Catatan Perjalanan, Palangkaraya-Banjarmasin (5/5)

Mungkin belum terlalu malam di Palangkaraya, jika waktu di arloji saya menunjukkan pukul 21.15, suasana Palangkaraya masih jam 8 malam. Bungker, Obol dan Haji Udin menyempatkan “menyucuk” pentol yang sudah tersandar lama di tempatnya. Kecuali saya yang masih memeriksa notifikasi dan mencheck keadaan memori. Faktanya adalah, SD Card yang saya gunakan sudah tinggal lagi puluhan MB saja dari 16 GB.

Sekitar 20 menit kami duduk dan berdiskusi, terbitlah maklumat rute perjalanan yang dimulai dari mengisi premium di SPBU, (karena antrian panjang kami mengisi pertamax), lanjut membeli beberapa kebutuhan akan cemilan di retel 24 jam, lanjut memberi jatah cacing perut yang mulai menggeliat.

Adalah metropolitan bergelar Kota Cantik ini, memang cantik, terlebih malam hari. Setelah mengelilingi bundaran besar, melewati jalan raya utama yang di samping jalannya tertata taman-taman kota untuk masyrakat yang bersantai, tak sedikit pula jajanan dan tempat bermain juga tongkrongan anak muda di sekitar UNPAR.

Kami berhenti di seberangnya, sekedar makan malam yang ternyata lumayan memangkas penghitungan keuangan. Sebenarnya malam belum terlalu larut, mungkin karena fisik yang sudah terlampau lelah, kami secepatnya mencari teduhan menghindari kalau-kalau hujan tanpa permisi, dan kami belum mendapati tempat tidur sama sekali.

Akhirnya diskusi alot berakhir, dari banyaknya usulan kami sepakati bersama untuk tidur di masjid. Beberapa masjid besar kami lewati namun tak bisa masuk karena pagar besar yang terkunci, beberapa lagi memang tidak diperbolehkan ada orang asing yang menginap, sebagian lagi karena memang sudah sangat tertutup, sebagian lagi jauh dari keramaian kota.

Dan sah sudah, kami putuskan untuk menginap di Masjid Shalahuddin, Universitas Palangkaraya. Karena terlalu gelap untuk foto selfie, sebagai tanda kepada pemantau/follower saya di IG, maka saya fotolah tangan saya dengan arloji yang sudah akrab di mata kawan-kawan dengan background plang masjidnya. Check Point 6.

Screenshot_2016-07-21-22-07-22_com.instagram.android

Kami berempat mulai observasi lingkungan. Tampaknya ada beberapa musafir juga yang tidur di pelataran masjid. Ketika mereka bertiga mendatangi merbot/kaum Masjid untuk pemberitahuan sekaligus perizinan, ada seorang yang musafir yang mendatangi saya untuk menanyakan 5W1H. Saya jawab sebagaimana adanya dan dia mulai menjauh untuk kembali ke tempat peristirahatannya.

Masjid Pancasila yang diresmikan Soeharto ini cukup nyaman, dengan desain arsitektur Standart Nasional Indonesia, kami mulai meghamparkan segala isi ransel. Yang perlunya saja. Akhirnya kami berempat tidur di outdoor, yang mana ketika membuka mata langsung melihat langit. Tak sia-sia juga saya bawa Sleeping Bag (SB) untuk difungsikan di malam ini. Usai melakukan semua keperluan manusiawi, kami beranjak tidur.

Mungkin sekitar pukul 03.00, saya terbangun karena kegerahan. Ketika membuka mata, hujan begitu derasnya. Usai melepaskan T-Shirt dan langsung dibungkus kantung tidur, saya lanjutkan pelayaran dalam mimpit. Sempat kutengok teman-teman yang tidur dengan gayanya masing-masing. Gaya Udang, Gaya Sakit Kepala, dan juga Gaya Kupu-Kupu.

Adzan subuh berkumandang, berani tak bangun bisa-bisa kami ditendang. Usai shalat berjamaah, Haji Udin menyalakan kompor lapangan untuk sekadar memanaskan perut dengan air. Sembari banyak obrolan yang terjadi, kami sempatkan selfie.

IMG_20160713_064204-01

kiri ke kanan: Haji Udin, Bungker, Obol, dan Saya tentunya

Strategi diatur, kami menyiapkan diri melanjutkan perjalanan. Sayang cuaca pagi ini, Rabu, (13/7), tidaklah cerah, sedikit gerimis malah. Melihat kondisi micro SD yang sudah tidak memadai, padahal Obol meyakinkan masih banyak tempat asik untuk berfoto, maka saya putuskan untuk menggantinya ke Micro SD Back Up 8GB. Inilah saat yang tidak saya sangka, terakhir untuk melihatnya berfungsi di layar IPS. (Flashback ke catatan perjalanan yang pertama. Saya sadar kehilangan 16GB semua file di dalamnya ketika sudah sampai di Banjarmasin).

