Catatan Yang Tercecer di Haul Abah Guru Sekumpul ke-11

Catatan Yang Tercecer di Haul Abah Guru Sekumpul ke-11

Foto Muhammad Nizar Khalifatullah Mukminin

Foto diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya Muhammad Nizar Kalifatullah Mukminin

Pada akhirnya, kita dipanjangkan umur kembali untuk terus belajar dan memahami makna kehidupan di tiap kali hembusan napas. Tak sekadar bekerja untuk mencari uang, terkadang bekerja untuk mendapatkan berkah termasuk bagian dari pembelajaran. Apa yang didapatkan dari sebuah pengabdian kepada seorang guru yang sosoknya “Bukan Guru Biasa”.

Alhamdulillah, saya mensyukuri diberi kepribadian sebagaimana adanya sekarang ini. Belajar kala beliau masih hidup di tahun 2002, melawat dan mengatar di hari wafat tahun 2005. Diberikan umur, kekuatan, dan keinginan kuat untuk terus terhubung (tidak menginggalkan jauh Kota Martapura) dan hadir di setiap peringatan haul pertama sampai ke-11. Segala puji bagi Allah, kita manusia diberikan kebebasan memilih oleh Sang Maha Pemilik semesta alam , mau jadi apa kita di dunia, dan apa yang kita pertanggungjawabkan di hadapan nantinya.

Dear pembaca, pernahkah terpikirkan bahwa Tuhan tak memaksa kita untuk mentaati segala perintahnya. Adakah anda terpikir bahwa sebagai manusia kita tak serta merta mendapatkan siksa ketika salah atau langsung dimatikannya dalam kehidupan saat berbuat dosa? Jika hal tersebut terjadi, niscaya tidak ada lagi manusia yang hidup di bumi ini.

Sebagai intermezzo tulisan, mungkin itu satu dari sekian sebab mengapa saya memilih untuk menjadi “Pelayan” dalam konteks panitia di Haul Guru Sekumpul ke-11  tahun 2016 ini. Pasca menulis Catatan haul ke-8, tulisan tersebut terputus karena kesibukan dan tugas saya sebagai Jurnalis semakin menumpuk menimpa segala waktu pribadi yang semestinya mampu saya bagi  mengelola blog yang kurang lebih 3 tahun terbengkalai.

Tahun ini, saya tidak membagikan foto jepretan saya pribadi ketika berjubel di tengah para jamaah. Di catatan kali ini juga, saya tidak mengulang betapa beratnya menjadi seorang fotografer jurnalis pada haul Abah Guru yang mengharus mendapat foto bagus untuk tampil di halaman terdepan. Saya akan berbagi, betapa barokahnya lingkungan di sekitar Haul saat perayaan berlangsung.

12986968_10201690935670745_4669914976919452149_n2

Foto drone diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya M Iriwin Nurhasnan.

Sedari pagi Minggu, (10/4), saya memilih untuk tidak mendapatkan kesempatan memotret ke Sekumpul, cukup di luar saja. Menjadi jamaah, alhasil saya  satu dari sekian banyak panitia petugas yang melayani para jamaah luar daerah baik dari pelayanan parkir atau pun pembagian konsumsi. Posko 45 STAI menjadi titik saya dan sepuluh teman-teman lainnya melayani para jamaah yang berdatangan. Dear pembaca, tidak ada iming-iming rupiah, hanya kenyamanan hati dan keinginan pribadi untuk mengabdi dan melayani sebuah keberkahan yang saya kira, wilayah lain pun seolah iri dengan Martapura.

Saya terharu ketika menerima sejumlah Broadcast BBM yang menyatakan setiap pribadi bersedia rumahnya masing-masing  dijadikan tempat penginapan para jamaah yang berdatangan, 500 ribu jamaah yang berhadir dari sejumlah daerah ke Sekumpul, mengorbankan segala bentuk harta waktu dan aktifitas mereka untuk datang. Dear pembaca, tidak ada feedback rupiah atas apa yang sudah mereka korbankan. Bahkan kabar yang tersiar, ada perumahan di sekumpul yang sampai disewa pendatang satu pekan sejak H-7 untuk mengumpulkan keluarga mereka di momentum haul dan beribadah di wilayah Ar-Raudhah.

Sebagai masyarakat awam, dalam artian saya tidak bermukim di Martapura, namun sempat mondok dan mendapat link untuk menjadi panitia di haul, saya merasa sangat berbeda. Gedung-gedung dikosongkan untuk para jemaah bermalam, termasuk kampus STAI Darussalam, kasur-kasur disediakan untuk mereka. Ada yang dari Amuntai, Kandangan, Sampit, Barabai, Tapin, dan daerah Hulu Sungai lainnya. Tentu saja untuk daerah lain seperti Palangkaraya, Samarinda, Jakarta, Bali, bahkan Lombok pun datang dan menempati kantong-kantong penginapan yang telah tersebar di beberapa wilayah Martapura. Saya membaca  headline koran lokal, terlepas penginapan gratis, penginapan berbayar berkelas losmen sampai hotel berbintang di wilayah kisaran Martapura dan Banjarbaru pun tercatat hasil transaksi 6 miliar rupiah. Ada lonjakan transaksi ekonomi yang luar biasa dalam satu hari itu. Bukankan ini satu dari berkah.

