Catatan Perjalanan, Ampah-Timpah (3/5)

 

Dari bundaran Kota Ampah, kami memutar ke wilayah Desa, masuk ke gang sempit di wilayah pasar. Lagi, lupa mengeja nama gangnya. Jalanan bebatuan yang tidak bisa dikatakan mulus, namun tidak juga buruk. Dari pinggir jalan raya sampai persis ke rumah Ali kurang lebih 1 Km. Semoga saya salah kira. Kammi sempat kelewatan. Sedikit saja.

Rumah semi permanen, bercat kuning pucat dengan tumpukan paketan potongan kayu untuk diperjual-belikan terpampang di hadapan. Kami memakirkan motor persis di bawah seng sebagai teduhan. Siang ini, Selasa, (12/7), matahari begitu terik. Panas luas biasa. Check point 3.

Sambutan yang hangat diiring seceret sirup jeruk es batu dan setoples kerupuk unyil. Entah bagaimana menggambarkannya, kerupuk ini terasa nikmat sekali. Mungkin mengenang jaman dulu jadi perantauan, kerupuk unyil jadi lauk wajib ketika lauk lain tidak ada lagi.

Obrolan seputar menanyakan kapan sarjana, kapan kawin, kapan lulus, kapan berumah tangga, dan kapan bla-bla bertebaran di setiap pertikel atom yang tiap sudutnya saling berpantulan memenuhi isi rumah.

Belum jeda 10 menit, satu teko jumbo es kelapa muda datang di meja, barusan dikupas di luar rumah. Hasil petikan pohon di belakang rumah. Sudah kubilang, matahari begitu terik. Panas luar biasa. Sedangkan di hadapan ada es kelapa muda. Gimana?

Bla-bla mengembang ke sana ke mari tanpa batas, tawa canda gelak tawa membawa kami beberapa kali ke toilet. Karena terlalu banyak minum. Kami ditawarin untuk menginap saja. Kulihat jam dinding di rumah Ali hampir pukul 12.00. Di dalam rumah ini minim sekali sinyal telkomsel, apalagi akses data. Tidak banyak yang bisa kami lakukan. Padahal aku sudah berniat membuka laptop dan mulai mengetik.

Makin lama obrolan sampai ke ahlu bait menghamparkan karpet/hambal tebal bermotif bulu macan di tengah rumah. Tuh, kan. Ada 4-5 buah bantal dan guling dihamburkan di sana.

Intinya, setelah bersopan santun tanpa perasaan menolak, kami berempat tertidur di waktu khoilullah. Sampai adzan dzuhur berakhir. Yang paling terakhir bangun adalah Bungker.

Terburu-buru kami bangun dan mencuci muka, terlihat terburu-buru juga kesannya akan meninggalkan rumah. Namun ditahan, ya seperti peringatan Bungker sebelumnya, tidak akan diizinkan beranjak pergi dari rumah ini sebelum santap siang. Sudah minum es kelapa muda, aku sempat membuka bungkus lisong yang baru (saking borosnya), tertidur di hamparan ambal bulu pula, nah ini, bau-bauan ikan bakar mulai tercium oleh perut. Gimana coba? Emang enak bangun tidur langsung disuruh makan. Enak.

Intinya tidak boleh pergi sebelum puas. Duduk lesehan, ada Haruan Baubar yang khas sekali dengan selera masakan Banjar di hadapan. Nasi panas yang harum, ada es sirup dan es teh juga. Sayurnya Pucuk Jawaw yang sudah direbus, juga hasil petikan di kebun sendiri, didampingi terong muda (yang juga dipetik di samping rumah) kecil-mungil juga. Ada sambal terasi dengan taburan Ampalam/mangga di atasnya. Dibagi-bagi menjadi beberapa bagian. Ditemani Udang goreng dan kacang panjang. Kulihat bungker, wajah dan tubuhnya sudah basah karena keringat. Sambil ter hus-hus setelah colak-colek nakal di cobek.

Saya belum sanggup berdiri usai menyantap mengipung/mengilau haruan bakar sisa. Turunakan nasinya dulu. Kami lupa beberapa kali bersopan santun ketika menambah kautan nasi. Kenikmatan makan siang inilah yang tidak pernah saya dapatkan di tengah hiruk pikuk lalu lintas perkotaan. Dan sayangnya, kami tak sempat berfoto ketika ini, sama sekali.

