Catatan Perjalanan, Martapura-Tamiyang Layang (1/5)

 

Setelah melalui upaya yang cukup panjang dalam rangka penyelamatan SD Card saya yang sudah tidak terdeteksi baik di hape maupun pc, maka sah sudahlah, file 16 GB yang biasa saya pasang di Xiaomi Redmi 2 good bye, meninggalkan kenangan fisik berupa lempengan kecil yang kini tak berharga lagi. Padahal, semua memuat kumpulan foto yang telah saya ambil dari awal berangkat sampai ke Palangkaraya, (nanti kita akan tiba ke bagian ini). Bahkan kenangan sebelumnya, baik itu foto kegiatan, pemberitaan, serta video rekaman suara dan gambar saat bekerja. Selamat Tinggal.

Setidaknya, saya sudah sempat memosting beberapa dokumentasi perjalanan realtime di Instagram. Hanya itulah yang sempat terselamatkan. Dan sejumlah foto yang mendampingi tulisan saya berikut ini merupakan screenshoot dari instagram pribadi saya @anandarumi2. By the way, perjalanan itu berawal pada hari Senin, (11/7) kemarin.

Rencana yang matang usai rapat dan packing malam harinya, kami berangkat 4 orang dengan 2 unit sepeda motor matic dari Kota Martapura, meeting point di Kampus STAI Darussalam. Adalah Bungker, berperawakan tegap dan kekar layaknya prajurit, Haji Udin, berperawakan tidak tinggi yang tenggelam dengan ranselnya sendiri, dan Obol, bocah bola berambut pendek berwajah bulat sebagai rider Beat Birunya. Saya sendiri menggunakan Vario Techno berboncengan dengan Bungker. (bukan nama sebenarnya).

Janji di pukul 13.30 Wita untuk berangkat bersama menjadi 15.35 Wita. Dengan cuaca Kota Martapura yang cukup cerah, perjalanan cukup lancar. Saya sempatkan berhenti di Astambul untuk mengisi angin ban dalam agar kencang, dan mem-full-kan tangki minyak di SPBU Desa Mataraman.

Screenshot_2016-07-19-15-41-01_com.instagram.android

Kami tiba di Desa Tatakan, Kabupaten Tapin, di kediaman seorang sahabat yang juga saudara. Check point 1. Sekadar merenggangkan otot yang kaku sembari bercengkrama. Pembicaraan yang alot karena terlalu asik menjadi pembicaraan melebar dan berakhir pukul 18.35. Di sinilah perjalanan sebenarnya dimulai.

Matahari kembali peraduan barat. Senja menjelma. Sedikit cahaya merah masih menaungi perjalanan. Perlu diketahui, saya bersama bungker memang tidak tidur di malam sebelumnya, selain obrolan Tasawwuf yang terlalu larut malam, diselingi dengan tontonan Final Piala Eropa, dan pagi-pagi sekali saya harus berurusan dengan petugas Samsat Corner bersama antrian yang cukup panjang hingga siang hari. Faktor kelelahan dan tidak ada istrihat inilah yang mungkin membuat kepala dan mata begitu berat, dari pukul 20.00 Wita.

Screenshot_2016-07-19-15-41-07_com.instagram.android

Setelah beberapa kali berganti joki, dan sebelum terhuyung sampai ke pinggiran aspal, kami sepakat untuk berhenti di warung makan sebelum Bundaran Ketupat, di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Ada nasi kuning dan nasi putih masak habang yang kami santap untuk makan malam di hari pertama ini. Setelahnya, aku sempatkan terlelap di meja makan beberapa menit. Mungkin sekitar 10 menit.

Perjalanan dilanjutkan menembus cakrawala malam menuju Kota Amuntai, tentu saja kami tak melewati Kota Barabai, karena beda jalur. Ada satu masjid yang kami jadikan tempat persinggahan. Sayangnya, saya lupa mengeja nama. Setelah cuci muka. Aku rebahan bersama yang lainnya.

Ketika bangun, Obol bilang saya tidur mendengkur, Saya rasa hanya beberapa menit saja. Nyatanya, lebih dari 30 menit. Mungkin reaksi normal dari tubuh yang ingin memenuhi haknya. Bahkan katanya, sementara saya tidur, ada mobil polisi yang menghampiri, ia mengira ada pemeriksaan rutin, ternyata hanya numpang memalingkan mobilnya saja di halaman masjid.

Screenshot_2016-07-19-15-41-29_com.instagram.android

Screenshot_2016-07-19-15-41-40_com.instagram.android

Perjalanan kurang lebih 160 Km yang seharusnya kami tempuh dalam jangka waktu 3 Jam dari Kota Martapura membengkak menjadi 5 jam lebih hingga tiba di Jembatan Paliwara, Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Berhenti menyempatkan berselfie.

Screenshot_2016-07-19-15-41-50_com.instagram.android

By the way, ini adalah kali pertama saya melalui Kota Amuntai menggunakan motor. Saya bersama yang lain berkesempatan melihat-lihat situasi pinggiran jalannya di waktu malam dengan membuka helm. Merasakan angin malam di perjalanan santai pedesaan itu beda dengan perkotaan. Ternyata, banyak sekali produsen perabotan rumah tangga berbahan alumanium di kota ini. Baik itu dari jemuran, lemari dapur, sampai alat keperluan rumah tangga lainnya.

Saya kira, beberapa toko penjual perabotan rumah lainnya banyak yang mengambil suplai barang dari kota ini. Hawa dingin dari lingkungan rawa-rawa di sekililing mengantarkan memasuki deretan warung remang-remang. Seperti yang telah lumrah kalian ketahui, perempuan berpakaian ketat, wanita paruh baya berambut jagung, kedipan mata bak perangkap siap menghasut Rem pada laju kendaraanmu. Aku tak lagi merasakan kantuk. Sama sekali.

