Catatan Perjalanan, Palangkaraya-Banjarmasin (5/5)

Mungkin belum terlalu malam di Palangkaraya, jika waktu di arloji saya menunjukkan pukul 21.15, suasana Palangkaraya masih jam 8 malam. Bungker, Obol dan Haji Udin menyempatkan “menyucuk” pentol yang sudah tersandar lama di tempatnya. Kecuali saya yang masih memeriksa notifikasi dan mencheck keadaan memori. Faktanya adalah, SD Card yang saya gunakan sudah tinggal lagi puluhan MB saja dari 16 GB.

Sekitar 20 menit kami duduk dan berdiskusi, terbitlah maklumat rute perjalanan yang dimulai dari mengisi premium di SPBU, (karena antrian panjang kami mengisi pertamax), lanjut membeli beberapa kebutuhan akan cemilan di retel 24 jam, lanjut memberi jatah cacing perut yang mulai menggeliat.

Adalah metropolitan bergelar Kota Cantik ini, memang cantik, terlebih malam hari. Setelah mengelilingi bundaran besar, melewati jalan raya utama yang di samping jalannya tertata taman-taman kota untuk masyrakat yang bersantai, tak sedikit pula jajanan dan tempat bermain juga tongkrongan anak muda di sekitar UNPAR.

Kami berhenti di seberangnya, sekedar makan malam yang ternyata lumayan memangkas penghitungan keuangan. Sebenarnya malam belum terlalu larut, mungkin karena fisik yang sudah terlampau lelah, kami secepatnya mencari teduhan menghindari kalau-kalau hujan tanpa permisi, dan kami belum mendapati tempat tidur sama sekali.

Akhirnya diskusi alot berakhir, dari banyaknya usulan kami sepakati bersama untuk tidur di masjid. Beberapa masjid besar kami lewati namun tak bisa masuk karena pagar besar yang terkunci, beberapa lagi memang tidak diperbolehkan ada orang asing yang menginap, sebagian lagi karena memang sudah sangat tertutup, sebagian lagi jauh dari keramaian kota.

Dan sah sudah, kami putuskan untuk menginap di Masjid Shalahuddin, Universitas Palangkaraya. Karena terlalu gelap untuk foto selfie, sebagai tanda kepada pemantau/follower saya di IG, maka saya fotolah tangan saya dengan arloji yang sudah akrab di mata kawan-kawan dengan background plang masjidnya. Check Point 6.

Screenshot_2016-07-21-22-07-22_com.instagram.android

Kami berempat mulai observasi lingkungan. Tampaknya ada beberapa musafir juga yang tidur di pelataran masjid. Ketika mereka bertiga mendatangi merbot/kaum Masjid untuk pemberitahuan sekaligus perizinan, ada seorang yang musafir yang mendatangi saya untuk menanyakan 5W1H. Saya jawab sebagaimana adanya dan dia mulai menjauh untuk kembali ke tempat peristirahatannya.

Masjid Pancasila yang diresmikan Soeharto ini cukup nyaman, dengan desain arsitektur Standart Nasional Indonesia, kami mulai meghamparkan segala isi ransel. Yang perlunya saja. Akhirnya kami berempat tidur di outdoor, yang mana ketika membuka mata langsung melihat langit. Tak sia-sia juga saya bawa Sleeping Bag (SB) untuk difungsikan di malam ini. Usai melakukan semua keperluan manusiawi, kami beranjak tidur.

Mungkin sekitar pukul 03.00, saya terbangun karena kegerahan. Ketika membuka mata, hujan begitu derasnya. Usai melepaskan T-Shirt dan langsung dibungkus kantung tidur, saya lanjutkan pelayaran dalam mimpit. Sempat kutengok teman-teman yang tidur dengan gayanya masing-masing. Gaya Udang, Gaya Sakit Kepala, dan juga Gaya Kupu-Kupu.

Adzan subuh berkumandang, berani tak bangun bisa-bisa kami ditendang. Usai shalat berjamaah, Haji Udin menyalakan kompor lapangan untuk sekadar memanaskan perut dengan air. Sembari banyak obrolan yang terjadi, kami sempatkan selfie.

IMG_20160713_064204-01

kiri ke kanan: Haji Udin, Bungker, Obol, dan Saya tentunya

Strategi diatur, kami menyiapkan diri melanjutkan perjalanan. Sayang cuaca pagi ini, Rabu, (13/7), tidaklah cerah, sedikit gerimis malah. Melihat kondisi micro SD yang sudah tidak memadai, padahal Obol meyakinkan masih banyak tempat asik untuk berfoto, maka saya putuskan untuk menggantinya ke Micro SD Back Up 8GB. Inilah saat yang tidak saya sangka, terakhir untuk melihatnya berfungsi di layar IPS. (Flashback ke catatan perjalanan yang pertama. Saya sadar kehilangan 16GB semua file di dalamnya ketika sudah sampai di Banjarmasin).

Kami sempatkan mengunjungi tugu 0 km yang dibangun Sang Proklamator. Dilanjutkan menikmati matahari pagi yang malu-malu di dermaga pemandangan Jembatan Kahayan. Ketika ini Obol juga menyempatkan mendatangkan sepupu perempuannya untuk nimbrung seadanya. Setelah dirasa cukup, perjalanan dilanjutkan dengan silaturahmi ke beberapa keluarga Obol, dan berhenti lama di rumah sepupunya, atau acilnya, yang mana adik dari ibunya, yang tinggal di Palangkaraya. Begitu adanya.

Screenshot_2016-07-21-22-07-34_com.instagram.android

Check Point 7. Tempat peristrahatan yang cukup lama, jarum pendek jam dinding baru saja melewati dari angka 8 sedikit saja. Setelah bersopan santun layaknya tamu hari raya, kami dipersilakan menikmati hidangan yang sudah tersedia.

IMG_20160713_080823-01

Di rasa waktu masih cukup lumayan, dan menghindari keterburu-buruan saat pulang, maka saya putuskan untuk membuka laptop dan mulai mengetik di rumah ini. Sembari memanfaatkan jaringan yang masih kuat di wilayah perkotaan.

Singkatnya, kami disuguhi bakso special di sini, asli buatan rumah, makan sepuasnya, tambah pentol semaunya, tuang kuah kapan pun mau. Puas sepuas-puasnya. Terasa nikmat sekali, menulis berita pun semakin lancar, sampai jarum pendek jam dinding hampir menempel di angka 11.

Screenshot_2016-07-21-22-07-54_com.instagram.android

Sementara itu, saya tengok Bungker dan Haji Udin yang terlelap lagi. Obol yang asik dengam hapenya. Dan saya menatap layar sembari mulut tak hentinya ngemil.