Kami sempatkan mengunjungi tugu 0 km yang dibangun Sang Proklamator. Dilanjutkan menikmati matahari pagi yang malu-malu di dermaga pemandangan Jembatan Kahayan. Ketika ini Obol juga menyempatkan mendatangkan sepupu perempuannya untuk nimbrung seadanya. Setelah dirasa cukup, perjalanan dilanjutkan dengan silaturahmi ke beberapa keluarga Obol, dan berhenti lama di rumah sepupunya, atau acilnya, yang mana adik dari ibunya, yang tinggal di Palangkaraya. Begitu adanya.

Screenshot_2016-07-21-22-07-34_com.instagram.android

Check Point 7. Tempat peristrahatan yang cukup lama, jarum pendek jam dinding baru saja melewati dari angka 8 sedikit saja. Setelah bersopan santun layaknya tamu hari raya, kami dipersilakan menikmati hidangan yang sudah tersedia.

IMG_20160713_080823-01

Di rasa waktu masih cukup lumayan, dan menghindari keterburu-buruan saat pulang, maka saya putuskan untuk membuka laptop dan mulai mengetik di rumah ini. Sembari memanfaatkan jaringan yang masih kuat di wilayah perkotaan.

Singkatnya, kami disuguhi bakso special di sini, asli buatan rumah, makan sepuasnya, tambah pentol semaunya, tuang kuah kapan pun mau. Puas sepuas-puasnya. Terasa nikmat sekali, menulis berita pun semakin lancar, sampai jarum pendek jam dinding hampir menempel di angka 11.

Screenshot_2016-07-21-22-07-54_com.instagram.android

Sementara itu, saya tengok Bungker dan Haji Udin yang terlelap lagi. Obol yang asik dengam hapenya. Dan saya menatap layar sembari mulut tak hentinya ngemil.

Laptop shutdown, Bungker dan Haji Udin bangun, kami berempat berkemas. Hampir saja kami makan siang lagi dengan menu berbeda khas rumahan, diminta untuk bertahan karena sebentar lagi siang, tapi nurani saya rasanya sudah terlalu merepotkan, cukup sekali waktu makan saja. Dan ketika sudah siap, hujan pun turun.

IMG_20160713_081136-01

Tugu 0 Km yang berseberangan dengan Kantor DPRD Provinsi Kalimantan Tengah Kota Palangkaraya

Untuk menghindari kerepotan tuan rumah, kami menunggu teduh di beranda saja. Sudah pakai sepatu dan membungkus ransel seerat mungkin. Bungker dan Haji Udin tertidur kembali. Bukan, tapi sengaja melanjutkan tidur yang sebelumnya. Belum cukup, Boi?

IMG_20160713_083902-01

Jembatan Kahayan

Hujan reda. Kami berpamitan, melanjutkan perjalanan menuju Kota Banjarmasin. Saya kira tidak terlalu istimewa perjalnan ini. Namun akan saya beberkan beberapa. Kutatap arloji masih lewati tengah hari sedikit. Perjalanan damai lancar dengan cuaca cerah. Melewati beberapa Kampung yang banyak pura. Melalui beberapa SPBU, dan berakhir di Pelabuhan untuk penyebrangan motor, Kapuas, Kota Air.

Kami menggunakan jalur, yang katanya, bisa menghemat jarak perjalanan sampai 10 Km jauhnya jika melalui darat. Dan ini pertama kali. Kami sempatkan untuk makan siang nasi sop di samping pelabuhan sembari menunggu bongkar muat. Check Point 8. Semangat mengabadikan moment saya berakhir di sini, ketika di atas kapal motor dan menikmati hembusan angin sungai yang membelah daratan Kalsel-Kalteng.

Screenshot_2016-07-21-22-08-13_com.instagram.android

Saya rasa perjalnan menuju Banjarmasin cukup singkat, atau karena kami memang sudah terlalu banyak melalui ratusan kilometer jadi terasa dekat saja. Usai melewati perbatasan Kalsel-Kalteng, mendapati Jembatan Barito, yang menandakan kami sudah di sekitaran Wilayah Kota Banjarmasin, mengakhiri Jalan Trans Kalimantan, memasuki Jalan Birg Jend Hasan Basri. Selamat Datang di Kota Seribu Sungai.

Screenshot_2016-07-27-22-35-37_com.instagram.android

Tidak ada persinggahan lagi selain di rumah nenek, ibu dari bapak saya wilayah Jl Pangeran Antasari. Kamin berisitrahat sore. Check Point 8. Sekadar bercengkrama dan menikmati lelah yang menyenangkan. Sebagaimana kesepakatan yang kami rahasiakan sebelumnya, dengan dana konsumsi yang masih tersisa, dengan pembalasan khas orang desa ketika sampai di kota, kami sedikit menyegarkan otak agar bersemangat kembali ke Martapura. Menghabiskan waktu di Kota Banjarmasin dari sore sampai tengah malam. Pulang dan istirahat sampai pagi di rumah.

Kamis, (14/7). Matahari terik menghangatkan kami. Cuaca cerah. Semua bersiap. Setelah sarapan ala kadarnya khas anak kos-kosan, kami berpamitan dan kembali ke Kota Intan. Pukul 14.00 kami sudah mendaratkan kaki di Martapura. Finish Point. Mengecheck SD Card 16GB yang memang sudah tidak terbaca sejak di Banjarmasin. Saya terus melakukan upaya penyelamatan, namun hasilnya nihil. Yang terselamatkan hanyalah foto-foto yang sempat saya posting di Instagram pribadi @anandarumi2 sebelum sampai Kota Palangkaraya.