Kemacetan serta hiruk-pikuk Sekumpul adalah hal lumrah, wajib, dan sudah “dihakuni” para jamaah yang datang dari penjuru daerah. Posko Induk Sekumpul adalah panitia paling sabar menerima segala bentuk keluhan dan masalah yang terjadi kala pengaturan lalu lintas pra haul sebelum Magrib, dan pasca amalam sesudah Isya berjamaah. “Ramai lancar”, “padat merayap”, sampai “macet total” Jalan Ahmad Yani kode-kode HT yang tersiar. Semua adalah warna-warni haul, dalam konteks ramai lebih ramai daripada perayaan Hari Raya Idul Fitri di tempat yang sama.

Bendera-bendera berwarna-warni sebagai tanda adanya perayaan akbar tertancap di sudut-sudut kelurahan Kota Martapura. Saya melihat kelapangan para anak-murid Abah Guru yang rela mengeluarkan semua yang bisa diberikan kepada para jamaah pendatang, tempat, rumah, makanan, harta, benda, sembako, air minum, semua. Pembagian air gratis, penginapan grats, gratis makan, paman pentol yang mengratiskan dagangan, paman bakso yang menggratiskan, kopi, diskon besar-besaran produk keislaman, seakan semua manusia di sana sedang dihanyutkan dalam kecintaan abadi yang tak pernah mati. Sebab apa-apa yang sudah diberikan Anak Murid para jamaah belum ada apa-apanya dibandingkan apa-apa yang sudah diberikan Abah Guru Sekumpul kepada jamaah. Tak akan pernah terbalaskan. Seakan semua ingin turut terhanyut dalam kecintaan, kerinduan, dan mengkorbankan apa yang yang ada untuk menyamankan para jamaah dari seantero dunia. Dunia? Realy?

Sayyid Prof Fadhil Al Jailani, seorang cicit keturunan Syech Abdul Qadir Jailani dari garis keturunan Sayyid Abdurrozaq Ra dari Turki turut serta dalam pelaksanaan haul, belum lagi para ulama-ulama dan habaib-habaib hadramaut, jamaah dari negri jiran Malaysia.Tentu saja dua permata Sekumpul Muhammad Amin Badaly dan Ahmad Hafy Badali masih menjadi magnet tersendiri  para jamaah yang menyaksikannya langsung di dalam Musholla Ar-Raudhah atau pun tv-tv kabel se-Martapura. Banyak juga yang menyediakan LCD-LCD di tanah lapang luas bahkan Gedung Kuliah sebagai layar raksasa. Seperti di Posko 45 STAI.

Kantong-kantong parkir sedini mungkin disediakan para panitia agar tumpukan para jamaah bisa dikondisikan baik saat penyambutan mau pun ketika pulang dari Sekumpul. Saya bersama-sama kawan baru bisa merasakan arus ramai lancar lalu lintas pukul 01.00 dini hari Senin, (11/4).

12986968_10201690935670745_4669914976919452149_n.jpg

Foto drone diambil dari Grup Facebook Para Pecinta Abah Guru Sekumpul hasil karya M Iriwin Nurhasnan.

Aku bersyukur atas pilihan yang telah diberikan. Ada rasa yang tak selalu sama di setiap tahunnya. Pun seandainya aku memilih untuk terus menulis kisah ini sedetail kehadiran ulama-ulama dalam Ar-Raudhan sekumpul, amalan Ratibul Hadad, Nasyid Zikir sampai Isya berjamaahnya, serta dialog-dialog yang kami lakukan saat mengatur para jamaah, mungkin tak akan cukup untuk sekali posting. Hari mulai hujan, ada catatan tercecer lainnya yang harus kurampungkan. Sudah kubilang, ini hanyalah catatan tercecer saja. Semoga kita, para pembaca, juga penulis dipanjangkan umur dalam berkat, dan merasakan dari sudut pandang berbeda lainnya pada Haul Abah Guru Sekumpul ke-12 mendatang. Shollu Alannabiy. Dan sebagai penutup, saya mengutip status RU dari sahabat saya M Zainal Ilmi a.k.a Elmonk di akun BBM nya:

“Inilah Martapura dengan Berjuta Cinta”

 

Antara Satpam RS Swasta dan Asuransi Kesehatan

Kalimat “Sehat itu mahal” tak akan pernah mati ditelan zaman. Bahkan terus abadi sepanjang masa. Pun demikian juga dengan keluhan para pasien dan petugas rumah sakit. Apa pun bidangnya, hampir semua merasakan hal yang sama.