Semua usai, obrolan dan suasana terangnya suasana beranda rumah mengantarkan jarum jam dinding menuju angka 2. Setelah menggabungkan dua kewajiban berjamaah dengan Bungker, mempersiapkan segala. Packing ala touring. Berpamitan dengan segala kebaikan perangai, berterima kasih yang tak terhingga, dan sama-sama saling mengucap, “Jangan jara lah,” dan dijawab “Pian nang jangan jara,” sebagai penutupnya.

Kami melintas menuju jalan raya Kota Ampah di bawah terik mentari yang tiada terdinding. Entah, tampaknya sediki sekali awan menjelang sore ini. Tapi tenang, botol-botol minuman kami sudah terisi kembali. Diisi ulang.

Ya, setelah Kota Ampah, Saya harus mengejar wilayah berjaringan internet perkotaan selanjutnya, yakni Buntok. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari Obol, perjalanan Ampah Buntok memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Jalur yang kami lewati adalah pemukiman di atas rawa, persis seperti jalur Desa Sungai Tabuk dari Martapura menuju Banjarmasin.

Rumah-rumah tinggi di atas rawa dan pepohonan rindang di pinggiran jalan seakan membuat kesejukan perjalanan ini. Tanpa terlena, kami memacu kendaraan, karena saya sudah meminta waktu mereka untuk menunggu ketika saya mengetik berita nantinya.

“Dear all, sampai di kota kita harus mencari wifi id. Atau jika tak ada, kita singgah di warung/café yang ada colokan listriknya. Kurasa portable wifi di smartphone pada jaringan perkotaan bisa diandalkan,” ucapku.

“Pokoknya selesaikan saja urusan pian. Bila semua selesai, dan pian tenang. Kami tenang jua,” ucap Haji Udin diamini yang lainnya.

Saya belum pernah sama sekali menjejakan kaki di Kota Buntok. Dan ini adalah kali pertama, ketika lampu merah membuat kami berhenti, dan saya menurunkan kaki sebelah kiri ke aspal.

Selamat Datang di Kota Batuah, begitu kata plang yang terpampang besar di hadapan. Belok kiri melewati Jalan Pelita melalui Balai Kota. Saya menyempatkan membuka google maps untuk mencari Kantor Telkom. Ternyata kami salah jalur. Lantas kembali memutar ke arah dermaga. Damn, kami menemukannya.

Screenshot_2016-07-19-20-02-03_com.instagram.android

Check point 4. Saya membuka semua peralatan kerja, menyambungkannya ke colokan listrik yang tersedia dan telah terhubung dengan internet. Saya mulai berselancar. Sedangkan Obol dan Haji Udin mencari kios untuk membeli beberapa minuman dingin.

Proses tersebut memakan waktu kurang dari satu jam. Di waktu itu pula, ternyata Bungker sempat-sempatnya tidur dengan pulas di bawah naungan wifi id berwarna merah. Done, tugas rampung, kami berangkat menuju Palangkaraya.

Screenshot_2016-07-19-20-02-08_com.instagram.android

Satu belokan saja. Ya hanya satu belokan dengan plang kecil tanda panah yang bertuliskan Palangkaraya, kami akan tiba di tempat tujuan. Jembatan kecil, yang tidak bisa dikatakan bagus, dengan pemandangan hutan rimbun di hadapan.

Are you sure?” tanyaku menatap yang lain.

“Yakin?”

“Berdasarkan arahan, arah itulah yang mengatarkan kita ke tujuan!”

“Well, memangnya kita punya pilihan, Selain belok kanan surga?”