Deretan warung yang cukup panjang, mungkin sekitar 1-2 Km, ketika waktu menunjukkan 22. 45, kami berniat untuk singgah sekedar meneguk kopi hitam panas walau secangkir saja. Tapi bukan di warung gadis bak selebritisnya, khawatir argo jalan dan biaya perjalanan terpangkas di luar dugaan.

Screenshot_2016-07-19-15-41-57_com.instagram.android

Kami mendapati satu warung kopi dengan Acil dan Paman Berkopiah haji di sana, Memesan kopi dan teh, menyempatkan berfoto. Dan bercengkrama soal rooling door yang tak lagi rooling door. Bungker paling rinci soal ini, aku tak terlalu memerhatikan. Sementara duduk di warung kopi, kami masih mengupayakan agar sampai ke Tamiyang Layang sebelum lewat tengah malam, menginap di rumah sahabat yang juga saudara untuk mengamankan diri dari ganasnya tengah malam di padang hutan. Entahlah, apa yang bakal terjadi, kita lihat saja nanti. (bersambung)

 

Antara Satpam RS Swasta dan Asuransi Kesehatan

Kalimat “Sehat itu mahal” tak akan pernah mati ditelan zaman. Bahkan terus abadi sepanjang masa. Pun demikian juga dengan keluhan para pasien dan petugas rumah sakit. Apa pun bidangnya, hampir semua merasakan hal yang sama.

 

Saya turun ke lobi terbawah, keluar ruangan untuk sekadar mengepulkan asap tembakau. Secara, ini rumah sakit, bro! Meski beberapa kali di RS Daerah saya mendapati orang-orang dari golongan ahli hisab seperti kami melakukan hal tersebut di lorong-lorong tanpa ada teguran dari petugas atau pun perawat. Hanya plang-plang kayu serta plastik saja yang menegur dengan bentuk tulisan tanpa suara. Tidak di sini, di RS Swasta.

 

Sekali lagi ini bukan promosi, hanya menyampaikan pengalaman seorang satpam rumah sakit. Sebut saja inisial nama belakangnya “A” dengan akhiran “gus”. Kami pun beramah-tamah. Seputar 5W+1H. Tak jauhlah dari hal siapa keluarga?  dari mana? lingkungan tempat tinggal? alasan berada di rumah sakit ini? dan yang paling mainstream adalah kalimat. “Kenal gak sama si “anu” dia tinggal di sekitar itu? Orangnya bla… bla… bla!” betul, gak sih, guys?Karena mertua saya tinggal di Mandiangin, jadi tak saya ketahui seorang tokoh yang satpam itu tanyakan kepada saya. “Mungkin mertua saya lebih tahu. Nanti tanyakan.” Begitu saya menjawabnya.

 

Saya mengisahkan perihal keberadaan keluarga di sini sedikit saja, seperti rujukan dari bidan di kampung Mandiangin hingga melahirkan dan bermalam di RS Pelita Insani di Jl Sekumpul Martapura ini. Katanya satpam sih memang baru berdiri, ya hampir setahun. Sekali lagi, ini bukan promosi. Alasannya singkat saja, karena sedari umur kandungan 3 bulan, 5 bulan, 7 bulan, dan 9 bulan awal, kami (dengan istri) rutin cek ke dokter yang sama di ruangan yang sama dengan kartu anggota yang sama dan fasilitas yang sama. Tentu saja ikatan emosi antara dokter dan pasien itu penting. Untuk membangun kondisi kenyamanan psikis yang berdampak positif pada perasaan. Saya percaya betul dengan proses itu. Semoga tidak keliru.

 

Sembari saya sedang berasap, Si Satpam Agus pun membuka cerita. “Memang harusnya begitu. Perihal biaya, kadang-kadang kita sangat perhitungan sampai membuat hati kesal. Apalagi profesi kecil seperti kita-kita ini. Padahal, uang bisa dicari, ya, tentu saja. Tapi, namanya kenyamanan hati kita bisa memilih. Yang mana terbaik untuk anak-istri. Persoalan biaya mahal bukan untuk dipikirkan, tapi dibayar,” Katanya meski sebenarnya dia tak tahu profesi saya wartawan. Mungkin dia bercerita begini karena asumsi masyarakat bahwa RS Swasta lebih mahal dibandingkan RS Daerah. Memang betul. Ada harga ada rupa, itu juga betul. Kenyataannya memang begitu, kan?

 

Beberapa waktu lalu istrinya juga melahirkan. Lantas dibawalah ke salah satu Rumah Sakit Daerah di Kota Banjarbaru. Karena dia mempunyai kartu asuransi sejenis BPJS/Askes/Jamsostek/Jamkesda/Jampesal/Jamkesmas/bla-bla-bla dengan segala tetek-bengeknya itu, maka dipakailah fasilitas termaksud.

 

Sebelumnya, ketika saya datang ke RS ini dan ditanya oleh petugas administrasi apakah ingin memakai asuransi? Saya menjawab tidak. Karena memang tidak memiliki kartu apa pun. Atau memang ada dari kantor, tapi sekarang belum saya pegang karena belum disuruh mengambil. Atau sedang dibikinkan tapi belum selesai-selesai. Ah sudahlah. Singkatnya, kubeberkan perihal itu kepada satpam dan dia respon dengan mengangkat dua jempol. Apa coba?

