Catatan Perjalanan, Palangkaraya-Banjarmasin (5/5)

Mungkin belum terlalu malam di Palangkaraya, jika waktu di arloji saya menunjukkan pukul 21.15, suasana Palangkaraya masih jam 8 malam. Bungker, Obol dan Haji Udin menyempatkan “menyucuk” pentol yang sudah tersandar lama di tempatnya. Kecuali saya yang masih memeriksa notifikasi dan mencheck keadaan memori. Faktanya adalah, SD Card yang saya gunakan sudah tinggal lagi puluhan MB saja dari 16 GB.

Sekitar 20 menit kami duduk dan berdiskusi, terbitlah maklumat rute perjalanan yang dimulai dari mengisi premium di SPBU, (karena antrian panjang kami mengisi pertamax), lanjut membeli beberapa kebutuhan akan cemilan di retel 24 jam, lanjut memberi jatah cacing perut yang mulai menggeliat.

Adalah metropolitan bergelar Kota Cantik ini, memang cantik, terlebih malam hari. Setelah mengelilingi bundaran besar, melewati jalan raya utama yang di samping jalannya tertata taman-taman kota untuk masyrakat yang bersantai, tak sedikit pula jajanan dan tempat bermain juga tongkrongan anak muda di sekitar UNPAR.

Kami berhenti di seberangnya, sekedar makan malam yang ternyata lumayan memangkas penghitungan keuangan. Sebenarnya malam belum terlalu larut, mungkin karena fisik yang sudah terlampau lelah, kami secepatnya mencari teduhan menghindari kalau-kalau hujan tanpa permisi, dan kami belum mendapati tempat tidur sama sekali.

Akhirnya diskusi alot berakhir, dari banyaknya usulan kami sepakati bersama untuk tidur di masjid. Beberapa masjid besar kami lewati namun tak bisa masuk karena pagar besar yang terkunci, beberapa lagi memang tidak diperbolehkan ada orang asing yang menginap, sebagian lagi karena memang sudah sangat tertutup, sebagian lagi jauh dari keramaian kota.

Dan sah sudah, kami putuskan untuk menginap di Masjid Shalahuddin, Universitas Palangkaraya. Karena terlalu gelap untuk foto selfie, sebagai tanda kepada pemantau/follower saya di IG, maka saya fotolah tangan saya dengan arloji yang sudah akrab di mata kawan-kawan dengan background plang masjidnya. Check Point 6.

Screenshot_2016-07-21-22-07-22_com.instagram.android

Kami berempat mulai observasi lingkungan. Tampaknya ada beberapa musafir juga yang tidur di pelataran masjid. Ketika mereka bertiga mendatangi merbot/kaum Masjid untuk pemberitahuan sekaligus perizinan, ada seorang yang musafir yang mendatangi saya untuk menanyakan 5W1H. Saya jawab sebagaimana adanya dan dia mulai menjauh untuk kembali ke tempat peristirahatannya.

Masjid Pancasila yang diresmikan Soeharto ini cukup nyaman, dengan desain arsitektur Standart Nasional Indonesia, kami mulai meghamparkan segala isi ransel. Yang perlunya saja. Akhirnya kami berempat tidur di outdoor, yang mana ketika membuka mata langsung melihat langit. Tak sia-sia juga saya bawa Sleeping Bag (SB) untuk difungsikan di malam ini. Usai melakukan semua keperluan manusiawi, kami beranjak tidur.

Mungkin sekitar pukul 03.00, saya terbangun karena kegerahan. Ketika membuka mata, hujan begitu derasnya. Usai melepaskan T-Shirt dan langsung dibungkus kantung tidur, saya lanjutkan pelayaran dalam mimpit. Sempat kutengok teman-teman yang tidur dengan gayanya masing-masing. Gaya Udang, Gaya Sakit Kepala, dan juga Gaya Kupu-Kupu.

Adzan subuh berkumandang, berani tak bangun bisa-bisa kami ditendang. Usai shalat berjamaah, Haji Udin menyalakan kompor lapangan untuk sekadar memanaskan perut dengan air. Sembari banyak obrolan yang terjadi, kami sempatkan selfie.

IMG_20160713_064204-01

kiri ke kanan: Haji Udin, Bungker, Obol, dan Saya tentunya

Strategi diatur, kami menyiapkan diri melanjutkan perjalanan. Sayang cuaca pagi ini, Rabu, (13/7), tidaklah cerah, sedikit gerimis malah. Melihat kondisi micro SD yang sudah tidak memadai, padahal Obol meyakinkan masih banyak tempat asik untuk berfoto, maka saya putuskan untuk menggantinya ke Micro SD Back Up 8GB. Inilah saat yang tidak saya sangka, terakhir untuk melihatnya berfungsi di layar IPS. (Flashback ke catatan perjalanan yang pertama. Saya sadar kehilangan 16GB semua file di dalamnya ketika sudah sampai di Banjarmasin).