Laptop shutdown, Bungker dan Haji Udin bangun, kami berempat berkemas. Hampir saja kami makan siang lagi dengan menu berbeda khas rumahan, diminta untuk bertahan karena sebentar lagi siang, tapi nurani saya rasanya sudah terlalu merepotkan, cukup sekali waktu makan saja. Dan ketika sudah siap, hujan pun turun.

IMG_20160713_081136-01

Tugu 0 Km yang berseberangan dengan Kantor DPRD Provinsi Kalimantan Tengah Kota Palangkaraya

Untuk menghindari kerepotan tuan rumah, kami menunggu teduh di beranda saja. Sudah pakai sepatu dan membungkus ransel seerat mungkin. Bungker dan Haji Udin tertidur kembali. Bukan, tapi sengaja melanjutkan tidur yang sebelumnya. Belum cukup, Boi?

IMG_20160713_083902-01

Jembatan Kahayan

Hujan reda. Kami berpamitan, melanjutkan perjalanan menuju Kota Banjarmasin. Saya kira tidak terlalu istimewa perjalnan ini. Namun akan saya beberkan beberapa. Kutatap arloji masih lewati tengah hari sedikit. Perjalanan damai lancar dengan cuaca cerah. Melewati beberapa Kampung yang banyak pura. Melalui beberapa SPBU, dan berakhir di Pelabuhan untuk penyebrangan motor, Kapuas, Kota Air.

Kami menggunakan jalur, yang katanya, bisa menghemat jarak perjalanan sampai 10 Km jauhnya jika melalui darat. Dan ini pertama kali. Kami sempatkan untuk makan siang nasi sop di samping pelabuhan sembari menunggu bongkar muat. Check Point 8. Semangat mengabadikan moment saya berakhir di sini, ketika di atas kapal motor dan menikmati hembusan angin sungai yang membelah daratan Kalsel-Kalteng.

Screenshot_2016-07-21-22-08-13_com.instagram.android

Saya rasa perjalnan menuju Banjarmasin cukup singkat, atau karena kami memang sudah terlalu banyak melalui ratusan kilometer jadi terasa dekat saja. Usai melewati perbatasan Kalsel-Kalteng, mendapati Jembatan Barito, yang menandakan kami sudah di sekitaran Wilayah Kota Banjarmasin, mengakhiri Jalan Trans Kalimantan, memasuki Jalan Birg Jend Hasan Basri. Selamat Datang di Kota Seribu Sungai.

Screenshot_2016-07-27-22-35-37_com.instagram.android

Tidak ada persinggahan lagi selain di rumah nenek, ibu dari bapak saya wilayah Jl Pangeran Antasari. Kamin berisitrahat sore. Check Point 8. Sekadar bercengkrama dan menikmati lelah yang menyenangkan. Sebagaimana kesepakatan yang kami rahasiakan sebelumnya, dengan dana konsumsi yang masih tersisa, dengan pembalasan khas orang desa ketika sampai di kota, kami sedikit menyegarkan otak agar bersemangat kembali ke Martapura. Menghabiskan waktu di Kota Banjarmasin dari sore sampai tengah malam. Pulang dan istirahat sampai pagi di rumah.

Kamis, (14/7). Matahari terik menghangatkan kami. Cuaca cerah. Semua bersiap. Setelah sarapan ala kadarnya khas anak kos-kosan, kami berpamitan dan kembali ke Kota Intan. Pukul 14.00 kami sudah mendaratkan kaki di Martapura. Finish Point. Mengecheck SD Card 16GB yang memang sudah tidak terbaca sejak di Banjarmasin. Saya terus melakukan upaya penyelamatan, namun hasilnya nihil. Yang terselamatkan hanyalah foto-foto yang sempat saya posting di Instagram pribadi @anandarumi2 sebelum sampai Kota Palangkaraya.

IMG_20160713_185839-01

Menghabiskan Malam di Kota Banjarmasin

Alhasil, perjalanan ini membuahkan kerinduan kami dengan orang-orang yang tertinggalkan, baik itu keluarga, sahabat, lingkungan pergaulan, dan tentunya suasana kerja yang membosankan. Entahlah, apakah kami akan kembali melanjutkan perjalanan yang sama di seputaran pulau Kalimantan lainnya, mungkin ke Balikpapan? Derawan? Brunei Darussalam, atau Pontianak? Siapa tahu. []

Catatan Perjalanan, Martapura-Tamiyang Layang (1/5)

 

Setelah melalui upaya yang cukup panjang dalam rangka penyelamatan SD Card saya yang sudah tidak terdeteksi baik di hape maupun pc, maka sah sudahlah, file 16 GB yang biasa saya pasang di Xiaomi Redmi 2 good bye, meninggalkan kenangan fisik berupa lempengan kecil yang kini tak berharga lagi. Padahal, semua memuat kumpulan foto yang telah saya ambil dari awal berangkat sampai ke Palangkaraya, (nanti kita akan tiba ke bagian ini). Bahkan kenangan sebelumnya, baik itu foto kegiatan, pemberitaan, serta video rekaman suara dan gambar saat bekerja. Selamat Tinggal.

Setidaknya, saya sudah sempat memosting beberapa dokumentasi perjalanan realtime di Instagram. Hanya itulah yang sempat terselamatkan. Dan sejumlah foto yang mendampingi tulisan saya berikut ini merupakan screenshoot dari instagram pribadi saya @anandarumi2. By the way, perjalanan itu berawal pada hari Senin, (11/7) kemarin.

Rencana yang matang usai rapat dan packing malam harinya, kami berangkat 4 orang dengan 2 unit sepeda motor matic dari Kota Martapura, meeting point di Kampus STAI Darussalam. Adalah Bungker, berperawakan tegap dan kekar layaknya prajurit, Haji Udin, berperawakan tidak tinggi yang tenggelam dengan ranselnya sendiri, dan Obol, bocah bola berambut pendek berwajah bulat sebagai rider Beat Birunya. Saya sendiri menggunakan Vario Techno berboncengan dengan Bungker. (bukan nama sebenarnya).

Janji di pukul 13.30 Wita untuk berangkat bersama menjadi 15.35 Wita. Dengan cuaca Kota Martapura yang cukup cerah, perjalanan cukup lancar. Saya sempatkan berhenti di Astambul untuk mengisi angin ban dalam agar kencang, dan mem-full-kan tangki minyak di SPBU Desa Mataraman.

Screenshot_2016-07-19-15-41-01_com.instagram.android

Kami tiba di Desa Tatakan, Kabupaten Tapin, di kediaman seorang sahabat yang juga saudara. Check point 1. Sekadar merenggangkan otot yang kaku sembari bercengkrama. Pembicaraan yang alot karena terlalu asik menjadi pembicaraan melebar dan berakhir pukul 18.35. Di sinilah perjalanan sebenarnya dimulai.