 

“Bagus. Kamu tahu, istri saya melahirkan di RS Daerah. Karena memang ada asuransi kesehatan (BPJS) maka saya pakai. Dan saya menyesal. “Dusta wara”. Apa rasanya jika kamu sebagai suami harus menelantarkan istrimu yang sedang kesakitan di ruang administrasi lantaran urusan isi mengisi nama begitu lama. Belum lagi, sebagai suami, tugas saya merangkap sebagai jongos rumah sakit. Masak impus habis saya disuruh beli sendiri? Bolak-balik apotek-kamar pasien! Mengantar dan mengambil segala bentuk kertas! Tak ada perawat yang datang ke kamar sebelum keluarga pasien yang mendatangi dulu ke ruangannya. Asuransi apa itu? Pelayanan kesehatan macam apa?”

 

Saya pikir, gratis sih gratis, ya. Tapi, ya gak gitu juga keles! Atau saya salah. Mungkin juga. “Lho, kenapa begitu, bang? Bukankah seharusnya sudah ada petugas yang mengurus itu semua sesuai bidangnya?” sahut saya seolah membela.

 

“Itulah hal yang tidak aku mengerti sampai ini dengan pelayanan rumah sakit daerah.” Jawabnya.

 

Saya hanya mengangguk. Sedikit tidak percaya. Karena memang seumur hidup saya, hingga tulisan ini dituliskan, tidak pernah masuk rumah sakit dalam konteks “dirawat di ranjang pasien.” Begitu juga istri saya. Ini adalah kali pertama dia (istri saya) berbaring di ranjang pasien dan ditusuk oleh infus. Dan tentunya melahirkan.

 

Belum lagi, Satpam Agus melanjutkan, pengapnya ruangan dan obat-obatan yang menyengat di RS Daerah. Kegaduhan di setiap ruangan. Apalagi kelas biasa, sebut saja kelas ekonomi, anak-anak bermain berlarian di lorong tanpa teguran. Mungkin ada beberapa orangtua yang menegur namun tanpa ada respect dari petugas rumah sakit.

 

“Kalau di sini tentu saja kami tegur dan disiplinkan. Setiap lantai CCTV berhadapan diawasi di ruang pengawasan. Kalau ada anak-anak yang membuat kegaduhan di lorong ada petugas kami yang menegur. Termasuk yang sembunyi-sembunyi merokok. Gak bakalan bisa. Selain CCTV semua ruangan juga sudah ada sensor asap. Bahkan toilet sekalipun.”

 

Entah apakah satpam ini memang niat berpromosi, saya diam saja.

“Terus, segala macam obat, makanan, dan pemeriksaan, perawat rutin mengantarkan ke kamar, mau itu kelas III sampai VVIP sekali pun pelayanannya sama. Yang berbeda hanya jarak lokasi lantai dan batasan ruangan. Setiap kamar bersih, tidak ada bau-bau obatan yang menyengat apalagi kegaduhan. Ada perlu, tinggal pencet bel. Perawat yang datang pasien, buka sebaliknya. Berbeda sekali dengan yang aku temui di RS Daerah, yaitu tadi, pasien yang mendatangi perawat, bahkan harus rela disuruh-suruh beli obat, yang menyuruh mukanya hanya layar hepe saja. Entahlah apa itu namanya bbm-an chating, aku tak paham. Anak muda zaman sekarang.”

 

Nah, kalau soal perawat RS daerah mainin hape sambil melayani pasien ini sering kulihat langsung di RSUD Banjarbaru dan Martapura saat menjenguk teman dan liputan berita. Mungkin sedang mainstream perawat model begini.

 

Saya manggut-manggut lagi. Menghela napas panjang dan mematikan puntung di tempat tersedia. Tak berapa lama menyampaikan keluhan itu, seorang petugas parkir datang menghampiri kami, melaporkan dan mengeluhkan seorang sopir yang sulit dikasih tahu untuk memindahkan mobil “All New Avanza” Putih mengilat. Tersebab, kata petugas parkir, ada ambulance RSUD Zalecha mau masuk. Lha, kok gitu?

 

“Padahal sopir mobil ini sudah berkali-kali saya kasih tahu, jangan markir mentok pas di depan ruang IGD. Sejak awal datang malahan. Karena ada saja ambulance yang keluar-masuk. Seharusnya orang-orang bermobil seperti ini lebih paham dari satpam. Dia kan lebih pintar. Orangnya malah manggut-manggut dan menjawab “Sebentar… sebentar saja. Saya nunggu istri saya dulu.” Jawab dia begitu, dik. Banyak juga pengguna motor yang keras kepala untuk diatur motornya. Heran! Saya merasa malu kalau harus menegur mereka-mereka terlalu sering. Karena saya yakin betul orang-orang berpendidikan seperti mereka ini mengerti yang mana baik dan tidak sesuai aturan. Bisa dilihat dari cara mereka berpakaian dan apa yang mereka pakai.”

 

Mendengar kalimat itu, saya sedikit terhentak. Kalau yang pakai mobil, kan bisa aja dia menyewa di rental! Eh, tapi mungkin gak sih mobil rentalan pakai boneka-boneka warna warni gitu di depan kacanya? Ada namanya segala lagi di gantungan spion. Entahlah, sebab sering juga ngeres mau markir sesuka hati. Tapi bukan di sini, yaaaa… melainkan di Bank dan pasar. Semoga prasangka saya tidak salah, beda lingkungan beda karakter tukang parkirnya dong… dong… dong. Ya, khaaan?!?!

 

“Lha. Terus, kenapa ada ambulan RSUD Zalecha yang mau ke sini, bang? Rujuk maksudnya?”

 

“Itulah, dik. RS Zalecha sering sekali merujuk pasiennya ke sini. Dari yang mau melahirkan sampai yang mau mati. “Parak mati hanya diantarnya ke sini.” Mereka beralasan lantaran alatnya tidak lengkap dan pasien susah untuk ditangani? Yang lebih sering karena ruangan sudah penuh. Hampir setiap hari.”