IMG_20160713_185839-01

Menghabiskan Malam di Kota Banjarmasin

Alhasil, perjalanan ini membuahkan kerinduan kami dengan orang-orang yang tertinggalkan, baik itu keluarga, sahabat, lingkungan pergaulan, dan tentunya suasana kerja yang membosankan. Entahlah, apakah kami akan kembali melanjutkan perjalanan yang sama di seputaran pulau Kalimantan lainnya, mungkin ke Balikpapan? Derawan? Brunei Darussalam, atau Pontianak? Siapa tahu. []

Catatan Yang Tercecer di Haul Abah Guru Sekumpul ke-11

Catatan Yang Tercecer di Haul Abah Guru Sekumpul ke-11

Foto Muhammad Nizar Khalifatullah Mukminin

Foto diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya Muhammad Nizar Kalifatullah Mukminin

Pada akhirnya, kita dipanjangkan umur kembali untuk terus belajar dan memahami makna kehidupan di tiap kali hembusan napas. Tak sekadar bekerja untuk mencari uang, terkadang bekerja untuk mendapatkan berkah termasuk bagian dari pembelajaran. Apa yang didapatkan dari sebuah pengabdian kepada seorang guru yang sosoknya “Bukan Guru Biasa”.

Alhamdulillah, saya mensyukuri diberi kepribadian sebagaimana adanya sekarang ini. Belajar kala beliau masih hidup di tahun 2002, melawat dan mengatar di hari wafat tahun 2005. Diberikan umur, kekuatan, dan keinginan kuat untuk terus terhubung (tidak menginggalkan jauh Kota Martapura) dan hadir di setiap peringatan haul pertama sampai ke-11. Segala puji bagi Allah, kita manusia diberikan kebebasan memilih oleh Sang Maha Pemilik semesta alam , mau jadi apa kita di dunia, dan apa yang kita pertanggungjawabkan di hadapan nantinya.

Dear pembaca, pernahkah terpikirkan bahwa Tuhan tak memaksa kita untuk mentaati segala perintahnya. Adakah anda terpikir bahwa sebagai manusia kita tak serta merta mendapatkan siksa ketika salah atau langsung dimatikannya dalam kehidupan saat berbuat dosa? Jika hal tersebut terjadi, niscaya tidak ada lagi manusia yang hidup di bumi ini.

Sebagai intermezzo tulisan, mungkin itu satu dari sekian sebab mengapa saya memilih untuk menjadi “Pelayan” dalam konteks panitia di Haul Guru Sekumpul ke-11  tahun 2016 ini. Pasca menulis Catatan haul ke-8, tulisan tersebut terputus karena kesibukan dan tugas saya sebagai Jurnalis semakin menumpuk menimpa segala waktu pribadi yang semestinya mampu saya bagi  mengelola blog yang kurang lebih 3 tahun terbengkalai.

Tahun ini, saya tidak membagikan foto jepretan saya pribadi ketika berjubel di tengah para jamaah. Di catatan kali ini juga, saya tidak mengulang betapa beratnya menjadi seorang fotografer jurnalis pada haul Abah Guru yang mengharus mendapat foto bagus untuk tampil di halaman terdepan. Saya akan berbagi, betapa barokahnya lingkungan di sekitar Haul saat perayaan berlangsung.

12986968_10201690935670745_4669914976919452149_n2

Foto drone diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya M Iriwin Nurhasnan.

Sedari pagi Minggu, (10/4), saya memilih untuk tidak mendapatkan kesempatan memotret ke Sekumpul, cukup di luar saja. Menjadi jamaah, alhasil saya  satu dari sekian banyak panitia petugas yang melayani para jamaah luar daerah baik dari pelayanan parkir atau pun pembagian konsumsi. Posko 45 STAI menjadi titik saya dan sepuluh teman-teman lainnya melayani para jamaah yang berdatangan. Dear pembaca, tidak ada iming-iming rupiah, hanya kenyamanan hati dan keinginan pribadi untuk mengabdi dan melayani sebuah keberkahan yang saya kira, wilayah lain pun seolah iri dengan Martapura.

Saya terharu ketika menerima sejumlah Broadcast BBM yang menyatakan setiap pribadi bersedia rumahnya masing-masing  dijadikan tempat penginapan para jamaah yang berdatangan, 500 ribu jamaah yang berhadir dari sejumlah daerah ke Sekumpul, mengorbankan segala bentuk harta waktu dan aktifitas mereka untuk datang. Dear pembaca, tidak ada feedback rupiah atas apa yang sudah mereka korbankan. Bahkan kabar yang tersiar, ada perumahan di sekumpul yang sampai disewa pendatang satu pekan sejak H-7 untuk mengumpulkan keluarga mereka di momentum haul dan beribadah di wilayah Ar-Raudhah.