 

Saya turun ke lobi terbawah, keluar ruangan untuk sekadar mengepulkan asap tembakau. Secara, ini rumah sakit, bro! Meski beberapa kali di RS Daerah saya mendapati orang-orang dari golongan ahli hisab seperti kami melakukan hal tersebut di lorong-lorong tanpa ada teguran dari petugas atau pun perawat. Hanya plang-plang kayu serta plastik saja yang menegur dengan bentuk tulisan tanpa suara. Tidak di sini, di RS Swasta.

 

Sekali lagi ini bukan promosi, hanya menyampaikan pengalaman seorang satpam rumah sakit. Sebut saja inisial nama belakangnya “A” dengan akhiran “gus”. Kami pun beramah-tamah. Seputar 5W+1H. Tak jauhlah dari hal siapa keluarga?  dari mana? lingkungan tempat tinggal? alasan berada di rumah sakit ini? dan yang paling mainstream adalah kalimat. “Kenal gak sama si “anu” dia tinggal di sekitar itu? Orangnya bla… bla… bla!” betul, gak sih, guys?Karena mertua saya tinggal di Mandiangin, jadi tak saya ketahui seorang tokoh yang satpam itu tanyakan kepada saya. “Mungkin mertua saya lebih tahu. Nanti tanyakan.” Begitu saya menjawabnya.

 

Saya mengisahkan perihal keberadaan keluarga di sini sedikit saja, seperti rujukan dari bidan di kampung Mandiangin hingga melahirkan dan bermalam di RS Pelita Insani di Jl Sekumpul Martapura ini. Katanya satpam sih memang baru berdiri, ya hampir setahun. Sekali lagi, ini bukan promosi. Alasannya singkat saja, karena sedari umur kandungan 3 bulan, 5 bulan, 7 bulan, dan 9 bulan awal, kami (dengan istri) rutin cek ke dokter yang sama di ruangan yang sama dengan kartu anggota yang sama dan fasilitas yang sama. Tentu saja ikatan emosi antara dokter dan pasien itu penting. Untuk membangun kondisi kenyamanan psikis yang berdampak positif pada perasaan. Saya percaya betul dengan proses itu. Semoga tidak keliru.

 

Sembari saya sedang berasap, Si Satpam Agus pun membuka cerita. “Memang harusnya begitu. Perihal biaya, kadang-kadang kita sangat perhitungan sampai membuat hati kesal. Apalagi profesi kecil seperti kita-kita ini. Padahal, uang bisa dicari, ya, tentu saja. Tapi, namanya kenyamanan hati kita bisa memilih. Yang mana terbaik untuk anak-istri. Persoalan biaya mahal bukan untuk dipikirkan, tapi dibayar,” Katanya meski sebenarnya dia tak tahu profesi saya wartawan. Mungkin dia bercerita begini karena asumsi masyarakat bahwa RS Swasta lebih mahal dibandingkan RS Daerah. Memang betul. Ada harga ada rupa, itu juga betul. Kenyataannya memang begitu, kan?

 

Beberapa waktu lalu istrinya juga melahirkan. Lantas dibawalah ke salah satu Rumah Sakit Daerah di Kota Banjarbaru. Karena dia mempunyai kartu asuransi sejenis BPJS/Askes/Jamsostek/Jamkesda/Jampesal/Jamkesmas/bla-bla-bla dengan segala tetek-bengeknya itu, maka dipakailah fasilitas termaksud.

 

Sebelumnya, ketika saya datang ke RS ini dan ditanya oleh petugas administrasi apakah ingin memakai asuransi? Saya menjawab tidak. Karena memang tidak memiliki kartu apa pun. Atau memang ada dari kantor, tapi sekarang belum saya pegang karena belum disuruh mengambil. Atau sedang dibikinkan tapi belum selesai-selesai. Ah sudahlah. Singkatnya, kubeberkan perihal itu kepada satpam dan dia respon dengan mengangkat dua jempol. Apa coba?

 

“Bagus. Kamu tahu, istri saya melahirkan di RS Daerah. Karena memang ada asuransi kesehatan (BPJS) maka saya pakai. Dan saya menyesal. “Dusta wara”. Apa rasanya jika kamu sebagai suami harus menelantarkan istrimu yang sedang kesakitan di ruang administrasi lantaran urusan isi mengisi nama begitu lama. Belum lagi, sebagai suami, tugas saya merangkap sebagai jongos rumah sakit. Masak impus habis saya disuruh beli sendiri? Bolak-balik apotek-kamar pasien! Mengantar dan mengambil segala bentuk kertas! Tak ada perawat yang datang ke kamar sebelum keluarga pasien yang mendatangi dulu ke ruangannya. Asuransi apa itu? Pelayanan kesehatan macam apa?”