Kami sempatkan mengunjungi tugu 0 km yang dibangun Sang Proklamator. Dilanjutkan menikmati matahari pagi yang malu-malu di dermaga pemandangan Jembatan Kahayan. Ketika ini Obol juga menyempatkan mendatangkan sepupu perempuannya untuk nimbrung seadanya. Setelah dirasa cukup, perjalanan dilanjutkan dengan silaturahmi ke beberapa keluarga Obol, dan berhenti lama di rumah sepupunya, atau acilnya, yang mana adik dari ibunya, yang tinggal di Palangkaraya. Begitu adanya.

Screenshot_2016-07-21-22-07-34_com.instagram.android

Check Point 7. Tempat peristrahatan yang cukup lama, jarum pendek jam dinding baru saja melewati dari angka 8 sedikit saja. Setelah bersopan santun layaknya tamu hari raya, kami dipersilakan menikmati hidangan yang sudah tersedia.

IMG_20160713_080823-01

Di rasa waktu masih cukup lumayan, dan menghindari keterburu-buruan saat pulang, maka saya putuskan untuk membuka laptop dan mulai mengetik di rumah ini. Sembari memanfaatkan jaringan yang masih kuat di wilayah perkotaan.

Singkatnya, kami disuguhi bakso special di sini, asli buatan rumah, makan sepuasnya, tambah pentol semaunya, tuang kuah kapan pun mau. Puas sepuas-puasnya. Terasa nikmat sekali, menulis berita pun semakin lancar, sampai jarum pendek jam dinding hampir menempel di angka 11.

Screenshot_2016-07-21-22-07-54_com.instagram.android

Sementara itu, saya tengok Bungker dan Haji Udin yang terlelap lagi. Obol yang asik dengam hapenya. Dan saya menatap layar sembari mulut tak hentinya ngemil.

Laptop shutdown, Bungker dan Haji Udin bangun, kami berempat berkemas. Hampir saja kami makan siang lagi dengan menu berbeda khas rumahan, diminta untuk bertahan karena sebentar lagi siang, tapi nurani saya rasanya sudah terlalu merepotkan, cukup sekali waktu makan saja. Dan ketika sudah siap, hujan pun turun.

IMG_20160713_081136-01

Tugu 0 Km yang berseberangan dengan Kantor DPRD Provinsi Kalimantan Tengah Kota Palangkaraya

Untuk menghindari kerepotan tuan rumah, kami menunggu teduh di beranda saja. Sudah pakai sepatu dan membungkus ransel seerat mungkin. Bungker dan Haji Udin tertidur kembali. Bukan, tapi sengaja melanjutkan tidur yang sebelumnya. Belum cukup, Boi?

IMG_20160713_083902-01

Jembatan Kahayan

Hujan reda. Kami berpamitan, melanjutkan perjalanan menuju Kota Banjarmasin. Saya kira tidak terlalu istimewa perjalnan ini. Namun akan saya beberkan beberapa. Kutatap arloji masih lewati tengah hari sedikit. Perjalanan damai lancar dengan cuaca cerah. Melewati beberapa Kampung yang banyak pura. Melalui beberapa SPBU, dan berakhir di Pelabuhan untuk penyebrangan motor, Kapuas, Kota Air.

Kami menggunakan jalur, yang katanya, bisa menghemat jarak perjalanan sampai 10 Km jauhnya jika melalui darat. Dan ini pertama kali. Kami sempatkan untuk makan siang nasi sop di samping pelabuhan sembari menunggu bongkar muat. Check Point 8. Semangat mengabadikan moment saya berakhir di sini, ketika di atas kapal motor dan menikmati hembusan angin sungai yang membelah daratan Kalsel-Kalteng.

Screenshot_2016-07-21-22-08-13_com.instagram.android

Saya rasa perjalnan menuju Banjarmasin cukup singkat, atau karena kami memang sudah terlalu banyak melalui ratusan kilometer jadi terasa dekat saja. Usai melewati perbatasan Kalsel-Kalteng, mendapati Jembatan Barito, yang menandakan kami sudah di sekitaran Wilayah Kota Banjarmasin, mengakhiri Jalan Trans Kalimantan, memasuki Jalan Birg Jend Hasan Basri. Selamat Datang di Kota Seribu Sungai.