Sebagai masyarakat awam, dalam artian saya tidak bermukim di Martapura, namun sempat mondok dan mendapat link untuk menjadi panitia di haul, saya merasa sangat berbeda. Gedung-gedung dikosongkan untuk para jemaah bermalam, termasuk kampus STAI Darussalam, kasur-kasur disediakan untuk mereka. Ada yang dari Amuntai, Kandangan, Sampit, Barabai, Tapin, dan daerah Hulu Sungai lainnya. Tentu saja untuk daerah lain seperti Palangkaraya, Samarinda, Jakarta, Bali, bahkan Lombok pun datang dan menempati kantong-kantong penginapan yang telah tersebar di beberapa wilayah Martapura. Saya membaca  headline koran lokal, terlepas penginapan gratis, penginapan berbayar berkelas losmen sampai hotel berbintang di wilayah kisaran Martapura dan Banjarbaru pun tercatat hasil transaksi 6 miliar rupiah. Ada lonjakan transaksi ekonomi yang luar biasa dalam satu hari itu. Bukankan ini satu dari berkah.

Kemacetan serta hiruk-pikuk Sekumpul adalah hal lumrah, wajib, dan sudah “dihakuni” para jamaah yang datang dari penjuru daerah. Posko Induk Sekumpul adalah panitia paling sabar menerima segala bentuk keluhan dan masalah yang terjadi kala pengaturan lalu lintas pra haul sebelum Magrib, dan pasca amalam sesudah Isya berjamaah. “Ramai lancar”, “padat merayap”, sampai “macet total” Jalan Ahmad Yani kode-kode HT yang tersiar. Semua adalah warna-warni haul, dalam konteks ramai lebih ramai daripada perayaan Hari Raya Idul Fitri di tempat yang sama.

Bendera-bendera berwarna-warni sebagai tanda adanya perayaan akbar tertancap di sudut-sudut kelurahan Kota Martapura. Saya melihat kelapangan para anak-murid Abah Guru yang rela mengeluarkan semua yang bisa diberikan kepada para jamaah pendatang, tempat, rumah, makanan, harta, benda, sembako, air minum, semua. Pembagian air gratis, penginapan grats, gratis makan, paman pentol yang mengratiskan dagangan, paman bakso yang menggratiskan, kopi, diskon besar-besaran produk keislaman, seakan semua manusia di sana sedang dihanyutkan dalam kecintaan abadi yang tak pernah mati. Sebab apa-apa yang sudah diberikan Anak Murid para jamaah belum ada apa-apanya dibandingkan apa-apa yang sudah diberikan Abah Guru Sekumpul kepada jamaah. Tak akan pernah terbalaskan. Seakan semua ingin turut terhanyut dalam kecintaan, kerinduan, dan mengkorbankan apa yang yang ada untuk menyamankan para jamaah dari seantero dunia. Dunia? Realy?

Sayyid Prof Fadhil Al Jailani, seorang cicit keturunan Syech Abdul Qadir Jailani dari garis keturunan Sayyid Abdurrozaq Ra dari Turki turut serta dalam pelaksanaan haul, belum lagi para ulama-ulama dan habaib-habaib hadramaut, jamaah dari negri jiran Malaysia.Tentu saja dua permata Sekumpul Muhammad Amin Badaly dan Ahmad Hafy Badali masih menjadi magnet tersendiri  para jamaah yang menyaksikannya langsung di dalam Musholla Ar-Raudhah atau pun tv-tv kabel se-Martapura. Banyak juga yang menyediakan LCD-LCD di tanah lapang luas bahkan Gedung Kuliah sebagai layar raksasa. Seperti di Posko 45 STAI.

Kantong-kantong parkir sedini mungkin disediakan para panitia agar tumpukan para jamaah bisa dikondisikan baik saat penyambutan mau pun ketika pulang dari Sekumpul. Saya bersama-sama kawan baru bisa merasakan arus ramai lancar lalu lintas pukul 01.00 dini hari Senin, (11/4).

12986968_10201690935670745_4669914976919452149_n.jpg

Foto drone diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya M Iriwin Nurhasnan.

Aku bersyukur atas pilihan yang telah diberikan. Ada rasa yang tak selalu sama di setiap tahunnya. Pun seandainya aku memilih untuk terus menulis kisah ini sedetail kehadiran ulama-ulama dalam Ar-Raudhan sekumpul, amalan Ratibul Hadad, Nasyid Zikir sampai Isya berjamaahnya, serta dialog-dialog yang kami lakukan saat mengatur para jamaah, mungkin tak akan cukup untuk sekali posting. Hari mulai hujan, ada catatan tercecer lainnya yang harus kurampungkan. Sudah kubilang, ini hanyalah catatan tercecer saja. Semoga kita, para pembaca, juga penulis dipanjangkan umur dalam berkat, dan merasakan dari sudut pandang berbeda lainnya pada Haul Abah Guru Sekumpul ke-12 mendatang. Shollu Alannabiy. Dan sebagai penutup, saya mengutip status RU dari sahabat saya M Zainal Ilmi a.k.a Elmonk di akun BBM nya:

“Inilah Martapura dengan Berjuta Cinta”

 

Materi Caving

Tentang Caving

Disusun Oleh: Ananda Perdana Anwar

 

Susur gua atau jelajah gua (Inggris caving) adalah olah raga rekreasi menjelajahi gua. Tantangan dari olah raga ini tergantung dari gua yang dikunjungi, tapi seringkali termasuk negosiasi lubang, kelebaran, dan air. Pemanjatan atau perangkakan sering dilakukan dan tali juga diguanakan di banyak tempat.