 

Saya pikir, gratis sih gratis, ya. Tapi, ya gak gitu juga keles! Atau saya salah. Mungkin juga. “Lho, kenapa begitu, bang? Bukankah seharusnya sudah ada petugas yang mengurus itu semua sesuai bidangnya?” sahut saya seolah membela.

 

“Itulah hal yang tidak aku mengerti sampai ini dengan pelayanan rumah sakit daerah.” Jawabnya.

 

Saya hanya mengangguk. Sedikit tidak percaya. Karena memang seumur hidup saya, hingga tulisan ini dituliskan, tidak pernah masuk rumah sakit dalam konteks “dirawat di ranjang pasien.” Begitu juga istri saya. Ini adalah kali pertama dia (istri saya) berbaring di ranjang pasien dan ditusuk oleh infus. Dan tentunya melahirkan.

 

Belum lagi, Satpam Agus melanjutkan, pengapnya ruangan dan obat-obatan yang menyengat di RS Daerah. Kegaduhan di setiap ruangan. Apalagi kelas biasa, sebut saja kelas ekonomi, anak-anak bermain berlarian di lorong tanpa teguran. Mungkin ada beberapa orangtua yang menegur namun tanpa ada respect dari petugas rumah sakit.

 

“Kalau di sini tentu saja kami tegur dan disiplinkan. Setiap lantai CCTV berhadapan diawasi di ruang pengawasan. Kalau ada anak-anak yang membuat kegaduhan di lorong ada petugas kami yang menegur. Termasuk yang sembunyi-sembunyi merokok. Gak bakalan bisa. Selain CCTV semua ruangan juga sudah ada sensor asap. Bahkan toilet sekalipun.”

 

Entah apakah satpam ini memang niat berpromosi, saya diam saja.

“Terus, segala macam obat, makanan, dan pemeriksaan, perawat rutin mengantarkan ke kamar, mau itu kelas III sampai VVIP sekali pun pelayanannya sama. Yang berbeda hanya jarak lokasi lantai dan batasan ruangan. Setiap kamar bersih, tidak ada bau-bau obatan yang menyengat apalagi kegaduhan. Ada perlu, tinggal pencet bel. Perawat yang datang pasien, buka sebaliknya. Berbeda sekali dengan yang aku temui di RS Daerah, yaitu tadi, pasien yang mendatangi perawat, bahkan harus rela disuruh-suruh beli obat, yang menyuruh mukanya hanya layar hepe saja. Entahlah apa itu namanya bbm-an chating, aku tak paham. Anak muda zaman sekarang.”

 

Nah, kalau soal perawat RS daerah mainin hape sambil melayani pasien ini sering kulihat langsung di RSUD Banjarbaru dan Martapura saat menjenguk teman dan liputan berita. Mungkin sedang mainstream perawat model begini.

 

Saya manggut-manggut lagi. Menghela napas panjang dan mematikan puntung di tempat tersedia. Tak berapa lama menyampaikan keluhan itu, seorang petugas parkir datang menghampiri kami, melaporkan dan mengeluhkan seorang sopir yang sulit dikasih tahu untuk memindahkan mobil “All New Avanza” Putih mengilat. Tersebab, kata petugas parkir, ada ambulance RSUD Zalecha mau masuk. Lha, kok gitu?

 

“Padahal sopir mobil ini sudah berkali-kali saya kasih tahu, jangan markir mentok pas di depan ruang IGD. Sejak awal datang malahan. Karena ada saja ambulance yang keluar-masuk. Seharusnya orang-orang bermobil seperti ini lebih paham dari satpam. Dia kan lebih pintar. Orangnya malah manggut-manggut dan menjawab “Sebentar… sebentar saja. Saya nunggu istri saya dulu.” Jawab dia begitu, dik. Banyak juga pengguna motor yang keras kepala untuk diatur motornya. Heran! Saya merasa malu kalau harus menegur mereka-mereka terlalu sering. Karena saya yakin betul orang-orang berpendidikan seperti mereka ini mengerti yang mana baik dan tidak sesuai aturan. Bisa dilihat dari cara mereka berpakaian dan apa yang mereka pakai.”

 

Mendengar kalimat itu, saya sedikit terhentak. Kalau yang pakai mobil, kan bisa aja dia menyewa di rental! Eh, tapi mungkin gak sih mobil rentalan pakai boneka-boneka warna warni gitu di depan kacanya? Ada namanya segala lagi di gantungan spion. Entahlah, sebab sering juga ngeres mau markir sesuka hati. Tapi bukan di sini, yaaaa… melainkan di Bank dan pasar. Semoga prasangka saya tidak salah, beda lingkungan beda karakter tukang parkirnya dong… dong… dong. Ya, khaaan?!?!