Screenshot_2016-07-27-22-35-37_com.instagram.android

Tidak ada persinggahan lagi selain di rumah nenek, ibu dari bapak saya wilayah Jl Pangeran Antasari. Kamin berisitrahat sore. Check Point 8. Sekadar bercengkrama dan menikmati lelah yang menyenangkan. Sebagaimana kesepakatan yang kami rahasiakan sebelumnya, dengan dana konsumsi yang masih tersisa, dengan pembalasan khas orang desa ketika sampai di kota, kami sedikit menyegarkan otak agar bersemangat kembali ke Martapura. Menghabiskan waktu di Kota Banjarmasin dari sore sampai tengah malam. Pulang dan istirahat sampai pagi di rumah.

Kamis, (14/7). Matahari terik menghangatkan kami. Cuaca cerah. Semua bersiap. Setelah sarapan ala kadarnya khas anak kos-kosan, kami berpamitan dan kembali ke Kota Intan. Pukul 14.00 kami sudah mendaratkan kaki di Martapura. Finish Point. Mengecheck SD Card 16GB yang memang sudah tidak terbaca sejak di Banjarmasin. Saya terus melakukan upaya penyelamatan, namun hasilnya nihil. Yang terselamatkan hanyalah foto-foto yang sempat saya posting di Instagram pribadi @anandarumi2 sebelum sampai Kota Palangkaraya.

IMG_20160713_185839-01

Menghabiskan Malam di Kota Banjarmasin

Alhasil, perjalanan ini membuahkan kerinduan kami dengan orang-orang yang tertinggalkan, baik itu keluarga, sahabat, lingkungan pergaulan, dan tentunya suasana kerja yang membosankan. Entahlah, apakah kami akan kembali melanjutkan perjalanan yang sama di seputaran pulau Kalimantan lainnya, mungkin ke Balikpapan? Derawan? Brunei Darussalam, atau Pontianak? Siapa tahu. []

Catatan Perjalanan Tamiyang Layang- Ampah (2/5)

Karena ingin sekali eksis dan menandai bahwa saya sedang berada di Kota Amuntai, maka saya niatkan untuk berfoto di icon Itik Alabio, meski sebenarnya sudah terlalu gelap. Alhasil, ketika tiba di lokasi, mood untuk berfoto saya hilang.

Pencahayaannya kurang menarik, dan tentu saja terlihat sangat buruk dalam frame foto. Kami urungkan niat berfoto di Itik dan hanya menyempatkan berfoto di Jembatan Paliwara saja. Saya tak punya lagi gambaran atau bayangan suasana jalanan yang bagaimana lagi setelah kami melewati Amuntai.

Malam semakin larut, hari semakin dingin, (klise banget ya) rasanya ingin sekali cepat tiba di lokasi. Haji Udin mengkonfirmasi sudah menghubungi Galapung (bukan nama sebenarnya, red) untuk bersiap menjemput kami di pinggir jalan raya guna membimbingnya ke rumah kakaknya yang tidak jauh dari wilayah Pasar Panas, Tamiyang Layang.

Damn, Check Point 2. Di sinilah kami harus beristirahat, beruntungnya rumah yang bernomorkan 001 RT 00 1 RW 001 penghuninya sedang tidak di rumah, kami menginap berlima dengan Adiknya Asmat, (setelah diketahui, nama pemilik rumah, yang tak lain adalah kakaknya Galapung).

Sejujurnya saya tak menyangka akan tidur senyaman ini, maksudnya di atas kasur lipat, (setidaknya bukan di matras atau sarung yang sudah dipersiapkan dalam ransel). Karena kami sudah mengantisipasi kalau-kalau kemungkinan terburuk istirahat di tengah perjalanan, semisal ada musibah bocor ban, atau kondisi alam terlalu mencekam.

Galapung, dengan segala kerendahan hatinya memberikan pelayan sebaik mungkin kepada para raja yang berkunjung ke wilayahnya, menjamunya dengan sekuat tenaga, menyediakan hamparan mahligai untuk peristirahatan terbaik, dan… lebay sekali perumpamaannya.

Ya, kami mendapati kamar mandi terbaik untuk membersihkan diri, melaksanakan kewajiban, membuat minuman panas dan beberapa snack penghantar tidur. Menuju perbaringan, Bungker berpesan kepada kami “Jangan ada yang menggaraknya, awas mun wani!,” katanya. Mau bagaimana lagi.

Pukul 05.30 Wita. Saya ingat sekali karena ketika bangun menyalakan pencahyaan pada arloji. Ya, pertama, saya pernah mengungkapkan kepada sebagian kawan bahwa saya lebih mudah mengingat apa-apa yang terlihat daripada apa-apa yang terdengar. Dan kedua, saya adalah tipe manusia yang tidak suka melepas arloji dalam keadaan apa pun, baik itu tidur, atau pun mandi.