Caving kadangkala dilakukan hanya untuk kenikmatan melakukan aktivitas tersebut atau untuk latihan fisik, tetap awal penjelajahan, atau ilmu fisik dan biologi juga memegang peranan penting. Sistem gua yang belum dijelajahi terdiri dari beberapa daerah di bumi dan banyak usaha dilakukan untuk mencari dan menjelajahi mereka. Di wilayah yang telah dijelajahi (seperti banyak negara dunia pertama), kebanyakan gua telah dijelajahi, dan menemukan gua baru seringkali memerlukan penggalian gua atau penyelaman gua.

Gua telah dijelajahi karena kebutuhan manusia untuk beberapa ribu tahun, namun hanya dalam beberapa abad terakhir aktivitas ini menjadi sebuah olah raga. Dalam dekade terakhir caving telah berubah karena adanya peralatan dan baju perlindungan modern.

Banyak keahlian dalam caving dapat digunakan di olahraga lain seperti penjelajahan tambang dan penjelajah perkotaan. Yakni SRT: single rope tachnic.

  1. 1 Gaya-gaya yang dipakai dalam SRT meliputi:
  2. Froglit Style: Style yang biasa dipakai oleh caver unakan satu tali. dengan satu kaki sebagai tumpuhannya serta satu kaki satunnya lagi menginjak footloop.
  3. Texas Style: Style yang dipakai dengan dua buah tali dengan bantuan alat pulley.
  4. Bisel : tehnik ini jarang dipakai oleh caver.

 

Satu set srt terdiri dari :

-2 Buah langkahbiner snap.

-3 Buah langkahbiner scru.

-1buah mr (million rapid).

-1buah autostop atau descender.

-2 Buah autostop simple.

-1buah jumar.

-1buah croll.

-2 Buah cowstell (terdiri dari cowstell pendek serta cowstell panjang).

 

  1. 2 Langkah-cara menempatkan alat-alat SRT:
  2. pakai harness terlebih dulu, upayakan catatan danger tertuput.
  3. masukan mr ( million rappid ).
  4. masukan croll upayakan croll dibagian yang sangat kanan.
  5. masukan costill serta upayakan cowstel terdapat dibagian yang sangat kiri.
  6. masukan 2 buah langkahbiner snap serta lagi scru.
  7. masukan otostop di langkahbiner scru serta upayakan letak otostop di dalam.
  8. pasang chess harness pada croll.
  9. pasang jumar pada cowstell yang panjang.
  10. pasang karabiner scru pada jumar yang dipakai untuk footlup.

 

Untuk jadi seorang caver mesti menguasai tekhnik-teckhik basic serta pengetahuan perihal caving itu sendiri, salah satunya yaitu :

Rigging: rigging yaitu langkah pemasangan dalam gua bergantung dengan ornamen serta type gua yang dapat di masuki.

SRT: srt yaitu langkah atau tehknik yang dipakai untuk menaiki statu gua dengan langkah spesifik di dalam srt itu sendiri juga ada beberaa langkah agar orang yang dapat menaiki senantiasa aman perumpamaan inter mediet, debĂ­ais, serta halangan.

Mapping: mapping yaitu pemetaan, di mana pemetaan ini yaitu statu langkah untuk tahu apa saja yang ada pada gua serta berapakah kedalaman gua dan tahu vegetasi apa saja yang ada pad agua tersebut.

Holling : holing yaitu statu langkah etahui type lubang yang ada pada ornamen gua tersebut dengan mengaplikasikan langkah apakah yang dapat digunakan.

  1. 3 Cara-Cara Pembuatan Angcor

Di dalam caving ada langkah atau cara-cara pembuatan angcor, angkor itu sendiri ada 3 angchor emas, perunggu, perak. ( standar angkor yang biasa dipakai 3 buah angckor ).

Langkah pemasangan angckor:

  1. menggunakan simpul playboy
  2. kemiringan verikal diusahakan 90-1300, namun standarnya 1100.
  3. back up belakang minimal ½ mtr..

Di dalam intermediat umumnya menggunakan simpul ½ delapan. di dalam srt pengaman minimal mesti ii buah pengaman. perumpamaan pengaman.

  1. cowstell pendek diletakan pada hanger.
  2. jumar mesti senantiasa menenpel jika croll dapat dilepaskan.
  3. autostop mesti terkunci jika jumar dapat dilepaskan.

 

Langkah mengunci autostop :

  1. jempol memegang tali karamentel statis dengan bentuk huruf c.
  2. lantas masukan tali karmentel sesuai dengan panduan yang ada pada autostop tersebut.
  3. masukan karamentel ke karabinel snap.
  4. lantas lingkarkan karamentel hingga terkunci tuasnya,
  5. masukan karamentel ke dua buah karabiner serta lantas lingkarakan kembali sehinga mengunci pada tuas kunciannya.