 

Hah? Susah ditangani. Karakter macam apa ini? Trus RSUD Daerah sebesar itu kok alatnya tidak lengkap. Heran? “Susah ditangani bagaimana maksudnya, bang?” saya tanya, kan.

 

“Barusan kemarin ada pasien tabrakan di wilayah Gambut. Mereka, petugas RS Zalecha itu mengatakan, korban kecelakaan motor. Kepalanya terhempas dan rengat. Pendarahan. Dan di RS Zalecha tidak bisa menangani. Masak pasien yang mengerang kesakitan disuruh diam. Bayangkan bagaimana perasaan keluarganya saat mendengar petugas rumah sakit yang bilang begini dengan korban. “Bapak diam dulu. Bapak gak bisa diam apa? Kita ini mau merawat,” begitu. Coba kalau kamu yang jadi keluarganya atau orangtuanya atau saudaranya pasien. Karena harus operasi, mereka lepas tangan dan pasien dirujuk ke rumah sakit ini,” papar Satpam Agus.

 

Saya sedikit kecewa dengan keluhan Satpam ini. Seorang perawat, kan seharusnya mengerti, bukan memarahi apalagi membentak apalagi menyruh pasien diam seperti itu. Karena, belum tentu sepenuhnya benar, kan? Lagian saya tidak pernah mengetahui dan merasakan secara langsung bagaimana pelayanan di RS Daerah. Hush, jangan sampai deh. Kalau mendengar cerita dan pengalaman dari kawan-kawan sih, sering. Termasuk juga menulis beritanya, tapi RS Daerah yang di Banjarbaru lho ya. Saya sering ke RS sekadar menjenguk sahabat sebagai pasien, tapi tidak untuk dirawat menjadi pasien. Alhasil, kembali lagi kepada kita sebagai ladang curhat Si Satpam ini, dan juga orang-orang sekeliling anda sebagai pembaca. Setiap orang pengalamannya beda-beda dong. Kali aja si satpam ini ketiban apes di RS Daerah. Apa betul pelayanan rumah sakit umum daerah separah yang disampaikan satpam ini? Menyesakkan.

 

Tak berapa lama, bapak mertua saya keluar dari pintu lobi dan mendatangi saya bersama satpam. Ternyata kedatangannya dengan alasan yang sama. Maklumlah kami ahli hisab. “Senyaman apa pun di dalam, tetap harus keluar. Demi ini,” katanya seraya menunjuk sebuah kertas+kapas tergulung isi tembakau yang telah akrab dengan kami para lelaki.

 

Singkat saja, obrolan beralih ke pertanyaan satpam ke mertua saya tentang si preman tobat. Seorang tokoh di Mandiangin yang loyal dengan sahabat, tapi jika disakiti bisa menyayat. Untunglah katanya dia sekarang taubat sering berkopiah haji dan shalat. Namanyar Ramli. Saya tak tahu embel-embel dan tetek bengek berjalannya cerita itu saat si satpam bertemu orang yang tepat untuk menyambung pembicaraannya, yakni mertua saya.

 

Saya sudah merasa cukup menghirup udara segar. Lantas minta izin permisi meninggalkan mereka berdua yang sedang asik mengobrol perihal preman tobat. Saya masuk lift meski harus rela pusing. Padahal cuma dari lantai 1 ke lantai 3. Sebetulnya pakai tangga kan lebih menyehatkan! Ya… ya… ya alasannya Cuma satu: MALAS!

 

Sampai dalam kamar, ternyata istri saya sudah tertidur. Tapi itu tidak penting. Saya mengambil perkakas, meng-charge beberapa gadget yang memang sudah lowbat. Membuka laptop dan bersiap menulis. Sebelum saya mulai menulis, suara satpam Agus terdengar dari bawah. Saya buka jendela, dan melihatnya tampak sigap mengatur ambulance bertuliskan RSUD Ratu Zalecha yang sedang parkir di depan IGD bersama petugas parkir yang lain di bawah sana. Saya berdoa dalam hati, semoga pasien yang dirujuk kali ini bukan korban yang sudah hampir mati.

Onoffsolutindo Gelar Roadshow Workshop Cerpen

Sejumlah peserta yang terdiri dari para siswa SMAN 1 Martapura tampak aktif mengikuti materi yang dipaparkan oleh Sandi Firly dalam Gelaran Roadshow Workshop Penulisan Cerpen oleh Onoff Solutindo Project bertema lingkungan bekerjasama Kawa Banua dengan clickborneo.com dan Harian Radar Banjarmasin, Selasa, (3/9), kemarin.

???????????????????????????????Kepala Sekolah SMAN 1 Martapura H Busra MPdi mengakun sangat meresponsif kegiatan demikian. “Apalagi ini merupakan peluang-peluang untuk mempublikasikan karya-kareya para siswa terlebih yang sudah mempunyai keterampilan dalam hal fiksi,” ujarnya ketika memberikan sambutan.

Ia mengharapkan workshop tersebut bisa memberikan manfaat dengan perpaduan antara ilmu pengetahuan dengan materi-materi yang disampaikan. “Saya dulunya ingin sekali menjadi cerpenis. Tetapi sayangnya tidak kesampaian. Jadi dendam saya kepada para siswa bagaimanapun caranya harus pandai menulis,” akunya.

Kegiatan dibuka dengan pembacaan cerpen oleh Harie Insani Putra kemudian dilanjutkan pemaparan penulisan fiksi oleh penulis Novel Sandi Firly. Di dalam pemaparannya disebutkan, setiap orang mempunyai unsur atau alat yuang berbeda-beda dibutuhkan dalam menulis cerpen.