Screenshot_2016-07-19-20-02-15_com.instagram.android

Kami melaju dengan semangat. Sore itu sekitar pukul empat. Dengan tongsis di pinggang kupasang niat, menghantarkan matahari sampai tenggelam jika sempat. Karena kalau berfoto malam sudah pasti gelap pekat. Tas ransel diikat erat. Dan siapa yang tahu, ini adalah perjalanan terberat setelah ratusan kilometer yang sudah kami lewat. Sampai teruccap, “Jika lagi aku harus melalui jalur ini, cukup sekali seumur hidup melewatinya malam hari,” dan roda kami berputar dengan mantap. (bersambung)

 

Lombok Exotic (Bagian Pertama)

Kurasa ini adalah tulisan biasa. Terlebih mereka yang senang berwisata. Apalagi sudah berkali-kali pergi dan menikmati indahnya Lombok dengan pantai dan pulau-pulau di sekitarnya. Ya, boleh dikatakan, pantai-pantai di Indonesia adalah surge bagi para turis. Dan ini adalah kali pertama saya mendapatinya. Pergi ke Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Saya kira, tulisan ini bisa menjadi manfaat untuk sebagian orang, menjadi inspirasi beberapa orang. Atau bisa saja memuakkan, whatever-lah. Sing penting bisa berbagi cerita. Sing penting nulis. Itu aja.

Rinjani dan Gili Trawangan dari Balik Jendela Pesawat

Rinjani dan Gili Trawangan dari Balik Jendela Pesawat

Kesan pertama saat aku menengok tanahnya dari balik jendela pesawat, NTB memiliki tipe tanah yang tandus, gersang, cukup panas untuk ukuran pulau di luar Kalimantan. Well, saya berangkat dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dan harus transit terlebih dulu di Bandara Juanda Surayabaya.

Aku berangkat beserta rombongan. Tentu akan berbeda dengan perjalanan traveler kebanyakan yang hanya beberapa orang atau sepasang kekasih saja. Atau backpacker yang senang berpetualang. Ada 30 orang se-pesawat. Belasan di antaranya adalah kawan-kawan wartawan dari media cetak dan elektronik. Sisanya pegawai. Sudah, pokoknya begitu saja.

Bandara International Lombok

Bandara International Lombok

Dari Bandara International Lombok, kami diarahkan seorang Guide yang banyak bicara (namanya juga guide) dan bercerita tentang sisi negatif dan positifnya tanah jajahan Bali. Mulai dari tipe masyarakatnya, kelakuan dalam berlalu lintas, sampai sejarah kerajaannya. But, saya tidak akan memaparkan itu dalam catatan perjalanan ini. Puaaanjaaang banget, bro! Buka Wikipedia saja.

Keinginan saya pribadi tak lebih untuk menambah koleksi foto perjalanan saya bersama sejumlah jam tangan di aku instagram. Maklumlah, secara saya wartawan yang juga penjual jam tangan. Hobinya pamerin jam tangan dengan latar belakang tempat yang berbeda-beda. Itu misi saya turut serta dalam agenda perjalanan ini. Jadi kalau banyak foto jam tangannya, tolong dimaklumkan saja. Oh iya, jangan lupa follow instagram saya, ya! @anandarumi2. Beberapa foto yang saya posting di tulisan ini menggunakan Canon EOS 700D, Lensa Tamron 10-24mm, Samsung Galaxy Camera, dan Canon Ixus 105.

ini taman yang saya maksudkan

ini taman yang saya maksudkan

Pukul Sekitar pukul 11.30, perjalanan paling wajib adalah menuju Kantor Pemerintahan Kota Mataram. Di sana, para pegawai harus menunaikan hajatnya terlebih dahulu sebagai kunjungan kerja dan secara formal. Biasa, ngobrol, tukeran cinderamata, berfoto bersama, selesai. Dan resmilah rombongan kami menjadi tamunya Pak Walikota Mataram.

Sementara itu sedang berlangsung di dalam gedung kantor, saya berkesempata untuk sekadar keluar dari Bus Wisata dan smoking sesaat. Tepatnya di taman samping Kantor Walikota Mataram. Setelah saya ketahui, taman itu namanya adalah Taman Sangkareang. Ada air mancur di tengahnya. Beberapa titik di sekitarnya juga terdapat beberapa fasilitas publik dan olahraga. Taman ini tepatnya bertetangga dengan pendopo Walikota Mataram. Acara formal selesai, ngobrol ngalur ngidul dan beberapa batang rokok sudah dimatikan, wisata pun dilanjutkan. Cabuuuuuutt!! Oh, iya, satu orang di antara kami tidak ikut, seorang gondrong jurnalis Duta Tv sudah meagendakan perjalanannya sendiri menuju Kampung Banjar di Mataram. Setelah pada akhirnya mengapa saya tidak mengikuti dia saja. Ah, sudahlah, nanti saya ceritakan.