 

 

  1. 1 Deviasi

Didalam caving ada juga sebutan yang diberi nama dengan deviasi, deviasi itu sendiri yaitu satu langkah untuk meringankan caver agar tidak berlangsung benturan segera dengan tebing pada gua. langkah lakukan deviasi:

  1. pasang cowstil pendek pada ronga tali pada deviasi.
  2. copot langkahbiner debĂ­ais serta lantas pindahkan langkahbiner debĂ­ais pada tali karmentel di bawah croll.
  3. pasang jumar di bagian atas croll.
  4. lantas terlepas cowsil.

Yang menjadi tidak kalah penting dalam hal ini:

“janganlah dulu senang jadi orang yang terlatih, jadilah orang yang senantiasa berlatih”.

 

  1. 2 Pengertian dan Sejarah Penelusuran Gua ‘Caving’

Pengertian dan Sejarah Penelusuran Gua ‘Caving’ yakni Caving berasal dari kata Cave= Gua. Sedangkan orang yang menelusuri gua disebut caver. Jadi caving bisa diartikan sebagai kegiatan penelusuran gua yang mana merupakan salan satu bentuk kegiatan dari Speleologi. Sedangkan Speleologi secara morfologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu : Spalion = Gua dan Logos = ilmu. Jadi, secara harfiah Speleologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang gua, tetapi karena perkembangan speleologi itu sendiri, spleologi juga mempelajari tentang lingkungan disekitar gua.

Ada Beberapa Pengertian Penelusuran Gua “Caving’ menurut para ahli Penemu mamupun para Caver, yakni :

Menurut IUS (International Union of Speleology) anggota komisi X UNESCO PBB : “Gua adalah setiap ruang bawah tanah yang dapat dimasuki orang”.

Menurut R.K.T.ko (Speleologiawan) : “Setiap ruang bawah tanah baik terang maupun gelap, luas maupun sempit, yang terbentuk melalui system percelahan, rekahan atau aliran sungai yang membentuk suatu lintasan aliran sungai dibawah tanah.”

Adapun Sejarah Penelusuran Gua ‘Caving’, yang dimulai dari tahun ke tahun, yakni :

Penelusuran Gua dimulai oleh John Beaumont, ahli bedah dari Somerset, England (1674) ia seorang ahli tambang dan geologi amatir.

Orang yang paling berjasa mendeskripsikan gua-gua antara tahun 1670-1680 adalah Baron Johann Valsavor dari Slovenia. Ia mengunjungi 70 goa, membuat peta, sketsa dan melahirkan buku setebal 2800 halaman.

Joseph Nagel, pada tahun 1747 berhasil memetakan system perguaan di kerajaan Astro-Hongaria.

Stephen Bishop, pemandu wisata gua yang paling berjasa dan membawa gua Mammoth diterima UNICEF sebagai warisan dunia.

  1. 3 Etika, Moral dan Kewajiban Penelusuran Goa

Etika, Moral dan Kewajiban Penelusuran Goa tentunya hal yang sangt penting diketahui terlebihi dahulu oleh para Penelusur Goa. Mengapa hal tersebut dianjurkan dan sangat diutamakan, disebabkan banyaknya hal-hal yang belum diketahui dalam Kegiatan Caving ini. Apalagi bagi para penelusur Goa yang baru mengenal situasi saat Caving.

Ada beberpa hal yang perlu ditinjau dan diperhatikan dalam Etika, Moral dan Kewajiban Penelusuran Goa sebelum melakukan Caving, Ddisetiapa kegiatan Penelusuran Goa, dimanapun, Kapanpun dan siapapun itu, Yakni :

Kode etik penelusur goa  dibuat karena goa merupakan lingkungan yang sangat sensitif dan mudah tercemar. Kode etik ini antara lain :

TAKE NOTHING BUT PICTURE (Jangan Mengambil Apapun Kecuali Gambar)

LEAVE NOTHING BUT FOOTPRINT (Jangan Meninggalkan Sesuatu Kecuali Jejak)

KILL NOTHING BUT TIME (Jangan Membunuh/Memotong Sesuatu Kecuali Waktu)

CAVE SOFTLY

Setiap penelusur gua sadar bahwa setiap bentukan alam di dalam goa dibentuk dalam kurun waktu ribuan tahun.

Setiap menelusuri gua dan menelitinya dilakukan oleh penelusur gua dengan penuh respek tanpa mengganggu dan mengusir kehidupan biota di dalam gua.

Setiap penelusur menyadari bahwa kegiatan speleologi dari segi olah raga maupun ilmiah bukan merupakan usaha yang perlu dipertontonkan dan tidak butuh penonton.

Para penelusur tidak memandang rendah diantara sesama penelusur, begitu juga sebaliknya penelusur akan dianggap melanggar etika apabila memaksakan kehendaknya padahal persiapan kurang.

Respek terhadap sesama penelusur gua ditunjukkan dengan cara

Tidak menggunakan bahan / peralatan, yang ditinggalkan rombongan lain, tanpa izin mereka.