Matahari kembali peraduan barat. Senja menjelma. Sedikit cahaya merah masih menaungi perjalanan. Perlu diketahui, saya bersama bungker memang tidak tidur di malam sebelumnya, selain obrolan Tasawwuf yang terlalu larut malam, diselingi dengan tontonan Final Piala Eropa, dan pagi-pagi sekali saya harus berurusan dengan petugas Samsat Corner bersama antrian yang cukup panjang hingga siang hari. Faktor kelelahan dan tidak ada istrihat inilah yang mungkin membuat kepala dan mata begitu berat, dari pukul 20.00 Wita.

Screenshot_2016-07-19-15-41-07_com.instagram.android

Setelah beberapa kali berganti joki, dan sebelum terhuyung sampai ke pinggiran aspal, kami sepakat untuk berhenti di warung makan sebelum Bundaran Ketupat, di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Ada nasi kuning dan nasi putih masak habang yang kami santap untuk makan malam di hari pertama ini. Setelahnya, aku sempatkan terlelap di meja makan beberapa menit. Mungkin sekitar 10 menit.

Perjalanan dilanjutkan menembus cakrawala malam menuju Kota Amuntai, tentu saja kami tak melewati Kota Barabai, karena beda jalur. Ada satu masjid yang kami jadikan tempat persinggahan. Sayangnya, saya lupa mengeja nama. Setelah cuci muka. Aku rebahan bersama yang lainnya.

Ketika bangun, Obol bilang saya tidur mendengkur, Saya rasa hanya beberapa menit saja. Nyatanya, lebih dari 30 menit. Mungkin reaksi normal dari tubuh yang ingin memenuhi haknya. Bahkan katanya, sementara saya tidur, ada mobil polisi yang menghampiri, ia mengira ada pemeriksaan rutin, ternyata hanya numpang memalingkan mobilnya saja di halaman masjid.

Screenshot_2016-07-19-15-41-29_com.instagram.android

Screenshot_2016-07-19-15-41-40_com.instagram.android

Perjalanan kurang lebih 160 Km yang seharusnya kami tempuh dalam jangka waktu 3 Jam dari Kota Martapura membengkak menjadi 5 jam lebih hingga tiba di Jembatan Paliwara, Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Berhenti menyempatkan berselfie.

Screenshot_2016-07-19-15-41-50_com.instagram.android

By the way, ini adalah kali pertama saya melalui Kota Amuntai menggunakan motor. Saya bersama yang lain berkesempatan melihat-lihat situasi pinggiran jalannya di waktu malam dengan membuka helm. Merasakan angin malam di perjalanan santai pedesaan itu beda dengan perkotaan. Ternyata, banyak sekali produsen perabotan rumah tangga berbahan alumanium di kota ini. Baik itu dari jemuran, lemari dapur, sampai alat keperluan rumah tangga lainnya.

Saya kira, beberapa toko penjual perabotan rumah lainnya banyak yang mengambil suplai barang dari kota ini. Hawa dingin dari lingkungan rawa-rawa di sekililing mengantarkan memasuki deretan warung remang-remang. Seperti yang telah lumrah kalian ketahui, perempuan berpakaian ketat, wanita paruh baya berambut jagung, kedipan mata bak perangkap siap menghasut Rem pada laju kendaraanmu. Aku tak lagi merasakan kantuk. Sama sekali.

Deretan warung yang cukup panjang, mungkin sekitar 1-2 Km, ketika waktu menunjukkan 22. 45, kami berniat untuk singgah sekedar meneguk kopi hitam panas walau secangkir saja. Tapi bukan di warung gadis bak selebritisnya, khawatir argo jalan dan biaya perjalanan terpangkas di luar dugaan.

Screenshot_2016-07-19-15-41-57_com.instagram.android

Kami mendapati satu warung kopi dengan Acil dan Paman Berkopiah haji di sana, Memesan kopi dan teh, menyempatkan berfoto. Dan bercengkrama soal rooling door yang tak lagi rooling door. Bungker paling rinci soal ini, aku tak terlalu memerhatikan. Sementara duduk di warung kopi, kami masih mengupayakan agar sampai ke Tamiyang Layang sebelum lewat tengah malam, menginap di rumah sahabat yang juga saudara untuk mengamankan diri dari ganasnya tengah malam di padang hutan. Entahlah, apa yang bakal terjadi, kita lihat saja nanti. (bersambung)

 

Kekuatan Anak Muda Dalam Novel Kebisingan Hati karya Ananda Rumi

Kebisingan Hati_Ananda Rumi_Thumbnail Cover ReszeKebisingan Hati

Oleh: Ananda Rumi

Rilis : 2014
Halaman : 177
Penerbit : OnOff Project

Bahasa : Indonesia

 

“Semuanya terwujudkan dari mimpi yang terkadang dinilai sepele…

…jika ia memang gigih untuk menggapainya”. (hal.150)

Dalam beberapa minggu terakhir ini, teman-teman yang berdomisili di banjarbaru masih hangat membicarakan sebuah Novel karya Nanda dengan cover depan bergambar sebuah es krim bertuliskan Juice Heart Noise, yang mungkin tidak asing bagi muda-mudi pecinta musik lokal (band Indie), karena memang itu salah satu lambang sebuah band Indie dengan nama Juice Heart Noise tersebut.

 

Kebisingan Hati, kisah beberapa remaja menuju proses pendewasaan dalam menentukan arah hidup dan menemukan cara untuk menggapai sebuah mimpi. Sebuah novel yang cukup ringan, bahkan bagi seorang yang kurang suka membaca sekalipun. Kisah percintaan penuh konflik dan sekitar kesenangan bermusik tentu akan membuat pembaca betah berlama-lama memelototi tiap kata di dalamnya.

 

Mengisahkan tentang Andra dan Verda dua remaja yang terlihat sebagai pasangan serasi, mungkin sempurna, bahkan sering membuat orang sekelilingnya iri melihat mereka. Namun hal yang terlihat di luar tak selalu sama dengan hal yang ada di dalamnya. Bahwa hubungan mereka tak sesempurna yang orang lihat.

 

Andra remaja pindahan dari Jakarta ke Kalimantan, digambarkan sebagai seorang pria tinggi berbadan langsing, cerdas, keras kepala, bisa dibilang pria kutu buku berpenampilan keren. Anak kuliahan yang memiliki hobi bermusik namun juga berambisi menjadi wartawan.