Kolam renang di tengah Taman Narmada

Kolam renang di tengah Taman Narmada

Satu jam setelahnya, perjalanan dilanjutkan menuju taman Narmada. Di sinilah semua rombongan mulai berhamburan. Beberapa baju batik juga diganti dengan T-Shirt. Yang tadi tampak rapi mulai berhamburan. Eh, ada yang lepas jilbab juga. Ya, maklum sajalah, keluar kandang. Aku sih asik aja, nambahin koleksi foto seperti niat awal.

Taman Narmada terletak di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat atau sekitar 10 kilometer sebelah timur Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Taman yang luasnya sekitar 2 ha(hektar are) ini dibangun pada tahun 1727 oleh Raja Mataram Lombok, Anak Agung Ngurah Karang Asem, sebagai tempat upacara Pakelem yang diselenggarakan setiap purnama kelima tahun Caka(Oktober-November). Selain tempat upacara, Taman Narmada juga digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja pada saat musim kemarau.

Pendopo Walikota Mataram

Pendopo Walikota Mataram

Nama Narmada diambil dari Narmadanadi, anak Sungai Gangga yang sangat suci di India. Bagi umat Hindu, air merupakan suatu unsur suci yang memberi kehidupan kepada semua makhluk di dunia ini. Air yang memancar dari dalam tanah(mata air) diasosiasikan dengan tirta amerta(air keabadian) yang memancar dari Kensi Sweta Kamandalu. Dahulu kemungkinan nama Narmada digunakan untuk menamai nama mata air yang membentuk beberapa kolam dan sebuah sungai di tempat tersebut. Lama-kelamaan digunakan untuk menyebut pura dan keseluruhan kompleks Taman Narmada.

Bale Petirtan Taman Narmada

Bale Petirtan Taman Narmada

(Terima Kasih Wikipedia… ^_^). Begitulah singkatnya. Katanya, ada kolam air awet muda di sana. Pengunjung yang masuk ke dalam pun wajib memakaio kain kuning yang dililitkan di tubuh. Ada yang memakainya untuk membasuh muka. Ada yang membasahi seluruh kepala. Beberapa kawan sempat memoto kawan yang lain ketika ia sedang memandang handphone, eh disangka serius banget sedang berdoa. Fotonya jadi barang bukti buat bahan bullying. Ada-ada saja. But, saya tak bisa menceritakan secara detail karena gak ikut masuk ke dalam. Ya, malas aja sih. Di luar sedang asik foto-foto. Ada pura. Ada kolam, eh… ada anjingnya juga nunggu di atas nangga. Mau balik badan turun tangga takut mencolok. Ntar dikira si anjing saya takut sama dia. Padahal  sih takut beneran. Untunglah, si anjing nyeloning saja turun tangga melewati saya. Sampai lah saya di depan pura pada undakan tanah yang paling tertinggi. Kata orang penduduk sini, Taman Narmada adalah perumpamaan atau miniature dari Gunung Rinjani. Makanya dibuat mendaki kayak gunung gitu. Ya gitu, deh pokoknya.

Kolam Pemandian di Tengah Taman Narmada

Kolam Pemandian di Tengah Taman Narmada

Kira-kira saya beserta rombongan menghabiskan satu jam hanya sekadar berfoto-foto dan mendengarkan ocehan guide. Maaf, ya, untuk perjalanan di hari pertama ini belum ada cerita pantai. Nanti di bagian kedua. Keep Follow me, oke!

Di Balik Patung ini adalah kolam yang katanya sumber air awet muda

Di Balik Patung ini adalah kolam yang katanya sumber air awet muda

Banyak yang menawarkan sejumlah kerajinan tangan dari kerang dan T-Shirt Lombok di sekitar Taman Narmada. Termasuk Mutiara, sebagai salah satu batu mulia produk andalan Lombok. Yang dipuja-puja kaum jet set dan artis Hollywood. Tapi sudah diwanti-wanti oleh Guide kalau jualan di luar bukan mutiara asli, melainkan imitasi. Tapi, katanya, kalau sekadar untuk hiburan ya tidak apa-apa lah. Siapa juga yang tahu. But, sejak awak berangkat saya juga sudah diwanti-wanti dan bertekad kuat untuk tidak membeli apa pun. Kembali ke misi awal, hanya menambah koleksi foto saja. Titik.