Tidak membahayakan lainnya, seperti melempar suatu benda ke dalam goa bila ada orang di dalam gua.

Tidak menghasut penduduk untuk menghalangi rombongan penelusur

Jangan melakukan penelitian yang sama, apabila diketahui ada rombongan lain melakukan penelitian yang sama tapi belum dipublikasikan.

Jangan menganggap anda penemu sesuatu apabila anda belum melakukan mencari informasi.

Setiap usaha penelusuran merupakan usaha bersama. (jangan menonjolkan kemampuan pribadi dan ingat bahwa penelusur adalah tim)

Jangan menjelekkan nama sesama penelusur.

  1. 1 Kewajiban penelusur goa

Menjaga lingkungan baik kebersihan, kelestariannya, dan kemurniannya menjadi hal wajib. Termasuk konservasi lingkungan gua merupakan tujuan utama penelusur goa. Maka dari itu wajib bagi para penelusur memberi pertolongan kepada penelusur lain apabila membutuhkan pertolongan sesuai dengan kemampuan. Yang terutama menjaga sopan santun dengan penduduk sekitar.

3.2 Izin Resmi

Wajib memberitahukan kondisi berbahaya pada penelusur lain tentang kondisi sekitar lingkungan goa atau di dalam goa.

Kab Tala Gelar Grand Final Nanang Galuh

Wakil Bupatin Sukamta menghadiri malam Grand Final nanag Galuh Kabupaten Tanah laut yang diikuti oleh 35 orang peserta. Dari 35 peserta tersebut terdiri dari 14 Nanang dan 21 Orang Galuh. Telah terseleksi 6 orang pasang Nanang Galuh yang menyabet gelar juara yang diadakan Sabtu malam, (24/8), kemarin.

Acara tersebut turut dihadiri Wakil Bupati H Sukamta beserta isteri Nurul Hikmah, Sekretaris Daerah Drs Abdullah MM beserta isteri Ahlia Abdullah, Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan, Pemuda dan Olah raga  Drs H Danial Kifli, MAP beserta istri dan beberapa Kepala SKPD.

Grand Final Nanag Galuh tersebut dijuri oleh sebanyak 5 yakni Drs Agus= Ahmadi dari Banjarmasin, Surya Hidayat dari Banjarmasin, Thaufikur rahman, Erni dan Maysuci Ramadhani.

Kepala Dinas Budparpora Drs H Danial Kifli MAP menuturkan, tujuan di selenggarakan pemilihan Nanang Galuh Banjar 2013 Kabupaten Tanah Laut dalam rangka memberi kesempatan pada generasi muda Tanah Laut Agar dapat berpartisipasi dalam melestarikan budaya daerah.

“Dan sekaligus mempromosikan potensi-potensi wisata khususnya di Kabupaten Tanah Laut. Untuk para finalis mendapatkan hadiah dan tropy dan untuk para pemenamg nanang dan Galuh dan runer up akan diikut sertakan pada ajang pemilihan Nanang dan Galuh Tingkat Provinsi, Kalimantan Selatan,” ungkapnya.

Wakil Bupati Tala Sukamta dalam sambutannya mengatakan, ajang pemilihan Nanag Galuh Kab Tala menjadi salah satu bentuk perhatian dalam rangka melestarikan budaya lantas melahirkan kader muda para duta wisata yang dapat meningkatkan pelayanan pariwisata di bumi Tuntung Pandang.

“Melalui ajang ini pula langkah awal membangun masa depan Tanah Laut akan semakin diperhitungkan baik itu masa depan masyarakatnya maupun masa depan generasi mudanya guna terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas. Di samping menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi juga memiliki keimanan dan ketaqwaan,” pungkasnya. (ananda)

 

 

Pemko Banjarbaru Modali PDAM Banjarbaru Rp20 Miliar

Pemerintah Kota Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan menambah dana penyertaan modal kepada Perusahaan Daerah Air Minum Intan Banjar sebesar Rp20 miliar. Penambahan penyertaan modal sebesar Rp20 miliar tersebut berbentuk setoran modal tunai.

Walikota Banjarbaru terkait perihal tersebut menjelaskan, penambahan dana penyertaan modal tersebut dalam rangka penguatan modal yang digunakan guna pengembangan sarana maupun peningkatan pelayanan kepada para pelanggan khususnya di Banjarbaru.

“Penambahan modal tunai dilakukan bertahap selama empat tahun anggaran yakni tahun 2014 dan 2015 masing-masing sebesar Rp6,5 miliar. Tahun anggaran 2016 dan 2017 penambahan modal tunai yang disetor kepada perusahaan daerah itu masing-masing sebesar Rp3,5 miliar,” ujarnya kepada sejumlah wartawan, Rabu, (21/8), kemarin.

Menurutnya, pihaknya telah sudah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang penyertaan modal kepada perusahaan daerah yang dikelola bersama dengan Pemkab Banjar kepada DPRD setempat dituangkan dalam raperda yang disampaikan ke DPRD, Senin lalu yang diharapkan raperda itu disetujui DPRD Kota Banjarbaru.