 

Verda juga bukan orang asli Kalimantan, ia remaja pindahan dari  Medan. Andra dan Verda kuliah di kampus yang sama, Kampus Hijau. Sebuah kampus di daerah Martapura. Disanalah cinta mereka dimulai, berawal dari pertemuan di acara OSPEK mahasiswa. Di kampus itu pula awal Andra bertemu Ezha, Oliel, dan Udud yang akhirnya sepakat untuk membuat sebuah band. Band yang mereka bentuk ini berkembang dari nol sampai band mereka memunyai fans. Band yang dianggap Oliel sebagai tujuan hidupnya, bahkan Oliel rela berhenti dari pekerjaannya demi band itu.

 

Hubungan Andra dan Verda baik-baik saja sebelum Andra yang berprofesi sebagai freelanceyang terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan sebagai pemain gitar bass sebuah band yang iya buat bersama teman-teman sekampusnya. Andra semakin larut dalam kesibukannya hingga Verda merasa kehilangan Andra sebagai kekasihnya. Sampai-sampai ia merasa lebih nyaman berada di sisi Erland, penjual Drugslangganan Verda yang dulu juga pernah menyatakan cinta kepadanya. Hal ini yang membeuat hubungan Andra dan Verda tak seindah yang orang liat.

 

Verda yang ketergantungan drugstak bisa lepas dari Erland. Namun tak ada yang tau akan hal itu. Alanis, sahabat Verda yang bekerja di salah satu majalah ternama itu pun tak tau, apalagi Andra yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan karena kesibukan Andra dan ambisinya untuk menjadi seorang wartawan, membuatnya keluar dari bandnya yang mereka namai JUICE HEART NOISE. Akankah cinta Andra dan Verda dapat bertahan, Apakah JUICE HEART NOISE tetap bertahan dengan keluarnya Andra?

 

Setelah membaca novel ini, saya berandai-andai novel ini akan difilmkan untuk memberi warna di dunia perfilman Indonesia yang akhir-akhir ini didominasi oleh film-film bergenre horor-komedi. Yang tentunya film yang akan kaya dengan pesan moral. Seperti salah satu film Thailand kesukaan saya SuckSeed.

 

Ananda cukup handal dengan tulisannya membawa pembaca seperti menonton kisah di dalamnya. Andra, diambil dari nama panggilannya sendiri. Ezha, Oliel, dan Udud juga diambil dari nama teman sekampusnya yang memang mereka berempat peernah tergabung dalam sebuah band.

 

Meskipun novel ini cukup ringan, namun isinya penuh makna. Seperti, impian adalah salah satu dan satu titk awal dari goresan pena kehidupan yang akan anda tulis, impian juga merupakanbahan bakar manusia untuk tetap bisa bersemangat dalam menjalani hidup. Hingga hidup ini tidak  tanpa arah dalam menjalaninya, namun ada tujuan dan impian yang ingin dicapai. Upaya meraih impian tersebut mungkin tidaklahmudah, dan tidak semulus pipi bayi, tapi tetap terus diperjuangkan. Jugaperhatiandalam sebuah hubungan adalah jantungnya percintaan, yang tampanya sebuah hubungan tidak akan terasa nyaman.

 

Bagi para pemusik mungkin novel ini ingin berkata, “kebersamaan adalah pondasi utama dalam sebuah band, Sebuah band bukan kendaraan yang ditunggangi beberapa orang untuk mincapai mimpi seseorang, namun untuk mencapai tujuan bersama”…

 

@EzhaMahesa

 

 

Kebisingan Hati Mengajak Pembaca Menikmati Musik

bob_BDLMeski rinai hujan masih membasahi Kota Banjarbaru, gelaran Launching Novel Kebisingan Hati karya Ananda Rumi berlangsung ramai. Dihadiri sejumlah pelajar, mahasiswa, SMA, dan juga beberapa komunitas dari Kota Banjarbaru termasuk Banjarbaru Dalam Lensa, Jumat, (2/5), di Kedai Kopi Kepo Halaman Pustarda Kota Banjarbaru, kemarin.

Yulian Manan_FB5Acara dikemas sederhana itu dimoderatori oleh Manager On|Off Projet Self Publisher sebagai cabang dari On|Off Solutindo Project Harie Insani Putera, dengan suasana kopi gratis kepada para pengunjung. Dalam kegiatan itu, sejumlah pertanyaan diberikan dari masalah pemilihan cover buku, identitas tokoh yang ada dalam novel, juga dari lirik-lirik lagu yang ditulis Ananda Rumi dalam novelnya. Tak hanya masalah dalam novel, penulis juga berbagi tips dan informasi seputar penulisan fiksi dan seluk-beluk self publisher.

Yulian Manan_FB6Salah seorang pelajar SMA 1 Martapura Rina menyanyakan arti dari pemilihan cover yang dominan berbentuk es krim dan juga kiat mengerjakan novel yang bisa selesai hanya dalam jangka wakti sebulan. Sedangkan Oche mahasiswi STKIP menanyakan kontroversial tokoh Andra yang ada di dalam novel yang menilai karakternnya mirip sekali dengan penulis yakni Ananda Rumi.

Yulian Manan_FB4“Pemilihan cover ini didesain langsung oleh Oliel, vokalis band Juice Heart Noise yang namanya juga saya jadikan sebagai tokoh di dalam novel. Dan juga Nuzula Fildzah, teman saya di Jakarta. Pada intinya, symbol tersebut mewakili angka 1. Karena memang Novel Kebisingan Hati adalah episode pertama dari Tetralogi Kebisingan Hati. Kalau es krim mungkin tak jauh dari kesan yang kita tahu, es krim itu bisa jadi disukai semua kalangan, manis, menyegarkan, dan menyenangkan. Saya berharap juga dengan novel ini pembaca bisa terhibur dan menyenangkan,” jawab Ananda.

Yulin Manan_FB3Sedangkan untuk tokoh Andra, katanya, sebagai tokoh utama dalam novel Kebisingan Hati ia menjelaskan kalau itu adalah tokoh fiksi.

Yulin Manan_FB2“Tokoh Andra adalah fiksi. Hanya saja saya memasukkan beberapa pemikiran dan opini yang saya punya ke tokoh utama. Karena novel ini menggunakan sudut pandang ketiga maka penulis pun bisa menceritakan dari segala sudut. Termasuk konflik yang terjadi di beberapa tokoh lain. Tokoh nyata yang saya pinjam namanya ada Oliel, Ezha, Arul, Reza, dan Kevin. Sedangkan tokoh yang betul-betul fiksi dan saya ciptakan sendiri yakni Verda, Alanis, Erland, dan Elysia. Oh iya, juga ada figuran seperti Bibi Kantin Gaul dan Bapak Oveje,” bebernya.

