Ocha, dan Dillah. Syaukani dan Lutfie. Zian masih dengan pacarnya. Sedangkan Kak Harie dan Gendhis masih formasi awal menggunakan motor Lutfie.

Seperti yang telah kalian ketahui, motor Sisy itu gemuk, warnanya kinclong hitam putih, tetapi sayang buta. Tak ada lampunya. Jadi sangat berbahaya melewati wilayah gelap di malam hari. Otomatis kami haru berada di tengah-tengah agar penerangan cukup. Sebelumnya juga sempat mengisi angin ban belakang karena bannya kempis.

Di antara kedelapan malam riam kanan, kita berkendara. Melewati beberapa tikungan dan jalan-jalan pegunungan. Sembari tertawan. Dan minum dengan cara menjalankan botol estapet dari yang paling belakang sampai depan. Perjalanan terus berlangsung sampai akhirnya cahaya perkotaan ada di hadapan. Aku tancap gas melewati semuanya karena sudah bertemu dengan cahaya. Hingga tiba di sekretarian Onoff Solutindo. Banjarbaru. Semua kesakitan pinggang. Rebahan untuk meluruskannya. Dan beberapa foto pun diseleksi. Sejumlah Nasi Goreng dan Mie Goreng dipesan untuk menemani makan malam yang melelahkan. Sampai akhirnya dillah menyadari bahwa di sebagian foto banyak yang menampakka detik-detik kunci itu telah hilang. Malam semaki larut dan dingin. Tinggal lagi agenda Kak Harie dan Dillah yang besoknya berangkat kembali ke Riam Kanan. Untuk mengambil motor Vega R Putih dengan kunci serap. []

???????????????????????????????

Mencari Kunci Yang Hilang (Bagian 2)

???????????????????????????????Akhirnya dengan perlahan dan bergoyang-goyang, kami berhasil melewati jembatan gantung yang mengerikan. Sepeda motor terus lanjut ke jalan-kalan perkampungan yang lebarnya tak muat jika mobil lewat sini. Melewati rumah-rumah klasik dan sekolahan SD di perkampungan.

Langit berwarna biru yang luas terpampang di atas kepala kami. Dilanjutkan dengan pemandangan air yang terhampar di hadapan. Panasnya matahari mendadak sejuk saat aku menatap air.

“Sudah kita parkir di sini saja,” ujar Sisy. Kami memarkiran kendaraan di belokan jalan sebelum melewati jembatan yang lebih kuat. Bukan seperti jembatan sebelumnya yang bergoyang-goyang. Awalnya kami memarkirkan kendaraan berjejer di depan rumah orang-orang pribumi. Itu lantaran lebih teduh. Namun karena kurang enak, akhirnya beralih ke tempat di samping rumah orang, meskipun pana manggantang. Kecuali kendaraan Sisy yang lokasinya sudah strategis, agak teduh.

Kak Hari berfoto di Jembatan

Kak Hari berfoto di Jembatan

Masing-masing dari kami sudah melepaskan bebeberapa atribut perjalanan. Dari sarung tangan, jaket, tutup muka, dan yang paling utama, Helm. Di sepanjang jalan kami sempatkan untuk berfoto. Aku juga banyak sekali memoto aktivitas yang ada di sana. Anak-anak yang mandi timbul tenggelam di sungai. Yang menarik lagi adalah penampung yang mereka gunakan. Bukannya dari kulit ban dalam yang biasa di pakai di kota-kota. Melainkan dari kantong plastik yang ukurannya agak besar diisin dengan angin. Hasilnya, pelampung itu tampak transparan.

Kemudian perjalanan kami kami ber-12 (termasuk Gendhis yang paling kecil anaknya Kak Harie) melewati anak-anak tangga ke atas. Di tangga ini pun sempat berhenti untuk sekadar berfoto. Setelah itu maju menuju pagar yang terhalang. Awalnya kami ragi apakah jalur di sini memang terbuka untuk umum? Untung aja ada kenalan lama Sisy yang merupakan orang setempat menjamin aman. Jalur masuk tersebut sebenarnya talah di kandang dengan besi. Menyisakan sedikit ruang di ujungnya untuk dimasuki seorang manusia dengan memiringkan badan. Kebayang gak sih, bagaimana kalau si buncit yang melewati pintu gerbang ini? Untungnya semua dari kami adalah manusia bertipe tubuh ideal.

???????????????????????????????Di sebelah kiri dan kanan kami adalah tebing-tebing yang dihiasi pepohonan layaknya hutan belantara. Menurut informasi, tebing tersebut memang telah terbangun sejak jaman penjajahan Belanda. Dan akhirnya, kami sampai. Di tempat yang dimaksudkan. Sungguh, sangat-sangat tidak menarik bagiku pribadi.