Usai kewajiban subuh, langit masih gelap membiru, mungkin mendung. Baru kusadari jika dibandingkan dengan jam dinding di rumah ini, ada perbedaan 30 menit dari waktu Martapura, lebih lambat. Untuk kadar penentuan waktu, tapi tidak untuk pergerakan matahari dan waktu sholat.

Lauk pauk dan hidangan yang tadi malam kembali dipanaskan untuk kami santap. Sebenarnya porsi begini bukan untuk sarapan, melainkan makan siang. Ya, ini adalah salah satu moment foto makan bersama hilang, saya tak sempat memostingnya di instagram. Termasuk berfoto di depan plang nomor cantik, Nomor 001 RT 001 RW 001. Mau bagaimana lagi?

Screenshot_2016-07-19-20-01-12_com.instagram.android

Dari kiri ke kanan: Galapung, Haji Udin, Obol, saya, dan Bungker.

Sekitar pukul 08.00 Wita, setelah memanaskan mesin motor, packing keperluan prbadi, mengisi ulang botol air minum, (penghematan), dan berdoa, kami berangkat dari rumah Asmat dan juga bersama Galapung untuk mengantarkan kami ke rumah betang. Sebagian orang bilang, tugu di tengah jalan itu juga berarti perbatasan antara Kalsel dan Kalteng. Secara geografis, kami memang sudah memasuki wilayah Kalimantan Tengah.

Adalah Desa Pasar Panas, Kecamatan Banua Lima, Taniran, Kabupaten Barito Timor, Kalimantan Tengah. Betang Lewu Hante, demikian situs ini dinamakan. Bangunan yang terbuat dari kayu terkeras di dunia ini sebenarnya hanyalah replika alias tiruan dari keadaan yang sebenarnya sebagai tempat ritual bagi masyarakat Dayak Kalteng di pedalaman, bukan di tengah jalan raya yang kami singgahi dalam perjalanan ini.

Screenshot_2016-07-19-20-01-27_com.instagram.android

Di depan patung icon masyarakat Kalteng berpakaian Adat. Dari kiri ke kanan: Galapung, Obol, Saya, Bungker, dan Haji Udin.

Meski demikian, replika ini lengkap dengan segala aksesoris yang detail. Termasuk ukiran-ukiran di kayu jatinya. Beruntung saya sendiri sempat minta fotokan di sini dan memostingnya. Walau terlanjut diedit menjadi hitam putih dan kehilangan file aslinya.

aku_kalteng

Screenshot_2016-07-19-20-01-34_com.instagram.android

Beberapa bangunan berdiri di atas tanah sekitar 2 hektar. Ada panggung terbuka yang biasa dipakai untuk pertunjukan seni, penginapan, taman, serta tak lupa dua buah bangunan rumah betang yang salah satunya difungsikan sebagai museum.

Museum memang belum buka ketika kami sampai, dan ketika momentum berfoto bersama pula, kami sempat bertegur sapa dengan ibu cantik berpakaian PNS ketat yang bertugas menjaga museum tersebut, “Selamat Pagi ibu, permisi numpat foto!,” begitu.

Screenshot_2016-07-19-20-01-40_com.instagram.android

Telah disebutkan, meski tidak masuk ke dalam, saya memunyai insting museum tersebut memiliki beberapa koleksi peninggalan jaman dahulu seperti pistol peninggalan perang, piring malawen, guci kuno, samurai jepang dan senjata tradisional dayak lainnya seperti mandau dan tombak. (Untuk lebih detailnya kamu bisa searching sendiri di google. Sudah banyak, kok yang menulisnya, red).

Screenshot_2016-07-19-20-01-47_com.instagram.android

Dalam bahasa Dayak maanyan, Lewu Hante yang berarti Rumah Besar atau sering disebut Rumah Betang. Rumah betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di pelbagai penjuru Kalimantan dan dihuni oleh masyarakat Dayak terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman suku Dayak.

Setelah dirasa puas untuk berfoto, kami berangkat menuju kunjungan selanjutnya, finish point kami adalah Palangkaraya, berarti kami masih harus melalui Kota Ampah, Buntok, dan Timpah, sebelum melewati Sungai Kahayan Palangkaraya lewan Jembatannya, kita akan tiba pada bagian ini nanti.