Nih dia, Jurnalis Radio Abdi Persada FM, Sempatkan Berfoto dengan background Taman Narmada

Nih dia, Jurnalis Radio Abdi Persada FM, Sempatkan Berfoto dengan background Taman Narmada

“Yang belum masuk, angkat tangan!” ini joke paling standart dan rutin dilemparkan Guide kepada para rombongan setelah duduk dalam bus. Ya tentu saja tidak ada yang angkat tangan. Kalimat inilah yang selalu terlontar saat melanjutkan perjalanan hingga dua hari ke depan oleh, setelah saya ketahui, namanya Herman. Gak pake “Syah”.

Cie Amang Befoto Banar

Cie Amang Befoto Banar

Bus berangkat, dan inilah yang saya sayangkan. Seharusnya, kunjungan ke pura-pura-an itu cukup satu pura. Ya setidaknya di Narmada tadi sudah cukup. Beberapa kawan juga sudah terlihat lelah. Tapi lantaran paket wisatanya memang harus begitu, ya ngikut saja. Saya melupakan saja nama tempat kedua ini. Waktu sudah agak sore sekitar pukul 14.30 Wita. Selain pura yang entah saya tidak terlalu tahu namanya dan malas men-searching-nya di google, saya duduk di warung kopi terdekat bersama tiga orang sahabat. Satu fotografer, satu journalis Banjar Tv, satu Lurah, dan seorang lagi staf dari bagian Humas Protokoler. Jadilah kopi hitam. Apa sehh??>?>??>

Saya yang pake Kemeja Hitam Merah. Itu tangan kok lebih putih dari muka ya? Bahaya nih, efek matahari siang nih.

Saya yang pake Kemeja Hitam Merah. Itu tangan kok lebih putih dari muka ya? Bahaya nih, efek matahari siang nih.

Setidaknya cukup menyegarkan mata. Ya, sugestinya, kan gitu. Untunglah di belakang warung terdapat mushola yang jaraknya tidak terlalu jauh. Setelah kewajiban ditunaikan perjalanan dilanjutkan menuju Lombok Exotic. Kalimat ini sebenarnya sudah saya temukan di plafon Bus. Ternyata, Lombok Exotic juga menjadi salah satu prdoduk T-Shirt, Aksesoris, dan Souvernir resmi bikinan Lombok. Kalau Jogja, mungkin Joger kali ya?!?!?!?!

Tuh kan, dari dalam Bus juga sudah ada tulisan Lombok Exotic

Tuh kan, dari dalam Bus juga sudah ada tulisan Lombok Exotic

Sekali lagi, saya menahan diri untuk tidak membeli apa pun. Sebenarnya sih bukan akal-akalan, tapi emang benar buat menghemat. Gak nyangka, kalau nafsu belanja udah memuncak, kadang lupa berapa budget yang kita bawa. Meski khawatir, ternyata kekhawatiran saya sangat berguna dan tidak membuah penyesalan saat pulang ke kampong halaman. Nanti deh saya ceritakan.

para penjual aksesori

para penjual aksesori

Kembali ke dalam Bus setelah “Shoping Time” berakhir. “Buset, aku udah gak nyadar. Habis 500 ribu Cuma buat beli kaos doang,” ucap seorang sahabat saat masuk ke dalam Bus. Tuh, kan, apa kubilang. Kalau beli oleh-oleh untuk satu orang keluarga gak adil rasanya kalau yang lain gak dibelikan. Ujung-ujungnya nafsu belanja memuncak. Mending gak beli buat siapa-siapa sama sekali. Awalnya melihat-lihat ke dalam… sebutlah distro… saya kepingin juga beli celanda pendek ya siapa tahu buat mandi di pantai nantinya. Dan sandal jepit buat jalan-jalan santai. Siapa tahu! Eh, ternyata kita tak pernah tahu.