“Namun yang paling penting adalah kosa kata dan ide cerita. Sebab tanpa kedua itu walaupun kita punya alat yang lengkap untuk menulis tetap saja tidak akan membuahkan cerita yang menarik baik itu cerpen ataupun novel,” katanya.

???????????????????????????????Para siswa tampak aktif bertanya dalam ranah penulisan cerita baik itu keharusan adanya konflik, ending, pembuka, badan cerita, ending, metafora,dan sebagainya. “Sebagus apapun ide cerita, tapi tidak disampaikan dengan kosa kata yang baik maka cerita itu tidak akan menarik,” lanjut Sandi.

Gelaran perdana workshop di SMA 1 Martapura tersebut sekaligus membuka kegiatan di 4 kab/Kota yakni, Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, Kota Banjarmasin, dan Kabupaten Tanah Laut.

???????????????????????????????Officer Project Onoff Solutindo Dian Sisy Arlika menjelaskan, Selanjutnya, Kawa Banua akan menggelar Lomba Cerpen Tingkat Nasional. “Diharapkan workshop ini bisa menopang kemampuan para siswa dan turut serta dalam lombat tersebut,” bebernya.

Di akhir workshop para peserta dibagi beberapa kelompok untuk mengerjakan draft cerita yang nantinya diseleksi pihak Onoff Solutindo untuk mendapatkan beasiswa di Kelas Penulisan Novel yang segera dimulai pada Oktober mendatang. Dan hari Senin, (9/9) event yang sama segera dilaksanakan di MA Hidayatullah, Martapura, Kabupaten Banjar.

 

Rayakan HUT Proklamasi, Lanud Syamsudin Noor Datangi 3 Lokasi

Keluarga Besar Lanud Sjamsudin Noor turut memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-68 di Provinsi Kalimantan Selatan dengan mengikuti Upacara Peringatan yang dilaksanakan di Tiga tempat yaitu di Halaman Kantor Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan Banjarmasin, di Lapangan Dr Murdjani Banjarbaru dan di halaman kantor Bupati Kabupaten Banjar Martapura, Sabtu (17/8).

Komandan Lanud Sjamsudin Noor Letkol Pnb Esron SB Sinaga Ssos yang diwakili oleh Kadisops Lanud SAM Mayor Lek Petrus Prihatin S beserta Isteri turut hadir mengikuti upacara HUT Kemerdekaan RI ke-68 yang digelar di halaman kantor Gubernur Kalsel yang bergabung dengan tamu undangan yang terdiri dari pejabat sipil dan militer Muspida tingkat I Propinsi Kalsel, serta para tamu dan undangan dari pejabat Pemerintah Propinsi Kalsel, Veteran, organisasi kemasyarakatan pemuda, partai politik dan lainnya.

Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Gubernur Kalimantan Selatan H.Rudy Ariffin.  Pasukan upacara dari Lanud Sjamsudin Noor bergabung dengan pasukan upacara yang terdiri dari TNI-AD, TNI-AL, POLRI, Instansi sipil dan gabungan pelajar dari kota Banjarmasin.

Upacara dimulai pukul 10.00 WITA diawali pengibaran Bendera Merah Putih dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Provinsi Kalimantan Selatan  beranggotaan pasukan 17, 8 dan prajurit Lanud Sjamsudin Noor sebagai pasukan 45. Selanjutnya pembacaan naskah proklamasi oleh ketua DPRD Propinsi Kalsel.

Pada peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-68 tahun 2013 tingkat Provinsi Kalimantan Selatan, partisipasi prajurit TNI AU selain upacara puncak detik-detik proklamasi sebelumnya juga telah mengikuti berbagai acara pendukung seperti pengukuhan Paskibraka, Upacara Renungan Suci, Upacara Sarinande dan gelar senja.

Mencari Kunci Yang Hilang (Bagian 2)

???????????????????????????????Akhirnya dengan perlahan dan bergoyang-goyang, kami berhasil melewati jembatan gantung yang mengerikan. Sepeda motor terus lanjut ke jalan-kalan perkampungan yang lebarnya tak muat jika mobil lewat sini. Melewati rumah-rumah klasik dan sekolahan SD di perkampungan.

Langit berwarna biru yang luas terpampang di atas kepala kami. Dilanjutkan dengan pemandangan air yang terhampar di hadapan. Panasnya matahari mendadak sejuk saat aku menatap air.

“Sudah kita parkir di sini saja,” ujar Sisy. Kami memarkiran kendaraan di belokan jalan sebelum melewati jembatan yang lebih kuat. Bukan seperti jembatan sebelumnya yang bergoyang-goyang. Awalnya kami memarkirkan kendaraan berjejer di depan rumah orang-orang pribumi. Itu lantaran lebih teduh. Namun karena kurang enak, akhirnya beralih ke tempat di samping rumah orang, meskipun pana manggantang. Kecuali kendaraan Sisy yang lokasinya sudah strategis, agak teduh.

Kak Hari berfoto di Jembatan

Kak Hari berfoto di Jembatan

Masing-masing dari kami sudah melepaskan bebeberapa atribut perjalanan. Dari sarung tangan, jaket, tutup muka, dan yang paling utama, Helm. Di sepanjang jalan kami sempatkan untuk berfoto. Aku juga banyak sekali memoto aktivitas yang ada di sana. Anak-anak yang mandi timbul tenggelam di sungai. Yang menarik lagi adalah penampung yang mereka gunakan. Bukannya dari kulit ban dalam yang biasa di pakai di kota-kota. Melainkan dari kantong plastik yang ukurannya agak besar diisin dengan angin. Hasilnya, pelampung itu tampak transparan.