Screenshot_2016-07-19-20-01-55_com.instagram.android

Semilir angin berhembus mendadak berhenti, matahari terik terlindung dedaunan nan rimbun. Aroma semesta berubah dengan bau-bauan yang tak bisa kuungkapkan lewat kata. Kami seperti melewati dinding tak kasat meta setelah tugu burung itu. Pemandangan di sisi kiri dan kanan jalan berubah. Hutan dan rumah-rumah desain bahari yang masih bertahan, kawanan kucing yang menjulurkan lidah dan kambing berkaki pendek bertebaran di sana sini. Sebenarnya ini bahasa Haji Udin yang saya pinjam untuk mendeskripsikan Anjing dan Babi. Jangan tersinggung!.

Sekitar 500 meter perjalanan santai 40Km/jam, kami singgah di rumah saudara sepupu perempuan cantik dan putih-nya Obol. Dan, Suaminya. Sekadar silaturahmi pasca idul fitri, obrolan maaf lahir bathin dan menanyakan keluarga satu dengan yang lainnya menjadi latar belakang kami bertiga untuk mengisap sebatang lisong. Setelah pamitan, kami berangkat menuju kota.

Tamiyang Layang, dengan segala kemajuan dan perkembangan kotanya, saya ingat betul, dulu sekali, mungkin 10 tahun yang lalu berkunjung ke rumah Acil alias adik dari ibu saya di kota ini dan sampai sekarang masih di sini. Saya tak berniatkan singgah karena pagi di hari kerja yang sudah barang tentu tidak akan ada orangnya di rumah. Kami berempat berhenti di kios yang masih tutup di seberang Dinas Pekerjaaan Umum Kota Tamiyang Layang. Saya mencoba menghubungi Mama Tity, (panggilan akrab, red) acil saya yang bermukim di kota ini. Hanya untuk bilang, “Ma, ulun permisi lewat di Tamiyang Layang dan kada singgah,” itu saja.

Well, nada sambung berakhir dan telepon tak diangkat, dengan prasangka posisi handphone sedang berada jauh dari pemiliknya. Mumpung jaringan internet sedang soleh-solehnya, di perkotaan, saya sempatkan memosting beberapa foto. Menjaga perhatian para follower, karena saya sudah meniatkan dari awal agar posisi saya diketahui publik, kita tak pernah tahu apa yang terjadi berikutnya.

Waktu menunjukan 09.10 di arloji. Waktu setempat sudah berbeda sekitar 1 jam alias Waktu Indonesia Barat. (Berikutnya saya hanya menggunakan patokan waktu di arloji saya tanpa penyesuaian lokasi). Perjalanan dilanjutkan setelah singgah di SPBU Tamiyang Layang, menerobos deretan pepohonan besar nan rimbun di sekeliling. Dengan aspal yang tidak bisa dikatakan lebar.

Bong demi Bong selalu rutin ditampilkan di kanan dan kiri jalan. Beberapa plang peringatan “Daerah Rawan Kecelakaan” serta “Awas Tikungan Tajam” tak habis-habisnya menghalangi pandangan. Sedikit saja oleng, kamu bisa bertabrakan. Tidak banyak transportasi yang berlalu-lalang membuat setiap pengemudi menambah kecepatan, suka tak suka kita juga harus ikut-ikutan. Saya sangat suka ketika memiringkan motor saat di tikungan, layaknya pembalap Moto GP yang sering saya tonton di kost-kostan kawan. Dan tetap menjaga timbangan serta irama berakhiran –an. Ya, kan?

Karena jalanan yang cukup lengang, kami menempuh jarak kurang lebih 70km dengan waktu 2 jam kurang sedikit. Buktinya kami sampai di Bundaran Kota Ampah sekitar pukul 11.00.

Kami sempat membatalkan niat tidak mampir di Kota Ampah karena mengejar ketertinggalan waktu. Namun kembali ke perencanaan di malam sebelum berangkat, kami akan mampir ke rumah Ali, sahabat yang juga saudara se-Kampus di Martapura yang sedang berada di rumah mertuanya di Kota Ampah, dia dari Samarinda, istrinya yang dari Kota Ampah. Perlu saya rincikan lagi?

“Masih banyak waktu untuk singgah. Bagaimana?,” ujar Bungker.

“Apakah ada jaminan kita akan sebentar saja?” balasku bertanya.

“Tidak ada. Aku jamin kita pasti ditahan!”

“Maksudmu?”

“Kita akan ditahan. Tak sekadar minuman, cemilan, bahkan mungkin segala suguhan makanan yang akan menahan kita. Bahkan kita mungkin disediakan tempat tidur untuk beristirahat.”

“Sebaik itu kah? Jangan lupa, Aku juga mengejar deadline sebelum pukul empat. Kita harus sudah sampai ke kota yang kuat jaringannya untuk aku membuka email. Aku sudah menyiapkan berita wajib yang kukirim sore ini untuk terbit besok,” tegasku dengan niat agar perjalanan terus berjalan dengan lancar.