Bus berangkat. Beberapa orang juga sudah tertidur di dalam perjalanan. Ada juga yang mengeluh pengen buru-buru check in hotel. Ada yang ingin pup lah, kencinglah, mandilah, makanlah, macam-macam, pokoknya segala bentuk alasan dari jaman jabot dikelurin demi beristirahat.

ananda_jualan mutiaraTahu-tahunya, peket wisata kembali menjadi kambing hitam. Herman mengaku sdah terlanjut memberitahu pihak hotel bahwa rombongan akan check-in habis setelah magrib. Dan perjalanan selanjutnya adalah ke toko mutiara yang asli. Asli bro, original. Ya, sebagai kaum Adam sih dengarnya biasa aja. Yang kaum hawa juga. Awalnya biasa-biasa saja. Sumpah. Malah gak kepingin sama sekali. Maunya ke hotel. Kekeuh banget.

ananda_Distro“Ya sudah kalau gak ada yang beli gak apa. Yang penting kita berhenti dulu. Sekadar melihat-lihat. Karena rutenya memang sudah harus begitu. Lihat-lihat aja dan sekadar menambah wawasanlah, yang ini mutiara asli. Yang ini imitasi, jadi bisa tahu cirinya bagaimana. Dan yang di toko ini sudah bersertifikat.” Promo Herman.

Suasana Dalam Bus

Suasana Dalam Bus

Bus berhenti, Herman bersua. “Baik bapak ibu. Ini toko mutiara yang asli. Yang kepengen lihat silakan. Yang mau tetap di Bus juga tidak apa-apa. Sebentar saja. Kurang lebih setengah jam ya. Karena perjalanan menuju hotel juga masih jauh,” katanya.

mutiara dalam etalase

mutiara dalam etalase

Satu orang turun. Dua orang turun. Tiga orang, empat orang, dan akhirnya semuanya turun. Ya, daripada ketinggalan saya juga ikut turun. Kembali ke misi awal saja, nambahin koleksi foto. Padahal semua gadget sudah pada low bat. Biarlah, yang penting bisa smoking sejenak.

mutiara dalam etalase

mutiara dalam etalase

Semuanya menyebar. Dari segala penjuru mata angin. Dari yang banyak tanya sampai yang mulai menawar. Dari yang tanya harga sampai yang jaim. Singkatnya, saat balik ke dalam Bus, beberapa di antara mereka menenteng bug kecil tempat mutiara bersembunyi. Yah, akhirnya kebeli juga. Tuh, kan, gara-gara lihat, kan. Mata memang senang menjerumuskan.

coba tebak yang lagi ulang tahun yang mana hayo?

coba tebak yang lagi ulang tahun yang mana hayo?

Perjalanan selanjutnya. Hanya kegelapan yang saya temui. Karena saya tidur. Dan bangun sudah di sebuah restoran. Di pusat keramaian. Hari sudah petang. Tempatnya cukup bagus diiringi musik tradisional yang nyaman. Sengaja lebih dulu diajak ke tempat makan dengan asumsi kalau sudah sampai ke hotel para tamu pasti sudah malas keluar-keluar karena sudah kelelahan.

Formasinya prasmanan. Semua makannya lahap. Dan ada kejutan perayaan ulang tahun juga kepada seorang Bapak. Ternyata ada kejutannya juga ya. Ternyata mereka juga menyiapkan kue ulang tahun kepada si bapak ini. Hehehe. Keren juga, ngerjain orangtua itu mengasyikkan. Mimik muka kagetnya itu lho… oh iya, saking tertawa-tawa saya pun hampir kelupaan harus mengabadikan moment tersebut. Akhirnya saya kebagian dokumentasi tiup lilin, salam-salaman, dan tepuk tangan.

cie bersih-bersih kolam pak

cie bersih-bersih kolam pak

Acara makannya sudah berakhir bro. Seperti biasa, keluar hotel kita mendapati lagi masyarakat yang jualan mutiara dan T-Shirt. Jarak restoran tak terlalu jauh dengan hotel yang kami tinggali. Hotel Bintang Senggigi namanya. Lumayanlah, ada kolam renangnya. Di sinilah penyesalan saya bermula, ternyata pihak hotel tidak menyediakan sandal. Sialan, hal ini membuat saya harus ke kios terdekat untuk membeli sandal jepit. Dan terbelilah sandal bermerek sky way di kios depan hotel. Dan satu lagi yang saya harus sesalkan, tidak etis rasanya kalau berenang dengan celana panjang. Shit! Kenapa saua tidak jadi membeli kolor tadi ya. Itulah kawan, tidak ada penyesalan yang datangnya di depan. Akhirnya saya berpikir, akan keluar malam ini dengan niat membeli celana pendek alias kolor untuk sekadar nyebur. Hiks!