Kemudian perjalanan kami kami ber-12 (termasuk Gendhis yang paling kecil anaknya Kak Harie) melewati anak-anak tangga ke atas. Di tangga ini pun sempat berhenti untuk sekadar berfoto. Setelah itu maju menuju pagar yang terhalang. Awalnya kami ragi apakah jalur di sini memang terbuka untuk umum? Untung aja ada kenalan lama Sisy yang merupakan orang setempat menjamin aman. Jalur masuk tersebut sebenarnya talah di kandang dengan besi. Menyisakan sedikit ruang di ujungnya untuk dimasuki seorang manusia dengan memiringkan badan. Kebayang gak sih, bagaimana kalau si buncit yang melewati pintu gerbang ini? Untungnya semua dari kami adalah manusia bertipe tubuh ideal.

???????????????????????????????Di sebelah kiri dan kanan kami adalah tebing-tebing yang dihiasi pepohonan layaknya hutan belantara. Menurut informasi, tebing tersebut memang telah terbangun sejak jaman penjajahan Belanda. Dan akhirnya, kami sampai. Di tempat yang dimaksudkan. Sungguh, sangat-sangat tidak menarik bagiku pribadi.

“Ya sudah… kita sampai disini saja. Buka makanannya,” tutur Mama Gendhis.

Semua duduk manis. Ada yang jongkok ada pula yang sekadar bersila. Aku asih melihat-lihat ke sekililing. Di hadapan kami merupakan pintu masuk menuju kantor PLN yang menangani turbin bendungan waduk Riam Kanan terpampang kandang. Bukan kandang permanen, hanya kayu yang melintang. Di situ bertuliskan “Selain Petugas Dilarang Masuk”.

???????????????????????????????“Ayo, kak. Kita foto-foto dulu!” ujar Diah mengajakku. Bukan, tapi mengajak kami semua, siapa saja yang bawa kamera. Inilah resiko fotografer atau smartphone kameranya berkualitas. Selalu disuruh-suruh menjadi pelayang mereka orang-orang yang doyan narsis. Itu adalah kutukan kawan.

Beberapa rekan sudah berfoto di tebing yang tinggi dan curam itu. Saat itu pula Kak Hari dan Zian sudah meninggalkan kami. Dia mengeluarkan alat pancing. Katanya mau ngetes, ikan disini makannya apa. Begitu.

Beberapa dari kami sempat memikirkan, bagaimana bisa sebuah batu besar itu dibentuk rapi sedemikian rupa. Tapi ya sudahlah. Kita tidak ingin membicarakan sebuah filsafat atau sejarah. Tapi nikmati saja udara yang menyejukkan di sekitar lingkungan sekarang. Jauh dari hiruk pikuk lalu lintas. Dan terbebas dari polusi udara. Aku menarik nafas panjang. Menghirup udara segar pegunungan. Kemudian, datang seorang satpam.

Dari kiri ke kanan: Sisy, Diah, Lutfie

Dari kiri ke kanan: Sisy, Diah, Lutfie

“Mau masuk?” Katanya.

“Gak Om. Di sini saja. Piknik,” sahut seorang dari kami.

“Kalau mau masuk bisa aja. Di dalam lebih nyaman lihat pemandangan waduknya. Kalau berfoto disitu juga pasti bagus. Asal jangan langsung semua. Bergantian aja. Dua orang atau tiga orang,” kata Satpam itu mengakhiri.

Aku juga sempat memikirkannya. Nantilah setelah season foto-foto di sini usai. Salah satu di antara kami (ini sengaja kebanyakan salah satu salah satu dan salah satu. Karena aku lupa waktu itu siapa yang melakukannya) menelpon Syaukani dan Dillah yang katanya sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi mereka tiba. Gumamku.

**

Ocha di Pinggir Jembatan

Ocha di Pinggir Jembatan

Syaukani dan Dillah datang membawa beberapa minuman botol. Namun tak sampai 5 menit, di belakang mereka menyusul sejumlah anak-anak yang tampaka dari pelajar sekolahan islam. Ternyata benar, mereka adalah rombongan Madrasah Ibtidaiyah. Aku mengetahui itu setelah bertanya-tanya ke salah seorang rekan yang juga teman Syaukani. Awalnya aku sangat bingung. Bahasa komunikasi yang dipakai bukanlah bahasa manusia. Eh, maksudnya bukan bahasa banjar yang dipergunakan kita-kita. Tapi, logat mirip-mirip bahasa Thailand. Seperti film-film Thailan yang sering kutonton. Swadikap. Phai tot. Rehe-rehe. Dan lain-lain. Ups, ternyata bahasa itu adalah bahasa Madura.

“Iya memang kebanyakan murid dan gurunya orang Madura. Sekolahannya itu di Pengaron,” jelas teman Syaukani setelah kita mengobrol banyak. Para murid yang jumlahnya hampir 60 orang itu pun juga membawa beberapa makanan ringan, minuman botol dan kaleng. Ini adalah momentum yang sangat aku sayangkan, semua sampah bekas makanan mereka di buang sembarangan di hamparan rumput hijau PLTA yang bersih. Mencolok sekali menjadi tak sedap di pandang. Semua murid juga menulis-nuliskan namanya di tebing-tebing batu. Mungkin karena memang sudah ada contoh yang mereka tiru. Kemudian pulang meninggalkan onggokan sampah-samapah tak bertuan.

Kak Harie memotret pemandangan dengan smartphonenya Samsung Wonder

Kak Harie memotret pemandangan dengan smartphonenya Samsung Wonder

Aku dan teman-teman lainnya sempat memunguti beberapa bungkusan makanan ringan tersebut. Tapi tak semuanya. Lebih kepada lingkungan di sekitar kami berhampar dan berkumpul. Dan aku mengkhawatirkan, kami akan ditegur satpam gara-gara sampah yang berserakan. Padahal… dan satpam itu pun mendatangi kami.

“Maaf Om…” aku mendahului pembicaraan.