Secara pribadi, saya tidak terlalu mengenal Ali. Tapi Bungker, Haji Udin, dan Obol sebagai angkatan setelahku di kampus lebih sering bercengkrama dan berbagi rasa bersama baik itu seputar urusan kampus dan kekeluargaan lainnya. Banyak cerita yang saya tidak bisa nimbrung terlalu banyak nantinya.

Saya tak menyangka jika peringatan Bungker sebelumnya menjadi kenyataan, saya juga menyayangkan karena saking nikmatnya santap siang ala desa, lupa memotonya, saya juga sangat menyayangkan… ah terlalu banyak sayang di Kota Ampah. Sayang… (bersambung)

 

 

 

 

 

Bahas Masalah Perkotaan

Maraknya pembangunan di Kota Banjarbaru tentu sangat berdampak buruk bagi penataan kota yang beru beranjak 14 tahun ini. Maka dari itu, Walikota Banjarbaru HM Ruzaidin Noor beserta Sekdako Kota Banjarbaru Dr Syahriani Syahran berkesempatn menghardiri pertemuan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) Regional Kalimantan, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 10 April hingga 12 April 2013 kemarin.

Kabag Humas Pemko Banjarbaru Abdul Malik memaparkan, beberapa pin penting yang dibahas dalam pertemuan tersebut yakni pengaturan PKL dan kumpulan gepeng yang banyak ditemui di daerah perkotaan.

“Pertemuan itu dinilai sangat penting. Melalui sharing dan diskusi antar Walikota diharapkan bisa ditemukan solusi guna pemecahan masalah yang dimaksdu. Dari situ kita dari Pemerintah Kota tentu bisa melakukan perbaikan,” katanya.

Dalam pertemuan itu juga turut dihadiri Dr Sarimun dari Apeksi Pusat. Poin penting dalam pembicaraan juga meremberk ke persoalan pengelolaan sampah dan pemukiman yang jadi masalah klasik di perkotaan.

“Dr Sarimun secara khusus penyoroti soal pemukiman, terutama masalah perumahan agar tidak terjadi kekumuhan yang saat ini sangat menghantui perkotaan kedepannya. Dan untuk Palangkaraya kebetulan desainnya sama dengan Banjarbaru. Karena dibuat dengan orang yang sama yakni Van Der Peijl,” terangnya.

Di antaranya adalah menerapkan kebijakan 10×20 meter sebagai syarat mutlak membangun perumahan RS oleh developer guna menghindari kekumuhan. Sedangkan Banjararu menerpakan 10×15. Maka dari itu, Kata Malik, hal atersebut menjadi masukan berarti bagi Banjarbaru karena sangat berguna bagi pembangunan Banjarbaru sendiri, terutama dari segi Tata Ruang.

Hidup Harus Lebih Dari Sekadarnya

Dokumentasi Mapala FT Unlam Banjarbaru_Ekspedisi Gunung Mahameru2

Dokumentasi Mapala FT Unlam Banjarbaru_Ekspedisi Gunung Mahameru2

Mapala FT Unlam Banjarbaru

Sebagai organisasi kampus yang telah eksis selama 31 tahun, Mahasiswa Pecinta Alam Fakultas Teknik Unlam (Mapala FT Unlam) Banjarbaru tentu menjadi satu-satunya UKM yang menaungi kegiatan anggota dan membawa mereka bertualang kemana-mana.

Secara legalitas, Mapala FT unlam telah berdiri sejak 24 September 1981. Mapala FT Unlam yang hingga sekarang dipegang tegus para anggotanya. Yaitu, Hidup Harus Lebih Dari Sekadarnya.

Kordinator rockclimbing Mapala FT Unlam Syarifuddn kepada Media Kalimantan memaparkan, hingga di tahun 2012 ini, anggota mereka mencapa 286 yang tersebar di berbagai daerah. “Bahkan alumnus kampus pun sebagai senioritas tetap aktif jika tak ada kesbiukan untuk ikut berekspedisi dengan para juniornya,” tutur pemuda berambut gondrong ini.

Di tahun ini, mereka kembali merekrut dalam Latihan Dasar (Latdas) ke-30. “Saat ini kita masih menerima anggota baru hingga Ferburaru 2013. Beberapa waktu ini kami memang telah melaksanakan beberapa Latdas. Tapi bagi mereka yang baru belum dilantik untuk menjadi anggota,” tambahnya.