ini hotel di belakang kolam renang segerrrrr...

ini hotel di belakang kolam renang segerrrrr…

Uniknya daerah Senggigi adalah, hampir semua bangunan hotel dibangun di bibir pantai. Jadi otomatis, buka pintu, bibir pantai di depan matamu. Deburan ombak dan pemandangan pasir putih pun menantimu setiap pagi. Tapi ini kan sudah malam ya. Brrrr… udaranya sangat dingin.

Aku mendapatkan kamar nomor 209 dan terpaksa harus bertiga. Itu juga setelah negosiasi dan bertukar teman kamar yang sejiwa dan “Rasuk Pamandiran” saya berkumpul dengan teman-teman dewasa muda dan para fotografer. Gak seru kalau harus satu kamar dengan orangtua. Gimana gitu.

pagi-pagi udah belanja lagi ini pemandangan di belakang hotel Bintang Senggigi

pagi-pagi udah belanja lagi ini pemandangan di belakang hotel Bintang Senggigi

Mandi ari hangat sudah. Beli sandal sudah, packing, nonton tv sebentar, dan  kamu berencana pergi keluar untuk sekadar mencari hiburan. Menggunakan taxi, pada permulaannya kami berangkat berdelapan. Namun karena seleksi alam, tinggal lagi berlima. Satu orang beralasan pulang karena mengantuk, dua orang lagi karena mau istirahat. ??? beda, ya?

ini pemandangan di belakang hotel waktu pagi

ini pemandangan di belakang hotel waktu pagi

Ada sebuah café di tengah keramaian Senggigi. Akkkhh… aku lupa namanya. Tapi yang malam kedua aku ingat kok. Nanti kuceritakan. Hampis semua tempat hiburan, Bar, Café, Pub, Bilyard, dan segalga tetek bengeknya dihuni oleh Turis. Kesannya, kita seperti orang asing. Kesannya kok ini kayak kampongnya mereka gitu. Kita yang singgah memang benar-benar kayak orang asing. Itu sih perasaan saya saja. Apalagi menunya, Inggris semua. Aku pesan yang standar saja. Paling cappuccino dan cola. Dua teman saya, Sebut Umbu dan Yoyo berbadan besar dan doyan nge-Gym pesan tequila dan bir bintang. Dua orang cewek yang satu berbadan besar itu menghabiskan satu mangkok kentang goreng dan banana split. Dan teman cantik, berhidung mancung, berambut pirang, dan yang namanya mirip dengan anak saya ini minum Lemon Squash. Saya jadi ingat, memanggil namanya serasa memanggil anak saya sendiri. Aaaaahh, sudahlah, persoalan pribadi.

Pada intinya sih, kita makan gorengnya bareng aja sih. Tapi entah mengapa yang berperut besar selalu lebih banyak jatahnya. Sekitar pukul 01.30 dini hari. Café memang sudah tutup, tapi beberapa pengunjung memang dibiarkan saja selaur-larutnya berdiam menghabiskan minumnya. Mau tidur sekalian juga boleh. Bahkan, ada tersedia kamar-kamarnya juga. Ya, mungkin ada harga sewa. But, semua tamu di sini bule.

Gili Trawangan, Tulisan berikut. Bocoran fotonya dulu ya... eeeaaa!!!

Gili Trawangan, Tulisan berikut. Bocoran fotonya dulu ya… eeeaaa!!!

Malam yang cukup melelahkan, kami kembali ke hotel sekitar pukul 02.00. Singkatnya, aku bersiap tidur. Charge beberapa gadget persiapan besok paginya menuju pantai. Horrreee…. Gili Trawangan nama pulaunya. Beberapa kawan masih ada yang ngobrol di beranda kolam renang. Hari pertama, biasa saja. Selanjutnya, terserah saya. Bersambung…