Yulin Manan_FBDiakuinya, untuk persoalan waktu, ia rutin menulus di mana pun kapan pun karena dimudahkan dengan adanya gadget. Ia menjelaskan terbiasa menulis dengan Blackberry lantas mengirim sejumlah tulisannya itu ke surel pribadi kemudia mengeditnya setelah semua naskah rampung.

bob_BDL5Di sisi lain, Oliel yang mengaku rekan dari penulis sewaktu bermain musik bersama Juice Heart Noise merasa bangga karena band yang dulu digawanginya ternyata bisa menjadi cerita menarik dalam sebuah karya fikso yakni novel.

bob_BDL4“Sebelumnya memang, Ananda pernah mengungkapkan akan menulis novel bertemakan musik dan memuat cerita band Juice Heart Noise di dalamnya. Tapi kami tidak terlalu menggubris. Saya kira seperti biography. Dan saya tidak terlalu menarik. Ternyata setelah saya rampung membacanya, ini bukan hanya tentang lingkungan di sekitar kami, tetapi persoalan Kota Banjarbaru dari segala sudut pandangnya. Saya sangat mengapresiasi. Gara-gara membaca novelnya saya jadi terinspirasi ingin menulisn novel juga. Mendadak senang membaca,” ungkapnya. Diakhir acara panitia memberikan t-shirt gratis dan novel gratis kepada pengunjung yang berhasil menjawab sejumlah pertanyaan dari moderator, penulis, dan pengunjung lainnya.

bob_BDL3

 

 

Besok, Launching Novel Kebisingan Hati

khSatu lagi penulis muda Kalimantan Selatan yang menunjukkan eksistensi dalam bidang penulisan. Mahasiswa STAI Darussalam yang akrab disapa Ananda Rumi ini akan melaunching novel pertama yang diterbitkan sendiri bersama On|Off Project Self Publisher, Jumat, (2/5), di Kedai Kopi Kepo Halaman Pustarda Kota Banjarbaru, sore besok.

“Sebenarnya ini novel kedua yang saya garap. Tapi pertama yang saya terbitkan sendiri. Novel pertama yang pernah saya bikin dan memenangi juara unggulan di Aruh Sastra tahun kemarin sedang berada di penerbit mayor. Nah, Novel ini sebagai upaya saya untuk mewadahi kawan-kawan penulis dewasa muda atau young adult di kelas penulisan novel On|Off agar jangan cemas dengan karyanya. Karena banyak upaya yang bisa kita lakukan bersama untuk menerbitkan,” ungkapnya kepada penulis hirangputihhabang.wordpress.com, kemarin.

Dikatakan penulis, Novel Kebisingan Hati merupakan buah pemikiran atas band yang pernah digawanginya dulu bersama kawan-kawan di kampus. Ia menginginkan para pembaca bisa terhibur dengan cerita yang ditulis.

“Memang secara keseluruhan novel ini menceritakan tentang musik, seputar konflik yang terjadi antar anak band yang masih kuliah memasuki dunia kerja. Jadi tujuannya untuk menghibur. Di dalam cerita juga dipaparkan tentang arti persahabatan, percintaan, perselingkuhan, dan kalimat dari lirik-lirik lagu yang mempunyai kekuatan jalan kehidupan para tokohnya,” papar Ananda.

Lantas apakah novel Kebisingan Hati sepenuhnya berisikan fakta? Ia menyangkal hal tersebut. Dijelaskan penulis, novel Kebisingan Hati adalah novel fiksi yang diselipkan beberapa fakta.

“Kalau boleh dipersentasikan 70% fiksi dan 30% fakta. Band yang bernama Juice Heart Noise yang saya ceritakan di dalam novel ini betul-betul ada. Band indie yang memang berkiprah di Kota Banjarbaru. Beruntung pembaca di Kalsel akan lebih mudah membayangkan setting latarnya. Lagu-lagu yang liriknya saya sisipkan dalam cerita juga ada. Ada link yang saya sisipkan dalam cerita agar pembaca bisa men-download-nya sendiri,” terangnya.

Dijelaskan lagi, beberapa nama tokoh yang ada dalam novel merupakan nama dari lingkungan teman-temannya sendiri.

“Saya meminta izin kepada kawan-kawan untuk memakai nama mereka dalam cerita. Selebihnya, tentang jalan kehidupan dan konflik yang terjadi penulis yang mengaturnya. Alhamdulilah kawan-kawan tidak mempermasalahkan. Dan ini adalah episode pertama. Karena saya berencana menulisnya menjadi tetralogi. Kita lihat saja nanti. Saya berharap ini bisa menjadi awal yang baik bagi para penulis muda di Kalsel yang ingin menulis novel. Kami di On|Off welcome untuk sama-sama berbagi, baik itu dalam penulisan fiksi dan yang lain,” pungkasnya.

 

Novel Kebisingan Hati

Kebisingan Hati_Ananda Rumi_Thumbnail Cover ReszeAndra bingung memilih ide dari cerita romannya kali ini. Ia membuka folder lama yang tak terjamah. Di sana, ia menemukan kepingan kehidupan yang dulu pernah mewarnai kehidupannya saat bermusik.

Sang penulis lirik dari lagu-lagu mereka, Oliel, tak menyadari sesuatu hal. Sesuatu yang sebenarnya terjadi pada kehidupan di sekitarnya. Lirik yang ditulisnya menjadi suratan takdir. Takdir yang tak hanya membawa mereka dalam lika-liku perjalanan bahkan bebatuan penghalang. Membawa seorang perempuan di luar sana, Verda yang ketergantungan akan drugs.

Semua yang dituliskan menjadi petualangan baru garis-garis perjalanan band mereka. Dan siapa yang bisa menyangka isi dalam lirik tersebut adalah rahasia. Rahasia kehidupan mereka semua, tentang takdir yang dipilih, tentang kehidupan yang dijalani. Di sini, sejarah mereka dimulai, di Kota Banjarbaru.

order melalui: http://nulisbuku.com/books/view_book/5599/kebisingan-hati

Surat Nomor 24

Wahai sahabatku kecilku, sampai di manakah kau sekarang? Bagaimana kabarmu? Keafiatan tentu selalu kami doakan kepadamu. Aku juga mengharapkan keadaanmu sekarang seperti yang pernah kau inginkan. Dalam jejak rekam kehidupanmu mengelilingi tata surya 24 tahun, ingatkah kau masih dengan kami? Kami adalah orang-orang yang menemani kamu saat bermain di waktu kecil. Menarik benang layang-layang, memasukan kelereng ke satu lubang di tanah, ada masa dimana bulu mata kita terbakar saat meniup lubang bambu yang berdentum keras di belakang rumah, terlebih saat bulan puasa. Atau bisa juga permainan yang membuatmu gusar karena tak pernah kesampaian seperti yang kami miliki? Padahal kamu saat menginginkannya waktu itu, semisal Nintendo, sepatu roda, remote control, robot-robot dengan lampu, bahkan sepeda yang katamu banyak giginya.