“Tadi ada beberapa orang siswa dan siswi katanya dari MI berlibur di sini. Sayangnya mereka sudah pulang dan meninggalkan sejumlah sampah di wilayah itu,” aku sembari menunjukkan.

“Ya, saya cuma antisipasi. Gak enak aja. Di kira kami yang menghamburkan sampah sekian banyak itu. Bahkan di setiap sudutnya,” jelasku.

“Ya sudah.. tak apa-apa. Ini serius gak mau masuk. Mumpung sepi. Dan yang jaga saya, kalau yang lain bisa gak dibolehin,” ujarnya.

Diah, Sari, Ocha, dan Gendhis

Diah, Sari, Ocha, dan Gendhis

Aku menyampaikan maksud satpam itu kepada yang lainnya. Dan mereka mengangguk.

“Oke. Segera. Kami melihat-lihat di dalam,” tutupku.

Satpam itu menunggu dan beberapa dari kami berdiri untuk masuk beserta satpam tadi. Tinggal lagi Sari dan Diah tinggal untuk sementara menunggu beberapa perkakas dan makanan yang kami bawa.

Aku melihat dari beberapa yang kulihat. Kebun-kebun bunga yang terpotong dengan rapi. Kupu-kupu yang tak sempat terfoto. Juga Ular hijau yang melilit di pagar. Nah, kalau ular hijau yang ini sempat terfoto.

Aku juga sempat minta fotokan disamping plang yang berisi peringatan. Kini, semua sudah tak terkumpul, melainkan menyebar ke sana kemari. Ada yang di tengah bendungan. Juga menaiki bebatuan. Kami berfoto bersama-sama. Hanya Kak Harie yang tak sempat masuk ke sini. Sedangkan Zian telah datang menyusul kami.

**

???????????????????????????????Lama sekali kami di sini. Banyak pula obrolan serta percakapan yang saya tidak tuliskan. Apalagi foto, jangan ditanya. Hampir setiap deting. Ada yang bergaya pis, terbang, narsis, perkasa, sok imut, sok cantik, bahkan mengambil salah satu frame dalam film 5 Cm. Lihat saja fotonya yang saya tautkan dalam tulisan ini.

Demi mempersingkat waktu, cerita langsung ke kami keluar dari bendungan. Namun bergantian. Sekarang giliran Sari dan Diah yang masuk ke dalam dan berfoto-foto seadanya. Kami yang sudah keluar kembali ke titik tempat piknik membuka bungkusan nasi untuk makan. Selesai makan, kami bersiap pulang. Semua bersiap memakai perkakas dan atribut yang telah dipakai. Terlebih Gendhis yang sudah sangat ingin ketemu dengan bapakknya, Kak Harie. Sari dan Diah sudah dipanggil agar tak tertinggal. Dan kami kembali melewati medan yang sama. Hutan belantara. Anehnya, beberapa kali aku mengintip di tepi-tepian sungai aku tak melihat Kak Harie. Dimana dia? Apakah dimakan buaya?

Zian dan Pacarnya

Zian dan Pacarnya

Seketika Gendhis pun tampak khawatir. Dimana Bapak? Kok Gak Ada? Tanyanya. Kami menelusuri semak-semak belukar di balik pagar. Tapi tetap saja tidak ada. Sejumlah pagar besi yang robek kami lihati dan pandangi. Tidak ada seorang pun yang bertengger di tepian layaknya orang yang sedang memancing. Kami semakin cemas dan bingung, dimana Kak Harie sebenarnya berada? (bersambung)

???????????????????????????????

Anak-anak penduduku setempat yang berenang menggunakan pelampung dari kantong plastik transparan

Anak-anak penduduku setempat yang berenang menggunakan pelampung dari kantong plastik transparan

Kantor Pembakal/Kepala Desa

Kantor Pembakal/Kepala Desa

???????????????????????????????

Ocha

Ocha

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Lutfie

Lutfie

???????????????????????????????

Diah

Diah

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Sisy

Sisy

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Spiderman or Cicakman?

Spiderman or Cicakman?

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Saat Penulis Numpang Narsis

Saat Penulis Numpang Narsis

???????????????????????????????

Dillah seolah-olah sedang menikmati pemandangan

Dillah seolah-olah sedang menikmati pemandangan

???????????????????????????????

Terserah Anda Bagaimana Menjelaskannya

Terserah Anda Bagaimana Menjelaskannya

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Syaukani Saat Beraksi

Syaukani Saat Beraksi

???????????????????????????????

Ruang Turbin Generator/Dynamo

Ruang Turbin Generator/Dynamo

???????????????????????????????

55 Cm

55 Cm

?????????????????????????????????????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ???????????????????????????????

???????????????????????????????

Kena Puting Beliung, GOR Rata Dengan Tanah. 1 Tewas, 8 Orang Luka-luka

Pohon Tumbang, Macet Panjang

Sebuah gedung olahraga bulu tangkis Palm yang terletak di Jl Kartarejo, RT 5, Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Banjarbaru Selatan ambruk rata dengan tanah setelah ditimpa angin puting beliung saat terjadi hujan deras, Sabtu, (13/10) kemarin petang. Peristiwa yang berlangsung sangat cepat tersebut terjadi sekitar pukul 17.15 Wita mengakibatkan 1 orang tewas tertimpa material bangunan, 3 orang luka berat dibawa ke RSUD Banjarbaru, dan 5 orang luka ringan.

Sugeng (32) salah seorang saksi mata yang ditemui di TKP mengungkapkan, awalnya memang turun hujan yang sangat lebat. “Angin ribut itu kedengaran sekali dari rumah saya di seberang gedung ini. Tiba-tiba langsung bunyi rumah roboh, ternyata gedung ini ambruk dan menenggelamkan beberapa orang yang berada di dalamnya terjepit. Saya sempat ikut mengevakuasi korban bersama pak polisi,” ujarnya ketika diwawancarai penulis hirangputihhabang.wordpress.com di lokasi kejadian.