“Ya sudah… kita sampai disini saja. Buka makanannya,” tutur Mama Gendhis.

Semua duduk manis. Ada yang jongkok ada pula yang sekadar bersila. Aku asih melihat-lihat ke sekililing. Di hadapan kami merupakan pintu masuk menuju kantor PLN yang menangani turbin bendungan waduk Riam Kanan terpampang kandang. Bukan kandang permanen, hanya kayu yang melintang. Di situ bertuliskan “Selain Petugas Dilarang Masuk”.

???????????????????????????????“Ayo, kak. Kita foto-foto dulu!” ujar Diah mengajakku. Bukan, tapi mengajak kami semua, siapa saja yang bawa kamera. Inilah resiko fotografer atau smartphone kameranya berkualitas. Selalu disuruh-suruh menjadi pelayang mereka orang-orang yang doyan narsis. Itu adalah kutukan kawan.

Beberapa rekan sudah berfoto di tebing yang tinggi dan curam itu. Saat itu pula Kak Hari dan Zian sudah meninggalkan kami. Dia mengeluarkan alat pancing. Katanya mau ngetes, ikan disini makannya apa. Begitu.

Beberapa dari kami sempat memikirkan, bagaimana bisa sebuah batu besar itu dibentuk rapi sedemikian rupa. Tapi ya sudahlah. Kita tidak ingin membicarakan sebuah filsafat atau sejarah. Tapi nikmati saja udara yang menyejukkan di sekitar lingkungan sekarang. Jauh dari hiruk pikuk lalu lintas. Dan terbebas dari polusi udara. Aku menarik nafas panjang. Menghirup udara segar pegunungan. Kemudian, datang seorang satpam.

Dari kiri ke kanan: Sisy, Diah, Lutfie

Dari kiri ke kanan: Sisy, Diah, Lutfie

“Mau masuk?” Katanya.

“Gak Om. Di sini saja. Piknik,” sahut seorang dari kami.

“Kalau mau masuk bisa aja. Di dalam lebih nyaman lihat pemandangan waduknya. Kalau berfoto disitu juga pasti bagus. Asal jangan langsung semua. Bergantian aja. Dua orang atau tiga orang,” kata Satpam itu mengakhiri.

Aku juga sempat memikirkannya. Nantilah setelah season foto-foto di sini usai. Salah satu di antara kami (ini sengaja kebanyakan salah satu salah satu dan salah satu. Karena aku lupa waktu itu siapa yang melakukannya) menelpon Syaukani dan Dillah yang katanya sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi mereka tiba. Gumamku.

**

Ocha di Pinggir Jembatan

Ocha di Pinggir Jembatan

Syaukani dan Dillah datang membawa beberapa minuman botol. Namun tak sampai 5 menit, di belakang mereka menyusul sejumlah anak-anak yang tampaka dari pelajar sekolahan islam. Ternyata benar, mereka adalah rombongan Madrasah Ibtidaiyah. Aku mengetahui itu setelah bertanya-tanya ke salah seorang rekan yang juga teman Syaukani. Awalnya aku sangat bingung. Bahasa komunikasi yang dipakai bukanlah bahasa manusia. Eh, maksudnya bukan bahasa banjar yang dipergunakan kita-kita. Tapi, logat mirip-mirip bahasa Thailand. Seperti film-film Thailan yang sering kutonton. Swadikap. Phai tot. Rehe-rehe. Dan lain-lain. Ups, ternyata bahasa itu adalah bahasa Madura.

“Iya memang kebanyakan murid dan gurunya orang Madura. Sekolahannya itu di Pengaron,” jelas teman Syaukani setelah kita mengobrol banyak. Para murid yang jumlahnya hampir 60 orang itu pun juga membawa beberapa makanan ringan, minuman botol dan kaleng. Ini adalah momentum yang sangat aku sayangkan, semua sampah bekas makanan mereka di buang sembarangan di hamparan rumput hijau PLTA yang bersih. Mencolok sekali menjadi tak sedap di pandang. Semua murid juga menulis-nuliskan namanya di tebing-tebing batu. Mungkin karena memang sudah ada contoh yang mereka tiru. Kemudian pulang meninggalkan onggokan sampah-samapah tak bertuan.

Kak Harie memotret pemandangan dengan smartphonenya Samsung Wonder

Kak Harie memotret pemandangan dengan smartphonenya Samsung Wonder

Aku dan teman-teman lainnya sempat memunguti beberapa bungkusan makanan ringan tersebut. Tapi tak semuanya. Lebih kepada lingkungan di sekitar kami berhampar dan berkumpul. Dan aku mengkhawatirkan, kami akan ditegur satpam gara-gara sampah yang berserakan. Padahal… dan satpam itu pun mendatangi kami.