 

“Lha. Terus, kenapa ada ambulan RSUD Zalecha yang mau ke sini, bang? Rujuk maksudnya?”

 

“Itulah, dik. RS Zalecha sering sekali merujuk pasiennya ke sini. Dari yang mau melahirkan sampai yang mau mati. “Parak mati hanya diantarnya ke sini.” Mereka beralasan lantaran alatnya tidak lengkap dan pasien susah untuk ditangani? Yang lebih sering karena ruangan sudah penuh. Hampir setiap hari.”

 

Hah? Susah ditangani. Karakter macam apa ini? Trus RSUD Daerah sebesar itu kok alatnya tidak lengkap. Heran? “Susah ditangani bagaimana maksudnya, bang?” saya tanya, kan.

 

“Barusan kemarin ada pasien tabrakan di wilayah Gambut. Mereka, petugas RS Zalecha itu mengatakan, korban kecelakaan motor. Kepalanya terhempas dan rengat. Pendarahan. Dan di RS Zalecha tidak bisa menangani. Masak pasien yang mengerang kesakitan disuruh diam. Bayangkan bagaimana perasaan keluarganya saat mendengar petugas rumah sakit yang bilang begini dengan korban. “Bapak diam dulu. Bapak gak bisa diam apa? Kita ini mau merawat,” begitu. Coba kalau kamu yang jadi keluarganya atau orangtuanya atau saudaranya pasien. Karena harus operasi, mereka lepas tangan dan pasien dirujuk ke rumah sakit ini,” papar Satpam Agus.

 

Saya sedikit kecewa dengan keluhan Satpam ini. Seorang perawat, kan seharusnya mengerti, bukan memarahi apalagi membentak apalagi menyruh pasien diam seperti itu. Karena, belum tentu sepenuhnya benar, kan? Lagian saya tidak pernah mengetahui dan merasakan secara langsung bagaimana pelayanan di RS Daerah. Hush, jangan sampai deh. Kalau mendengar cerita dan pengalaman dari kawan-kawan sih, sering. Termasuk juga menulis beritanya, tapi RS Daerah yang di Banjarbaru lho ya. Saya sering ke RS sekadar menjenguk sahabat sebagai pasien, tapi tidak untuk dirawat menjadi pasien. Alhasil, kembali lagi kepada kita sebagai ladang curhat Si Satpam ini, dan juga orang-orang sekeliling anda sebagai pembaca. Setiap orang pengalamannya beda-beda dong. Kali aja si satpam ini ketiban apes di RS Daerah. Apa betul pelayanan rumah sakit umum daerah separah yang disampaikan satpam ini? Menyesakkan.

 

Tak berapa lama, bapak mertua saya keluar dari pintu lobi dan mendatangi saya bersama satpam. Ternyata kedatangannya dengan alasan yang sama. Maklumlah kami ahli hisab. “Senyaman apa pun di dalam, tetap harus keluar. Demi ini,” katanya seraya menunjuk sebuah kertas+kapas tergulung isi tembakau yang telah akrab dengan kami para lelaki.

 

Singkat saja, obrolan beralih ke pertanyaan satpam ke mertua saya tentang si preman tobat. Seorang tokoh di Mandiangin yang loyal dengan sahabat, tapi jika disakiti bisa menyayat. Untunglah katanya dia sekarang taubat sering berkopiah haji dan shalat. Namanyar Ramli. Saya tak tahu embel-embel dan tetek bengek berjalannya cerita itu saat si satpam bertemu orang yang tepat untuk menyambung pembicaraannya, yakni mertua saya.

 

Saya sudah merasa cukup menghirup udara segar. Lantas minta izin permisi meninggalkan mereka berdua yang sedang asik mengobrol perihal preman tobat. Saya masuk lift meski harus rela pusing. Padahal cuma dari lantai 1 ke lantai 3. Sebetulnya pakai tangga kan lebih menyehatkan! Ya… ya… ya alasannya Cuma satu: MALAS!

 

Sampai dalam kamar, ternyata istri saya sudah tertidur. Tapi itu tidak penting. Saya mengambil perkakas, meng-charge beberapa gadget yang memang sudah lowbat. Membuka laptop dan bersiap menulis. Sebelum saya mulai menulis, suara satpam Agus terdengar dari bawah. Saya buka jendela, dan melihatnya tampak sigap mengatur ambulance bertuliskan RSUD Ratu Zalecha yang sedang parkir di depan IGD bersama petugas parkir yang lain di bawah sana. Saya berdoa dalam hati, semoga pasien yang dirujuk kali ini bukan korban yang sudah hampir mati.