Ditambahkannya, jika raperda tersebut disetujui maka total penyertaan modal Pemkot Banjarbaru kepada PDAM Intan Banjar sebesar Rp52,6 miliar baik dalam bentuk modal dana tunai maupun modal aset.

“Aset pmerintah Kota Banjarbaru pada PDAM Intan Banjar sejak tahun 2007 hingga 2012 yang akan dicatat sebagai penambahan penyertaan modal sebesar Rp6,9 miliar. Sementara, total dana penyertaan modal hingga tahun 2013 sebesar Rp25,7 miliar berupa modal dana tunai maupun modal aset,” paparnya.

Oleh karena itu ia berkesimpulan penyertaan modal Pemko Banjarbaru sejak 2007 hingga 2013 ditambah penyertaan modal bertahap hingga tahun 2017 sebesar Rp52,6 miliar. (ananda/ant)

Ajak Masyarakat Tala Paham Lingkungan Hidup

humas_tala_seminar lingkungan hidupDalam rangka memperingati hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2013, Badan Lingkungan Hidup Kab Tala menggelar Seminar Lingkungan Hidup dengan mengusung tema “Ubah Perilaku Konsumsi Untuk Selamatkan Laingkungan” Kamis, (22/8) di Balairung Tuntung Pandang, Pelaihari, kemarin.

Bertindak sebagai narasumber yakni Kepala Badan Lingkungan Hidup kab Tanah Laut Prof Dr Ir Moehansyah Mag, Kepala PPLH Universitas Lambung Mangkurat dan Anggota BLHD DI Yogyakarta Bambang Wahyu Indriya. Kegiatan itu diikuti sejumlah siswa dari SLTP/SLTA sederajat, mahasiswa dan beberapa dari BLH se-Kalimantan Selatan.

Bupati Tanah Laut Bambang Alamsyah menuturkan, adanya kegiatan tersebut menjadi komitmen bersama dalam menjaga dan melestarikan lingkungan hidup. “Sekaligus menyelamatkan bumi kita secara keseluruhan. Sebagaimana hasil studi lingkungan hidup (KLH) tahun 2012 menunjukkan bahwa indeks perilaku peduli lingkungan (IPPL) masih berkisar pada angka 0,57 dari angka mutlak 1,” paparnya kepada sekalian hadirin.

Ditambahkannya, angka tersebut mengindikasikan masyarakat belum berperilaku peduli lingkungan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Ia pun mengimbau agar masyarakat secara umum mampu meninggalkan kebiasaan dan perilaku konsumtif.

“Perilaku konsumsi masyarakat dalam pemenuhan kebutuhannya, 49,3% berupa bahan makanan yang berasal dari luar daerahnya. Kondisi ini akan memberikan dampak bagi lingkungan seperti meningkatnya emisi karbon kegiatan pengangkutan bahan makanan tersebut dari daerah asal ketempat tujuan,” katanya.

Maka dari itu, penting menurut Bupati melakukan perubahan paradigma dan juga perilaku untuk selalu mengambil setiap kesempatan dalam mencari informasi, belajar dan melakukan tindakan demi melindungi dan mengelola lingkungan hidup.

Bambang berharap kegiatan tersebut tak sekadar seremonial belaka namun juga mampu agar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat khususnya Kabupaten Tanah Laut yang berseri. “Dan ini juga langka perwujudan Kabupaten Tanah Laut yang bersih, sehat, rapi dan indah. Kita perlu berkesinambungan untuk memberdayakan masyarakat agar peduli lingkungan hidup melalui pendekatan sosial. Sebagaimana kegiatan seminar yang digelar menjadi upaya pembinaan, penyadaranserta penambahan wawasan tentang lingkungan hidup,” pungkasnya.

Pembangunan Sport Center Masih Diharapkan di Banjarbaru

Sekdako Banjarbaru Dr Syahriani Syahran yang juga ketua tim Pembebasan Lahan Sport Center masih mengharapkan pembangunan sport center nantinya tetap di Banjarbaru. “Sebagai warga Banjarbaru tentu kita juga sangat mendukung. Tinggal lagi bagaimana keputusan gubernur,” ujarnya kepada wartawa usai menghadiri sidang paripurna, Senin (19/8), di Graha Paripurna DPRD Kota Banjarbaru, kemarin.

Menurutnyam Kota Banjarbaru memiliki kewajiban membebaskan lahan sesuai yang diminta Pemerintah Proovinsi Kalsel. Meski demikian penetapan lokasi belum ditentukan hingga sekarang. “Semua pentepan hasil kajian dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Jadi terserah gubernur,” tambahnya.

Menurutnya, pemko Banjarbaru sendiri tidak ada alasan untuk menolak asal semua sesuai propsedurial tata ruang. Terlebih lagi lokasi yang digadang-gadang menjadi lahan sport center hingga kini masih dalam proses pembahasan dijadikannya kawasan permukiman.

Ditambahakannmya lagi lokasi penetapan sport center itu memang harus dekat dengan bandara. Sebab beralasan untuk mempermudah akses bagi siapa saja yang datang dan pergi baik dari luar Kalsel sendiri maupun di luar daerah Kalsel.