“Maaf Om…” aku mendahului pembicaraan.

“Tadi ada beberapa orang siswa dan siswi katanya dari MI berlibur di sini. Sayangnya mereka sudah pulang dan meninggalkan sejumlah sampah di wilayah itu,” aku sembari menunjukkan.

“Ya, saya cuma antisipasi. Gak enak aja. Di kira kami yang menghamburkan sampah sekian banyak itu. Bahkan di setiap sudutnya,” jelasku.

“Ya sudah.. tak apa-apa. Ini serius gak mau masuk. Mumpung sepi. Dan yang jaga saya, kalau yang lain bisa gak dibolehin,” ujarnya.

Diah, Sari, Ocha, dan Gendhis

Diah, Sari, Ocha, dan Gendhis

Aku menyampaikan maksud satpam itu kepada yang lainnya. Dan mereka mengangguk.

“Oke. Segera. Kami melihat-lihat di dalam,” tutupku.

Satpam itu menunggu dan beberapa dari kami berdiri untuk masuk beserta satpam tadi. Tinggal lagi Sari dan Diah tinggal untuk sementara menunggu beberapa perkakas dan makanan yang kami bawa.

Aku melihat dari beberapa yang kulihat. Kebun-kebun bunga yang terpotong dengan rapi. Kupu-kupu yang tak sempat terfoto. Juga Ular hijau yang melilit di pagar. Nah, kalau ular hijau yang ini sempat terfoto.

Aku juga sempat minta fotokan disamping plang yang berisi peringatan. Kini, semua sudah tak terkumpul, melainkan menyebar ke sana kemari. Ada yang di tengah bendungan. Juga menaiki bebatuan. Kami berfoto bersama-sama. Hanya Kak Harie yang tak sempat masuk ke sini. Sedangkan Zian telah datang menyusul kami.

**

???????????????????????????????Lama sekali kami di sini. Banyak pula obrolan serta percakapan yang saya tidak tuliskan. Apalagi foto, jangan ditanya. Hampir setiap deting. Ada yang bergaya pis, terbang, narsis, perkasa, sok imut, sok cantik, bahkan mengambil salah satu frame dalam film 5 Cm. Lihat saja fotonya yang saya tautkan dalam tulisan ini.

Demi mempersingkat waktu, cerita langsung ke kami keluar dari bendungan. Namun bergantian. Sekarang giliran Sari dan Diah yang masuk ke dalam dan berfoto-foto seadanya. Kami yang sudah keluar kembali ke titik tempat piknik membuka bungkusan nasi untuk makan. Selesai makan, kami bersiap pulang. Semua bersiap memakai perkakas dan atribut yang telah dipakai. Terlebih Gendhis yang sudah sangat ingin ketemu dengan bapakknya, Kak Harie. Sari dan Diah sudah dipanggil agar tak tertinggal. Dan kami kembali melewati medan yang sama. Hutan belantara. Anehnya, beberapa kali aku mengintip di tepi-tepian sungai aku tak melihat Kak Harie. Dimana dia? Apakah dimakan buaya?

Zian dan Pacarnya

Zian dan Pacarnya

Seketika Gendhis pun tampak khawatir. Dimana Bapak? Kok Gak Ada? Tanyanya. Kami menelusuri semak-semak belukar di balik pagar. Tapi tetap saja tidak ada. Sejumlah pagar besi yang robek kami lihati dan pandangi. Tidak ada seorang pun yang bertengger di tepian layaknya orang yang sedang memancing. Kami semakin cemas dan bingung, dimana Kak Harie sebenarnya berada? (bersambung)

???????????????????????????????

Anak-anak penduduku setempat yang berenang menggunakan pelampung dari kantong plastik transparan

Anak-anak penduduku setempat yang berenang menggunakan pelampung dari kantong plastik transparan

Kantor Pembakal/Kepala Desa

Kantor Pembakal/Kepala Desa

???????????????????????????????

Ocha

Ocha

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Lutfie

Lutfie

???????????????????????????????

Diah

Diah

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Sisy

Sisy

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Spiderman or Cicakman?

Spiderman or Cicakman?

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Saat Penulis Numpang Narsis

Saat Penulis Numpang Narsis

???????????????????????????????

Dillah seolah-olah sedang menikmati pemandangan

Dillah seolah-olah sedang menikmati pemandangan

???????????????????????????????

Terserah Anda Bagaimana Menjelaskannya

Terserah Anda Bagaimana Menjelaskannya

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Syaukani Saat Beraksi

Syaukani Saat Beraksi

???????????????????????????????

Ruang Turbin Generator/Dynamo

Ruang Turbin Generator/Dynamo

???????????????????????????????

55 Cm

55 Cm

?????????????????????????????????????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ???????????????????????????????

???????????????????????????????