Rayakan HUT Proklamasi, Lanud Syamsudin Noor Datangi 3 Lokasi

Keluarga Besar Lanud Sjamsudin Noor turut memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-68 di Provinsi Kalimantan Selatan dengan mengikuti Upacara Peringatan yang dilaksanakan di Tiga tempat yaitu di Halaman Kantor Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan Banjarmasin, di Lapangan Dr Murdjani Banjarbaru dan di halaman kantor Bupati Kabupaten Banjar Martapura, Sabtu (17/8).

Komandan Lanud Sjamsudin Noor Letkol Pnb Esron SB Sinaga Ssos yang diwakili oleh Kadisops Lanud SAM Mayor Lek Petrus Prihatin S beserta Isteri turut hadir mengikuti upacara HUT Kemerdekaan RI ke-68 yang digelar di halaman kantor Gubernur Kalsel yang bergabung dengan tamu undangan yang terdiri dari pejabat sipil dan militer Muspida tingkat I Propinsi Kalsel, serta para tamu dan undangan dari pejabat Pemerintah Propinsi Kalsel, Veteran, organisasi kemasyarakatan pemuda, partai politik dan lainnya.

Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Gubernur Kalimantan Selatan H.Rudy Ariffin.  Pasukan upacara dari Lanud Sjamsudin Noor bergabung dengan pasukan upacara yang terdiri dari TNI-AD, TNI-AL, POLRI, Instansi sipil dan gabungan pelajar dari kota Banjarmasin.

Upacara dimulai pukul 10.00 WITA diawali pengibaran Bendera Merah Putih dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Provinsi Kalimantan Selatan  beranggotaan pasukan 17, 8 dan prajurit Lanud Sjamsudin Noor sebagai pasukan 45. Selanjutnya pembacaan naskah proklamasi oleh ketua DPRD Propinsi Kalsel.

Pada peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-68 tahun 2013 tingkat Provinsi Kalimantan Selatan, partisipasi prajurit TNI AU selain upacara puncak detik-detik proklamasi sebelumnya juga telah mengikuti berbagai acara pendukung seperti pengukuhan Paskibraka, Upacara Renungan Suci, Upacara Sarinande dan gelar senja.

Pohon Tumbang, Warga Tutup Jala

???????????????????????????????Tak ada angin meski hanya hujan, sebuah pohon besar yang terletak di Jl Rahayu, RT 18, Kelurahan Sungai Paring, Kecamatan Martapura Kota, Kabupaten Banjar, tumbang. Pohon besar tersebut menghalangi jalan dan menggangu lalu lintas sehingga warga setempat terpaksa harus menutup jalan.

Salah seorang warga setempat yang menyaksikan periswtiwa tersebut Karmo (50) menuturkan, sewaktu hujan lebat ia mendengar suara dentuman keras di tengah jalan. Ternyata benar, ujung dari pohon besar yang sudah tua tumbang tersebut mengenai dinding dari ruko diseberangnya. “Pokoknya kejadian itu pas hujan lebat, sekitar pukul 17.00 Wita. Padahal gak ada angin ribut. Tapi memang pohon itu sudah jabuk. Sudah kelihatan cirri-ciri mau tumbang,” bebernya.

Tumbangnya pohon tersembut menghambat lalu lintas dari Jl Sukar Relawan, Banjarbaru menuju Martapura atau sebaliknya dari JL A Yani memasuki Jl Rahayu. Sejumlah pengguna jalan diarahkan untuk memutar di salah satu gang kecil yang tembus di SMP 4 Martapura. Dan juga mengenai kabel telepon yang melintang di jalan tersebut.

Saksi lainnya, Sukarni, mengatakan kondisi pohon memang sudah miring menjorok ke jalanan. Samapi berita ini ditulis pohon tersebut dievakuasi warga dengan memotongnya menggunakan mesin senso sebelum ada dari intansi yang berwenang mengatasinya. Tak ada kerugian berarti dalam persitiwa ini, namun kerugian lalu lintas diperkirakan membuat pengguna jalan memutar semakin jauh.

Ahbabul Mustofa Juara Umum

Para Pemenang Ketika Berfoto Bersama

Para Pemenang Ketika Berfoto Bersama

Penutupan Seleksi Semarak Maulid Habsyi Partai Golkar se Kota Banjarbaru 1434 Hijriyah diselenggarakan Kamis, (14/2), di Gedung Bina Satria Banjarbaru, kemarin malam.

Lomba yang dimulai sejak hari Selasa, (12/2) telah menampilkan setidaknya 15 grup maulid dari tiap-tiap kecamatan di Kota Banjarbaru. Penampilan membuat Euphoria masyarakat yang begitu antusias menyaksikan kebolehan para peserta. Sehingga atmosphir hysteria dengan performa grup yang begitu unik menyajikan pukulan-pukulan dan variasi saat melafalkan syair-syair shalwat kepada baginda Rasulullah SAW.