Di satu waktu, kita juga pernah bermandikan pasir saat bermain bola kasti. Mengumpulkan beberapa pecahan genteng untuk disusun sebelum bola tenis bekas itu membuat kulitmu membiru. Maaf sobat, itu karena kami terlalu keras melemparnya. Entahlah, apakah kau sekarang masih mengidam-idamkan menjadi pendekar bertopeng layaknya power ranger atau Baja Hitam RX. Sudahlah. Aku yakin kau tak mau meningatnya.

Wahai sahabat seperguruan. Aku tak habis pikir mengapa kau waktu itu ingin mengikuti jejakku merantau ke Kota Santri. Berhenti dari sekolah formal lanjutan pertama yang baru 1 tahun setengah. Kemudian kau memaksakan diri untuk tinggal satu atap bersama kami berlima. Padahal, kau orang baru. Dan ini bukan duniamu. Kau lebih tahu tentang dunia luar daripada kami. Anehnya, kau mau-mau saja. Bahkan terlalu cepat menjauhi orang tua. Alasanmu cuma satu waktu itu, ingin berkumpul dengan orang-orang soleh.

Namun seiring waktu berlalu, aku menyadari jalan ini adalah pijakanmu menuju pendewasaan. Ingatkah saat kita bangun subuh bersama. Tak hanya sehari, melainkan setiap hari menuju kampung melayu hanya untuk ikut-ikutan mengaji Hadist Bukhari dan Ihya Ulumudin. Aku tertawa geli saat kau mengayunkan pena di antara hurup-hurup arab yang sukar dibaca jika kau tidak belajar nahwu dan sharaf.

Kita pulang dengan nafas yang teropoh-gopoh saat mengayuh sepeda tua. Ketika malam Jumat tiba. Kita melakukan ritual yang biasa dilakukan para senior di sekolahan. Berziarah ke Kelampaian menyusuri kegelapan malam di semak belukar dan jalan bebatuan Kampung Melayu sampai ke Dalam Pagar. Katanya, kamu khawatir jalan mulus beraspal Ahmad Yani tersebab banyak truk-truk batu bara berseliweran. Itulah kamu, lebih memilih melewati pohon-pohon tua berhantu dengan bermacam binatang liar daripada truk-truk yang berdebu.

Besoknya, kau memutuskan menjadi mustami di pesantren ini. Sebagai pendengar setia. Belajar mendhabit kitab. Mengikuti kami yang terlalu banyak sholat sunat. Begitu, kan kamu bilang. Ah, kau lugu sekali waktu itu. Di tahun-tahun pertama, kau mulai tak mau lagi sering-sering pakai celana levis panjang. Kau lebih sering memakai sarung dan berkopiah haji sobat. Aku geli melihatnya. Meski hal demikian kuakui sebagai santri pemula.

Setelah namamu tercantol dalam absen guru, kau mulai pelangak-pelongok. Memahami nadzhom serta bait-bait yang harus dihapal. Begitu banyak ayat-ayat yang harus kau ingat. Begitu tebal kitab-kitab yang harus kau pelajari. Di waktu ini, kau banyak merasakan nikmatnya menuntut ilmu, indahnya beribadah, nyamannya hidup, dan tragisnya kehidupan.

Namun waktu 10 tahun menjadi santri itu telah berlalu, pemikiranmu terlalu cepat berkembang. Kau justru memilih menjadi mahasiswa. Meski hal demikian tak pernah kami inginkan. Bahkan terpikirkan pun tidak. Tapi, iri kah kau saat melihat kami berbondong-bondong pergi ke rumah guru-guru melaksanakan berabgai ijazah? Namun lagi-lagi, kau memang selalu melangkah lebih dulu dari kami. Seharusnya kita berbarengan. Tapi ya sudahlah. Kau memang tak pernah segan untuk mengambil keputusan. Kau adalah teman kami yang keras kepala namun selalu beruntung. Kuharap, saat ini memang momentum yang kau impikan dan hasil-hasil yang telah kau tanam dulu.

Wahai anakku yang pertama, yang memancarkan cahaya-cahaya. Ingatkah kau dulu lahir dari rahimku. Dimasa-masa dalam ayunan kau begitu pengertian. Kau tidur saat ibu membuat beberapa bongkah kue untuk dijual di tempat orang. Usai mengerjakan beberapa keperluan, kau bangun untuk ditimang-timang. Kau selalu berusaha menyesuaikan keadaan. Kau begitu pengertian. Ketika beranjak menjadi dewasa, kau mulai menyusahkan.

Wahai anakku yang memancarkan cahaya, yang selalu aku andalkan. Aku Ayahmu. Masa labilmu adalah masa yang membuat aku sering sakit hati. Aku sempat mendambakan kau akan mengikuti jejakku menjadi orang penting di pemerintahan. Yang tak pernah lepas dari doa orang tua. Yang selalu mencium dan memeluk dengan kasih sayang. Tapi sangat disayangkan, kau begitu membuat emosiku beringas. Kau sering kali menjawab statement-statmen dariku dengan mulutmu. Masih jelas teringat di kepalaku saat aku memandikanmu dengan omelan-omelan sampah. Dengan cacian dan makian yang sebelumnya kau lemparkan ke wajahku, Ayahmu sendiri. Berapa buah ember plastik, rotan kayu, bahkan saking bengisnya, aku menyeret bajumu sampai robek ketika kau lupa waktu untuk pulang ke rumah. Kau terlalu bebas sebelum waktunya.

Meski sekarang aku sadar kini semua tak ada apa-apanya di hadapan Tuhan. Saat kamu memutuskan untuk bersekolah di ranah agama. Aku tak melarang, aku ridho dengan keinginanmu. Dengan satu peringatan agar kau tidak sekadar membasahi sebelah kakimu di sana, melainkan basahkan seluruh tubuhmu. Aku tak pernah menyesal mendidikmu menjadi kepribadian yang saat ini kau miliki. Jauh dari pengawasan kami berdua bukan berarti kau semena-mena. Meski kami tak terlalu mengetahui pergaulanmu semasa perantauanmu menuntut ilmu, namun aku yakin, jalanmu sudah ditentukanNya. Semua penentuan kuserahkan kepadaNya.

Anakku yang memancarkan cahaya. Kau tak perlu ragu dengan dukungan kami dan saat kami berdoa. Segala doa-doa yang baik selalu kami panjatkan untukmu di sana. Banyak sekali perubahan yang kudapati saat kau pulang ke rumah. Tata bahasamu, pemikiranmu, jalan pilihanmu, tingkahlakumu yang pernah membuat amarahku memuncak kini telah padam.