Dokumentasi Mapala FT Unlam Banjarbaru_Ekspedisi Gunung Mahameru

Dokumentasi Mapala FT Unlam Banjarbaru_Ekspedisi Gunung Mahameru

Sekretaris Mapala FT Unlam Banjarbaru Sasha menambahkan, Mapala FT Unlam yang saat ini diketuai oleh Bambang Priambodo bertekad untuk selalu maju dalam ekspedisi di dalam regional Kalimantan maupun diluar. “Acara besar yang baru-baru ini kita ikuti adalah Pertemuan Mapala Regional Kalimantan (PMRK) di Kalimantan Tengah. Event akbar tersebut kali pertama diadakan di Kalteng dan sangat beruntung yang kedua ini diselenggarakn di FT Unlam Banjarbaru, Oktober 2011 kemarin,” katanya.

Dijelaskannya, untuk beberapa bulan ke depan para anggota akan disibukkan dengan fokus dalam pelatihan autocat, pelatihan GPS, penggambaran peta, pembacaan arah mata angin, dan yang lainnya.

Mapala FT Unlam telah menaklukan beberapa ketinggian di antaranya, Gunung Semeru, Gua Batu Hapu, Camping, Gunung Rinjani Lombok, dan beberapa gunung di berau serta grogot.

Dokumentasi Mapala FT Unlam Banjarbaru_Ekspedisi dalam guaSasha dan rekan lain berharap, Mapala FT Unlam bisa terus maju dan eksis dalam menjaga nama baik organisasi dan berprestasi. Ketika ditanya Mapal identik dengan Mahasiswa Abadi alias para mahaiswa yang lama lulusnya, ia menganggapi dengan bijak bahwa tidak semua Mapala demikian. “Kalau aku menganggapinya sih sah aja ya. Namanya juga banyak kegiatan. Namun asat diketahui, banyak juga di antara mahasiswa lainnya tidak ikut organisasi apa-apa justru paling terlambat meraih gelar sarjananya. Yang jelas diliuhat dulu individunya. Tergantung pribadi masing-masing. Kalaupun lama tentu ada alasannya dong! Dan Mapala FT Unlam sendiri sangat menjada baik hubugan antar mahasiswa dengan,” pungkasnya

Hotspot Kalsel Nol

Pasca dilaksanakannya hujan bhuatan sejak Minggu kemarin, Kalimantan Selatan dan sekitarnya khususnya wilayah Banjarbaru sendiri telah dibasahi sejak pagi hingga sore hari. Koordinator Lapangan Tim Modifikasi Cuacau (TMC) Banjarmasin Sutrisno menuturkan, hingga Rabu kemarin, total sudah ada 8 sorti penerbangan dengan menghabiskan bahan semai sebanyak 8 ton. “Delapan ton itu sudah ditebarkan pada awan-awan yang berpotensial di di wilayah Kalsel dan Kalteng,” ujarnya kepada wartawan hirangputihhabang.wordpress.com, Kamis, (17/10) kemarin.

Menurutnya, Hhmpir setiap hari pasca penyemaian itu terjadi hujan pada sore dan malam hari. “Menurut NOAA-18, hotspot pada hari ini, (kemarin, red) di Kalsel nol atau tidak ada hotspot sama sekali. Visibility pada pagi hari sudah diatas 3 Km dan siang hari di atas 5 Km. Sehingga tidak ada kendala take off landing pesawat di bandara Syamsudin Noor,” jelasnya.

Sebelunmnya ia menerangkan, tim dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi akan kembali menaburkan dua ton garam ke udara, dalam kegiatan penyemaian benih hujan buatan di Kalimantan Selatan. “Penerbangan diarahkan ke barat daerah perbatasan dengan Kalimantan Tengah dan satu lagi ke arah tenggara,” terangnya.

Ia juga menyampaikan sebagaimana keterangan yang didapat BMKG Banjarbaru, sebagian besar wilayah Kalsel mulai memasuki musim hujan pada dekade ketiga bulan Oktober atau setelah tanggal 20 oktober. “Jadi sangat diharapkan setelah tanggal 20 oktober hujan alam sudah banyak dan mengakibatkan tanah lembab agar tidak lagi ada titik-titik hotspot yang baru bermunculan,” pungkasnya.

Mengenang Van Der Pijl, Seorang Belanda Pendiri Kota-kota di Kalimantan (Bagian 1)

Van der Pijl Muda, sebelum hijrah ke Indonesia

Van der Pijl Muda, sebelum hijrah ke Indonesia

Siapa sangka, Kalimantan yang kental akan tradisi adat, ragam, dan budaya ini dulunya punya seorang arsitektur handal asal Belanda. Ia mengabdikan hidupnya dengan segala keuletan artsitektur untuk membangun kota-kota di Kalimantan. Adalah Dirk Andries Williem Van der Pijl. Pria Kelahiran Brakel, Netherland 23 Januari 1901. Lalu, Bagaimana perjuangannya dalam mendirikan kota dan menatanya di Kalimantan? Berikut penelusuran wartawan Media Kalimantan, Ananda Perdana Anwar.