Arie berharap perwakilan pemenang dari Kota Banjarbaru bisa tampil memukai di semarak maulid Partai Golkar di tingkat Provinsi nantinya. Dan siapa tahu bisa menang di tingkat provinsi. Jeda waktu para juri bersidang juga sempat diisi dengan hiburan Madihin oleh Muhammad yang masih berumur 8 tahun.

Penampilan Salah Satu Grup Maulid Habsyi

Penampilan Salah Satu Grup Maulid Habsyi

Ketua DPD Partai Golkar Kota Banjarbaru Drs Arie Sophian Msi Ketua Dewan Pemenangan Pemilu partai Golkar Tingkat II Wilayah Banjarbaru Martapura Iwansyah Ismail mengatakan, gelaran rutin tersebut kali ketiga Dilaksanakan. “Kita berusaha untuk turut membantu upaya pendidikan kepada generasi muda khususnya yang bernuansa islami. Jadi intinya apa Partai Golkar lakukan adalah membina generasi muda di daerah ini,” ujarnya ketika memberikan sambutan.

Dikatakan Arie, siapa pun yang menjadi juara tidak dipersoalkan. Namun yang memang tidak memperoleh predikat juara diharapkan di tahun mendatang bisa mencoba kembali meraih gelar juara. “Serta mohon dukungan agar lomba ini terus bisa kita selenggarakan tiap tahunnya,” ujar Arie.

Para Penonton

Para Penonton

Selain itu, ia juga mengingatkan aagar para peserta tetap teguh berpegang pada aturan yang sudah ditetapkan panitia. Sebab peraturan itu pula yang menjadi dasar saat kembali bertandang di perlombaan tingkat provinsi.

“Kepada semua pembina grup masing-masing, kita mengharapkan agar peserta di tahun-tahun yang akan datang jangan sampai ikut di dua tempat. Atau yang sudah pernah juara kita ingin supaya memberi kesempatan ke grup yang lain supya pembinaan ini bisa dirasakan semua kader maulid habsyi di seluruh Kota Banjarbaru,” tuturnya.

Dari 15 grup yang bertandang maka diputuskan oleh dewan juri ada 8 grup yang memperoleh gelar. Kategori Putri Juara I, II, II, dan harapan I. Begitu pula kategori Putra Juara I, II, III, dan harapan I. Maka dari itu, 7 grup tersisa yang tidak memperoleh gelar juara masing-masing diberikan tambahan uang transport secara pribadi oleh Ketua DPRD Kota Banjarbaru Arie Sophian sebesar Rp 200 ribu per grup.

Salah Satu juri Ustadzah Nurul Latifah

Salah Satu juri Ustadzah Nurul LatifahPara Penonton

“Terlebih dalam penampilannya para peserta hampir 90% memakai busana kombinasi kuning. Maka dari itu pula saya berikan penghargaan kepada 7 grup yang tidak mendapat juara diberikan uang transport khusus. Ini sebagai sebagai tali ikatan Partai Golkar dengan masyarakat,” pungkasnya.

Penyerahan hadiah berupa trophy kepada grup pemenang Putra oleh Ketua Dewan Pemenangan Pemilu Parta Golkar Tingkat II Iwansyah Ismail dan penyerahan hadiah putri diserahkan oleh Ketua DPD Partai Golkar Kota Banjarbaru Arie Sophian. Para pemenang dinilai oleh 4 orang juri Yakni H Adnan Nawawi (Koordinator), Muhammad Rusli, Ustadz Muhammad, dan Ustadzah Hj Nurul Latifah.

Kategori Putra

Juara I Ahbabul Mustofa dari Kecamatan Liang Anggang

Juara II Al Munsighar dari Kecamatan Liang Anggang

Juara III Fathul Mubarak dari Kecamatan Banjarbaru Utara

Juara Harapan I Al Mubarokah dari Kecamatan Liang Anggang

Kategori Putri

Juara I Al Quzman dari Kecamatan Cempaka

Juara III, Zamratulmina dari Kecamatan Banjarbaru Selatan

Juara Harapan I Nurul Iman dari Kecamatan Banjarbaru Utara

Madihin Cilik

Madihin Cilik

 

ananda_penampilan dari beberapa orang penontonananda_penampilan salah satu grup2ananda_penampilan salah satu grup3ananda_pernampilan salah satu grup ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ananda_penampilan salah satu grup9 ananda_penampilan salah satu grup8 ananda_penampilan salah satu grup7 ananda_penampilan salah satu grup4

Ruislag SDN Sungai Besar 1 Menunggu Persetujuan

Carut marut persoalan ruislag SDN Sungai Besari 1 tampaknya sudah mulai menemukan titik terang. Pasalanya, pihak manajemen Q Mall Banjarbaru telah melakukan ekspose lokasi sebagai alternatif Pemko untuk mengalihkan aset tersebut. Manajer Direktur Q Mall Banjarbaru Wahyu Utomo kepada sejumlah wartawan mengatakan, pihaknya telah merencanakan dua lokasi yang berkemungkinan sebagai pengganti lahan dan bangunan sekolahan SDN Sungai Besar 1 nantinya.