Aku tak pernah tahu cita-citamu sebenarnya apa. Karena selalu berubah-ubah. Masih ingatkah dulu pembicaraan kita menjelang Idul Fitri. Katamu, jika memang kau lulus 10 tahun di pesantren kau akan meneruskan sekolah tahfidz. Menjadi penghapal Al-Quran. Dan mengabdikan diri menjadi khadam kepada guru-guru yang sempat mengajarkanmu beberapa disiplin ilmu. Tapi, bukankah sekarang keinginan itu berubah lagi.

Saat kau mulai masuk kuliah. Aku senang bercampur cemas. Aku senang kau mulai berpikir logis dan masuk akal. Namun aku cemas jika kuliahmu terkatung-katung dan terlambat menjadi sarjana. Ternyata kekhawtiranku benar. Kau tampak terkatung-katung dalam hal pendidikan. Tapi tidak dalam pemikiran. Kau tidak pintar, tapi kau cerdas. Aku tak pernah mengerti apakah profesimu sekarang itu cita-cita, atau sekadar karier belaka. Sudahkah kau bersyukur dengan nikmat-nikmat dan keberuntungan yang diberikanNya kepadamu wahai anakku. Coba kau ingat lagi kata-kata Ibumu tempo hari.

Wahai anak pertamaku yang memancarkan cahaya-cahaya. Doa Ibu di setiap sholat tak pernah lepas untuk kebahagiaanmu. Kau terlalu beruntung jauh dari pikiran kami sebelumnya. Ingatkah bahwa kau tak sempat menamatkan sekolah lanjutan pertamamu? Ingatkah pula bahwa kau tak sempat sekolah SMA seperti anak-anak yang lainnya. Namun justru kulihat kau lebih cerdas dari mereka yang sekolah-sekolah Tinggi. Kau memang tak jauh dari masa-masaku dulu. Senang membaca, hobi menulis. Namun tak tak kusangka kau memilih jalan yang kuanggap berbahaya, menjadi seorang jurnalis. Kau kira itu perihal mudah, Nak? Kau kira orang biasa bisa melakukan pekerjaan seperti yang kau kerjakan sekarang? Tidak. Itu tidak mudah.

Wahai anak pertamaku yang memancarkan cahaya-cahaya. Aku bersyukur kepada Tuhan dengan keadaanmu yang sekarang. Kau telah dewasa. Kau mempunyai pekerjaan. Kau bisa menjadi Imam untuk kami keluarga. Kau punya ilmu untuk selalu kita diskusikan di keluarga. Kau punya gaya. Kau terlalu cepat melangkah. Hanya saja aku ingatkan, agar jangan terlalu jauh melangkah sehingga kau lupa jalan untuk kembali. Kini, kau akan segera menikah. Kau akan meninggalkan kami dan membangun kehidupan baru, membina rumah tangga, dan menjalani masa-masamu menuju persoalan yang lebih rumit. Tapi, kau jangan mengkhawatirkannya. Selama kami, kedua orangtuamu masih ada, selama kami mampu, kami akan selalu membantu. Dan jangan khawatir tentang doa, kami akan selalu mendoakanmu, Nak.

Wahai muridku yang keras kepala. Ingatkah aku? Aku gurumu yang mengenalkan huruf demi huruf. Yang menjadi perantara hingga saat ini bisa kau membaca. Ketika mulai bisa berbahasa, kau menambah lagi untuk mengenal huruf-hufur hijayah. Sampai ketika kau bersekolah seperti anak yang lainnya. Ingatkah bahwa kau sangat cengeng waktu itu, kau sering menangis karena tak mampu mnengenali huruf yang berkelok-kelok itu. Kau bodoh.

Berapa guru yang sudah mengajarimu? Berapa ilmu yang sudah kau dapat dari mereka? Sudahkah kau amalkan ilmu yang mereka ajarkan. Sudahkah kau gunakan dengan baik apa-apa yang sudah mereka berikan? Pertanyaan itu hanya bisa kau jawab sendiri Ananda. Kau bisa mengaji. Kau juga menuntut ilmu agama. Tahukah sudah kau yang mana yang harus dilaksanakan dan yang mana yang harus kau jahui. Kami guru-gurumu mengharapkan kamu bisa menjadi “orang”. Menggapai cita-cita, dan mengamalkan ilmu-ilmu yang telah kami berikan. Kau kini sudah dewasa. Tentu bisa memilah yang mana yang baik dan yang mana yang salah. Semua terserah padamu.

Aku hanya beraharap agar kau tak sombong. Aku juga ingin agar kau selalu ingin belajar. Siapapun yang mengajarkanmu suatu ilmu, dia adalah gurumu. Kurasa aku tak perlu memberikanmu terlalu banyak penjelasan. Di umurmu yang sekarang, aku yakin kau mengerti arti semuanya. Sebagai guru, aku hanya berharap murid-muridku berhasil mengamalkan apa-apa yang telah kau pelajari. Dan menggapai cita-cita.

Wahai calon suamiku, ingatkah masa-masa kita bertemu dulu? Ingatkah betapa kita berjuang melewati segala rintangan. Aku tahu sebenarnya tak sedikit kita melakukan kesalahan. Dan tak sedikit pula kita beradu pembenaran-pembenaran. Beradu argumentasi. Saling keras kepala. Kadang tak mau mengalah. Tapi sejauh ini, aku sadar kau sering mengalah. Kau terkadang egois, tapi justru membuatku sadar. Aku tak pernah mempunyai alasan mengapa aku selalu sayang sampai detik ini. Kau pun tak pernah punyai alasan mengapa sampai menyayangiku saat ini. Aku berharap rasa ini memang murni karena ketentuan dariNya. Juga kita harapkan. Aku selalu berdoa. Segala doa-doa yang baik aku panjatkan kehadiratNya. Aku ingin kau menjadi Imamku. Menjadi yang halal bagimu. Yang membimbingku kelak kepada keridhaan Ilahi. Aku tak perlu bertanya apakah kau bisa melakukannya. Aku sudah yakin. Aku tak ingin keyakinanku berubah. Semua kuserahkan padaNya.