Pada tahun 1947, pasca tahun kedua dikumandangkannya teks Proklamasi Kemerdekaan RI oleh Soekarno (Presiden pertama RI), pembangunan-pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia kian digencarkan. Tak luput dari perhatian, Kalimantan pun sempat diusulkan menjadi lokasi strategis Ibu Kota RI. Itu lantaran titik kordinat paling tengah Negara Republik Indonesia ini berada di Kalimantan. Tepatnya di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Bung Karno kala itu menginginkan seorang yang mumpuni dalam bidang tata kota dan bangunan. Tak pelak sebagai seorang sarjana teknik dan mempunyai pemahaman luas dalam arsitektur, Van der Pijl diminta untuk datang ke Indonesia dan menetap untuk sekian waktunya. Dan kota pertama yang disinggahinya adalah Balikpapan, Kalimantan Timur.

Memang waktu tak berlangsung lama, Van Der Pijl yang kala itu menetap di Balikpapan dengan istrinya yang berdarah Ambon, Anna Gaspers (1917-1994), sedang hamil anak keduanya dari Anna (Ia mempunyai anak dari istri pertamanya di Belanda dan dikaruniai dua orang anak pula), lahirlah si bungsu, Marijke Elizabeth pada 29 Oktober 1949 yang menceritakan langsung perjalanan Papa (panggilan Van der Pijl) kepada penulis hirangputihhabang.wordpress.com. Didampingi suaminya, menantu Van der Pijl yang berdarahkan Yogyakarta, Djodjok Rahardjo, bertempat di kediaman pribadi Jalan A Yani Barat No 3 Banjarbaru. (Saat sekarang lahan dan rumah ini sedang bersengketa oleh pihak perusahaan otomotif dan terancam dimusnahkan, red). Kakak dari Marijke, Hj Andrea Cornelia, wafat dalam keadaan muslim pada usia 65 tahun (1946-2011).

Pada tahun 1950, Bung Karno atas nama Pemerintah RI memberikan pilihan kepada Van der Pilj untuk mengurus kewarganegaraannya. Menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) atau pulang ke Belanda. “Karena kalau tidak, kita sekeluarga mungkin tak akan tinggal di Banjarbaru seperti sekarang ini,” Ujar Marijke menceritakan.

Beruntunglah masa itu Van der Pijl tidak mendapati waktu yang terlampau lama untuk mendapatkan status kerawaganegaraannya. Van der Pijl menjadin PNS dan menjabat sebagai kepala Pekerjaan Umum (PU) sipil kering di Kalimantan Selatan. Tempo itu Pegawai dalam ranah teknik dibagi menjadi dua bidang yaitu Sipil Kering dan Sipil Basah. Sipil Kering khusus menangani berbagai persoalan infrastruktur pembangunan gedung dan tempat tinggal. Sedangkan Sipil Basah menangani berbagai pembangunan, jembatan, drainase dan pengairan. Meski sebagai Sipil Kering, Van der Pijl seorang artsitektur total.

“Tak hanya menggambar dan membangun gedung saja, dari drainase, jarak jalan kota, dan semua diatur papa dengan perhitungan yang akurat,” jelas Marijke. Oleh sebab itulah, ia sempat didatangi orang-orang dari Ikatan Arsitekt Indonesia untuk meberikan penghargaan dan antusias tinggi kepada Van der Pilj.

Pada masa pemerintahan Gubernur Kalsel dr Murjani (1950-1953), atas perintah Bung Karno, Van der Pijl telah menetap bersama keluarganya di Jalan Kuripan Nomor 1 Banjarmasin. “Waktu itu, Gubernur Murjani yang memimpin apel pagi, sangat resah dan gamang melihat keadaan tanah Banjarmasin yang sering terendam air. Terlebih saat musim hujan datang. Gubernur Murjani pun berpikir untuk segera memindah Ibu Kota Kalsel kala itu. Karena kondisi tanah di Banjarmasin sudah terlalu rawan akan bahaya banjir,” Djojok menuturkan.

Gubernur Murjani pun ambil sikap. Ia memerintahkan Kepala Pekerjaan Umum, Van der Pijl  mencari wilayah dataran tinggi. Dengan niat yang tulus dan pengabdiannya yang loyal kepada pemerintahan di Kalimantan Selatan, Van der Pijl berangkat menuju sebelah timur dari Kota dan menemukan wilayah yang memang berdataran tinggi di Kabupaten Banjar. Adalah Gunung Apam. (bersambung/ananda perdana anwar)