“Kita tawarkan dua lahan yaitu di sekitar wilayah Batas Kota Gg Petai yang berjarak kurang lebih 700 meter dari Jl A Yani dan juga di samping Jl Mistar Cokrokusumo dekat jembatan sungai Kemuning Banjarbaru,” ujarnya Kamis, (14/2), kemarin.

Dijelaskan Wahyu, kedua lahan tersebut sebagai alternatid yang ideal bagi bangunan sekolahan berukuran 3000 meter persegi. Pihaknya memberikan kewenangan kepada Pemko Banjarbaru untuk memilih.

Ruislag SDN Sungai Besar 1 tersebut melibatkan Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru, Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Aset Daerah (DPPKAD) serta Bagian Hukum.

Ketidak idealan posisi bangunan sekolah di samping mall serta kebisingan yang ditimbulkan akibat berada persis di pinggir jl besar sepert A Yani dinilai Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru Ahmadi Arsyad sebagai alasan utama di pindah. “Kemudian dari sisi luasan lahan juga sudah tak ideal untuk sekolahan. Apalagi proses pembangunan dan pengembangan mall pasti mengganggu proses belajar mengajar dengan kebisingan bunyi-bunyian mesin dan lain sebagainya,” papar Ahmadi.

Bahkan sebelumnya sempat tersiar kabar ada 3 alternatif yang akan menjadi tempat baru para siswa SDN Sungai Besar 1 itu mengenyam pendidikan. Yaitu di perbatasan antara Banjarbaru dan Martapura dengan luasan lebih dari 3.000 meter persegi.

Di sisi lain, Ketua Tim Ruislag SDN Sei Besar 1 yang juga Sekda Kota Banjarbaru Dr Syahriani Syahran menilai, setiap lahan punya kelebihan dan kelemahan untuk dijadikan lokasi sekolahan. “Kita masih pertimbangkan ini agar terlaksana sesuai dengan yang diharapkan. Yang jelas lokasi sekolah yang baru tidak bisa diterima oleh komite sekolah juga jarak yang tidak terlalu jauh dari lokasi yang terdahulu agar tidak membebani para orang tua atau guru yang sudah terlanjur bermukim di sekitar sekolahan itu,” paparnya.

Ia mengatakan, ahli waris tanah SDN Sei Besar 1 tidak mempersoalkan jika lahan tersebut dialihkan dan tetap dipergunakan sebagai lokasi bangunan pendidikan. Kajian tersebut katanya segera akan dilaporkan ke Walikota dan anggota Dewan guna persetujuan. “Jika persetujuan sudah didapat maka dalam jangka waktu dekat minimal pekan di depan pihak tim penaksir harga atau appraisal independen bisa mulai menentukan. Sedangkan untuk desain bangunan kita serahkan langsung kepada manajemen Q-Mall Banjarbaru,” pungkasnya.

Hotel Rodhita Banjarbaru Diresmikan

OHotel Rodhita Banjarbaru yang berbintang tiga terletak di Jl A Yani km 36 akhirnya diresmikan langsung oleh Walikota Banjarbaru HM Ruzaidin Noor, Rabu, (9/1), di Kortensia Ballroom lantai 4, kemarin sore.

Direktur Utama Hotel Rodhita Banjarbaru Dr Hj Rosali Gunawan didampingi General Manager Nurul Fahmi mengatkan, hotel yang mulai berproses dari tahun 2009 di atas lahan seluas 500 m2 diharapkan bisa memacu perkembangan potensi di Banjarbaru. “Dan lebih utama lagi diharapkan mampu menjadi lapangan kerja bagi masyarkat Kota Banjarbaru,” ujarnya kepada sejumlah wartawan.

Hotel Rodhita, katanya, hotel ke delapan yang berbintang di Kota Banjarbaru. “Total keseluruah ada 83 kamar dengan 5 kelas yang berbeda. Tentunya perkembangan hotel bisa menghasilkan sumber PAD pajak bagi Kota. Dan ini semakin memberikan pilihan kepada wisatawan yang datang ke Banjarbaru,” tambahnya.

Acara persemian juga diisi hiburan oleh penyanyi religi asal Martapura dan madihin oleh John Tralala beserta Hendra. Dalam acara itu juga pihak hotel memberkian bantuan ke salah satu yayasan sosial. “Saat ini sudah ada 85 karyawan. Yang dibutuhkan 140 karyawan. Nah, maka dari kekurangan itu kita membuka lowongan kerja selebarnya untuk mereka yang berminat,” pungkasnya.