Wahai hambaKu yang terlena, ingatkah kau sekarang kepadaKu. Aku menegurmu bukan berarti kau makhluk istimewa dibandingkan makhluk yang lainnya. Semua kedudukan manusia sama. Tak ada yang berbeda. Perbedaan bagiKu hanya ketaqwaan hamba kepadaKu. Sudah sampaikah kau mencapai taqwa itu? Tidak. Wahai hambaKu. Kau tidak ada apa-apanya di dunia yang fana ini. Kubiarkan kau berpijak dibumiKu, kubiarkan hidup di bawah matahariKu yang sering membuatmu kepanasan. Padahal kamu tahu, dibandingkan nerakaKu, tak ada apa-apanya. Banggakah diumurmu yang telah sampai 24 tahun ini hidup dalam pengawasanKu? Sadarkah dalam kurun waktu yang pendek itu kau kuberikan segala kenikmatan? Kenikmatan semua panca indra. Kenikmatan semua kebutuhan untuk sekadar kau hidup. Sesekali kau ingat denganKu. Namun seringkali kau justru lupa. Jikapun Aku mau, bisa saja aku cabut semua kenikmatan dan pengetahuanmu saat ini. Kamu mau apa, hambaKu?

Wahai hambaKu yang terlena, pemberian nikmat mana yang bisa kau dustakan dariKu. Kau telah belajar tentang keesaanKu dari rasulKu Muhammad SAW yang telah kuutus ke bumi beribu-ribu tahun silam dari masamu melalui turunan-turunan dan pewaris segala ilmu pesuruhKu. Sampai kepada manusia-manusia yang tak lain hambaKu juga. Termasuk kamu yang saat ini, aku tahu, sedang memikirkanKu.

Wahai hambaku yang terlena, kau memang selalu berprasangka baik kepadaKu. Kau juga sadar arti kau hidup di dunia untuk menyembah kepadaKu. Kau tahu perihal yang Aku larang dan yang aku suruh. Tapi mengapa kau sering melanggarnya. Kau sering lupa menghadapKu tapi kau tahu bahwa Aku tak pernah lupa mengingatkanmu. Kau sadar dengan bentuk-bentuk teguran yang Aku tampakkan melalui beberapa kejadian dalam kehidupanmu. Tapi mengapa kau masih sering lupa kepadaKu.

Jikalau Aku ingin, bisa saja menyudahi kehidupanmu. Saat ini pun Aku tahu kau sedang berkeringat dingin. Tapi apakah kamu tahu, takdir kehidupanmu sampai mana. Katamu, ulang tahun hanyalah perpendekan umur dari kadar jatah manusia sebagaimana kekasihKu Muhammad yang Ku ambil saat dia berumur 63 tahun. Begitu? Berarti kamu tahu jatahmu tinggal di duniaKu tinggal lagi 39 tahun. Itu pun jika aku memanjangkan umurmu sampai 63 tahun. Jika tidak, kau mau apa, wahai hambaKu yang terlena.

Kau masih ingat bahwa golongamu hanyalah hewan yang mampu bertutur. Kalian dimuliakan hanya lantaran bisa berbicara, bisa berakal, bisa berpikir, bisa sadar akan kekuasaanKu. Jika tidak, kalian tak lebih sekadar binatang. Kau pernah sombong, berbohong, toma, kasar, angkuh, serakah,  Kamu beruntung sampai sekarang masih menjadi manusia, wahai Ananda. Aku menganugerahkan kemampuan berpikir dalam otakmu, kemampuan yang normal disemua inderamu. Kau bisa membaca kalamKu. Kau sering berusaha berkomunkasi dengan ayat-ayat suci itu. Tapi kenapa pikiranmu kemana-mana. Apakah kau tidak ingat aku sedang mendengarkanmu berbicara denganKu. Kau lupa Ananda.

Aku tidak mencacatkanmu seperti hamba-hambaKu yang lain. Semua itu hanyalah secuil bukti kekuasaanku. Ingatlah hambaKu Ananda, ada Raqib dan Atid yang kusuruh mencatat semua perihal tentangmu. Kau tahu itu, kau juga meniru-meniru mereka dengan mencatat-catat kebaikan dan kesalahan orang lain. Lalu apakah kau sadar bahwa dirimu juga sedang dicatat oleh malaikatKu? Diam dan gerakmu dalam kuasaKu. Aku bisa melakukanmu sesukaKu. Namun kuberi kau secuil keberuntungan karena kau selalu berprasangka baik kepadaKu. Meski kau sering kufur, dan lupa akan kenikmatan yang aku berikan. Jika kusuruh Izrail saat ini datang kepadamu, kau mau apa? Mau tobat. Memangnya sempat?

Wahai hambaKu yang terlena, aku tahu masih ada ketakutan dalam hatiMu. Namun terkadang aku juga menemukan keberanian dan kerinduan terhadaKu. Hatimu masih berbolak-balik. Namun, prasangkaMu terhadapKu masih saja baik. Aku selalu mengawasimu. Sadarkah kau beberapa kali melakukan kesalahan, melanggar perintah, melakukan dosa-dosa, namun aku tak segera menghukummu? Aku sengaja membiarkanmu dan menegur dengan kejadian-kejadian kecil saja. Agar kelak kau sadar. Aku masih membiarkanmu berbuat sesuatu dan selalu mengawasimu. Aku ingin keimanan dan kepercayanMu terhadapku masih ada dalam benakmu meski meski sekadar biji sesawi. Sampai tiba waktunya aku perintahkan Izrail mendatangimu. Tapi tidak sekarang. Nanti. Itu rahasiaku bersama para malaikat. Golongan manusia tak boleh tahu. Aku hanya memberikan beberapa klu jika waktunya tiba. Memangnya siapa yang bisa mendahului kehendakKu? Tidak ada wahai hambaKu yang terlena.

Di hadapan, Aku sudah mengatur beberapa skenario perjalanan untuk kau jalani. Skenario itu bukan berarti baku. Aku memberikan kesempatan untuk kau revisi sendiri. Bukankah sekarang katanya kau sudah punya ilmu? Walaupun menurutku itu tak ada apa-apa bagiKu. Tapi lakukan saja, kau bisa merevisinya dengan perlakuanmu. Dengan taqwamu, dengan doa-doa yang kau panjatkan terlebih saat kau sadar dari keterlelapan malam. Di sepertiga malam. Ah, kau tahu itu Ananda, tapi tak kau lakukan tersebab menuruti kemauan iblis yang sering menyimpul matamu. Padahal kau tahu, ia juga makhlukKu yang kuperintahkan.

Wahai hambaku yang terlena. Bersyukurlah karena kau sudah kuatur dalam keluarga dan orang-orang yang sayang kepadamu. Nikmat-nikmatmu yang selalu kuturunkan namun kau tidak tahu. Arrrgghhhh… aku terkadang benci dengan keterlupaanmu padaku. Tapi, aku bangga kau masih saja berprasangka baik denganKu. Berapa kalam lagi harus kusampaikan agar kau bersyukur. Kau hanya kurang beryukur. Kurang bersyukur. Kurang bersyukur. Kuran bersyukur. Sekarang, kita lihat. Apa kau sudah sadar.

 

Banjarbaru, di kesunyian malam 07.06.2013.