Peristiwa tersebut begitu menarik perhatian warga yang berbondong-bondong datang bersama keluarga ke lokasi kejadian. Menurut saksi lainnya, sebagian dari mereka memang saat peristiwa tersebut berada di dalam gedung. Masyarakat sekitar gedung pun panik setelah mengetahui kabar bahwa dalam gedung tersebut ada 8 orang yang luka-luka dan meninggal dunia.

Satu orang yang meninggal adalah AM Aqlah (45) warga Jl Rahayu, Banjarbaru yang berstatus sebagai dosen di Fakultas Kehutanan Unlam Banjarbaru. Korban akibat luka di leher, pipi sebelah kiri, dan darah yang bersimbah di kepala akibat tertimpa beton. Sejumlah Tim SAR segera menolong dengan memotong sebagian besi-besi yang menjepit korban untuk segera dievakuasi.

Sementara 8 korban lainnya mengalami luka ringan. Tiga di antaranya ruka berat dan di rawat di UGD RSUD Banjarbaru, Sedangkan 5 orang luka ringan diperbolehkan pihak rumah sakit pulang ke rumah. Di antara nama korban yang lainnya adalah Welly Rianto PNS Dishut Kabupaten Banjar, AIPTU Agus Aprianto Anggota Polresta Banjarbaru, Iriansyah (PNS), Haris hutomo (PNS), Mahrus Ariadi, Dadan, Manto Sudarsono, dan M Abdul Qiram. Menurut saksi lainya, masih ada 3 orang lain yang belum jelas diketahui identitas. 2 orang di antaranya anak kecil dan seorang ibu penjaga kantin.

Di waktu yang sama di lain tempat, Jl A Yani dari KM 33 Loktabat Utara sampai km 26 Landasan Ulin menjadi macet panjang kendaraan bermotor. Lantaran satu buah pohon besar tumbang lantaran diterpa angin puting beliung saat hujan lebat turun. Beberapa alur lalu lintas terpaksa dialihkan meski kemacetan panjang padat merayap berlangsung cukup lama. Arus lalu lintas kembali lancar setelah sejumlah warga disekitar menggergaji dan mengevakuasi kayu tersebut.

 

Bijak Sikapi Isu, Partai Golkar DPD Kota Banjarbaru Gelar Orientasi Fungsionaris

Kepengurusan DPD Partai Golkar Kota Banjarbaru menggelar acara yang bertajuk Orientasi Fungsionaris Partai Golkar Tingkat Kota Banjarbaru Tahun 2012, Sabtu, (13/10) di Balroom Permata In Hotel, Jl A Yani Km 34 No 1, Loktabat Kota Banjarbaru.

Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Kalsel HA Sulaiman HB dalam sambutannya yang dibacakan Wakil Ketua Bidang Pemenangan Partai Golkar Wilayah II (Kota Banjarbaru/Kabupaten Banjar) Prov Kalsel HAR Iwansyah menuturkan, tahun 2013 ini sebagai tahun karya kekaryaan dan pada tahun 2014 mendatang sebagai tahun pemenangan pemilu legislative dan pemilu presiden dan wakil presiden. “Maka dari itu kita telah menetapkan bahwa Partai Golkar menganut prinsip kampanye berkelanjutan, tiada hari tanpa kampanye. Oleh sebab itu pula agenda Konsolidasi Organisasi, Kaderisasi, dan Gerakan Kekaryaan harus dipahami oleh seluruh kader partai sebagai bagian dari kampanye dalam rangka pemenangan Partai Golkar,” ungkapnya.

Ia mengharapkan fungsionaris partai Golkar sebagai kader inti partai diharapkan mampu berperan pada garda terdepan untuk memaksimalkan pencapaian-pencapaian yang terangkum dalam catur sukses. “Target kita sebagai partai politik adalah memenangkan semua pemilu itu. Namun, perlu diingat kemenangan yang diinginkan bukan kemenangan yang membuat partai politik lain merasa kalah. Partai Golkar ingin menang bersama dan untuk seluruh rakyat Indonesia. Khususnya ingin terus membangun dan berkarya bersama masyarakat Kalsel,” katanya

Kegiatan itu juga dihadiri Fungsionaris Pusat di antaranya, H Fakhruddin, Ir Gt Rina Arhadi, dan H Iriansyah Ganie yang menyampaikan sejumlah materi yaitu Kebijakan DPP Partai Golkar Bidang Kaderisasi dan Keanggotaan, Kebijakan Strategi dan Kebijakan Politik Fraksi, Strategi Pemenangan Pemilu, Gerakan Karya Kekaryaan DPP Partai Golkar, dan Isu-isu Strategis dan Sikap Fraksi Partai Golkar yang langsung disampaikan Ketua DPD Partai Golkar Kota Banjarbaru Drs Arie Sophian.

Ketua DPD Partai Golkar Kota Banjarbaru Drs Arie Sophian ketika diwawancarai penulis hirangputihhabang.wordpress.com menyampaikan, acara tersebut bisa juga disebut sebagai Orientasi fungsionaris, pembekalan bagi pengurus kader, serta pembekalan seluruh kader partai dalam rangka menghadapi pemilu 2014. “Ini merupakan forum orientasi sekaligus wadah diskusi kita. Jadi tak hanya memberi materi tetapi juga sharing. Adi input dari kader yang berhadir. Apa yang harus dilakukan dalam membangun atau mrealisasikan kesejahteraan di masyarakat. Jadi kita juga meminta asuklan dari mereka,” pungkasnya.